kehamilan

Obat-obatan yang Disarankan Nggak Dikonsumsi Saat Hamil

Melly Febrida Sabtu, 03 Feb 2018 08:01 WIB
Obat-obatan yang Disarankan Nggak Dikonsumsi Saat Hamil
Jakarta - Kalau sedang hamil memang jadi banyak pertimbangan ya. Misalnya saat mau minum obat. Soalnya nggak semua obat boleh dikonsumsi ibu hamil.

Nah, dikutip dari berbagai sumber, berikut ini beberapa obat yang nggak disarankan buat ibu hamil:

1. Ibuprofen


Obat yang mengandung ibuprofen nggak disarankan diminum ibu hamil, terutama bila dikonsumsi di akhir kehamilan (30 minggu terakhir), Bun. Alasannya, ibuprofen ditengarai bisa menyebabkan menutupnya jalan penting di jantung janin.

"Bagian itu perlu tetap terbuka saat bayi masih berada di dalam rahim dan dimaksudkan untuk menutup segera setelah lahir," kata Kelly Kasper, MD, obgyn dan profesor klinis asosiasi di Indiana University School of Medicine. Demikian dikutip dari gbtribune.

Nah, penutupan terlalu dini di bagian tersebut bisa menyebabkan kerusakan jantung dan paru-paru, bahkan kematian janin.

2. Naproxen

Naproxen juga disebut berbagai kalangan perlu dihindari selama kehamilan. Apalagi saat diminum di akhir kehamilan, karena bisa berbahaya menurunkan aliran darah ke janin.

3. Aspirin

Seperti ibuprofen dan naproxen, aspirin juga perlu dihindari selama kehamilan. Minum aspirin selama kehamilan ditengarai bisa mengakibatkan gangguan aliran darah janin. Akibatnya bisa membahayakan kehidupan janin.

4. Obat Jerawat

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), obat-obatan serupa retinoid seperti dalam obat jerawat menyebabkan tingginya jumlah cacat lahir, termasuk adanya cairan di otak janin, dismorphisme wajah, cacat intelektual, cacat jantung, dan bibir sumbing.

5. Obat Antijamur

Dalam sebuah penelitian di Denmark menyebut penggunaan obat antijamur tertentu yang digunakan untuk mengobati infeksi ragi pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko aborsi spontan.

6. Antibiotik Tertentu

Jangan sembarangan minum antibiotik ya, Bun, terutama saat hamil. Kalaupun harus mengonsumsi antibiotik, maka harus sesuai resep dokter.

Soalnya menurut Mayo Clinic, antibiotik tertentu dapat mempengaruhi perkembangan gigi janin kelak, sehingga tidak boleh diminum selama minggu ke-15 kehamilan.

7. Antihistamin

Antihistamin banyak ditemukan pada berbagai obat bebas. Antihistamin mungkin tidak seaman yang diperkirakan semula, tapi menurut Parents, ada laporan ibu hamil yang memakai antihistamin untuk mengatasi morning sickness-nya yang parah, lebih mungkin mengalami kelahiran prematur, kelak bayi lahir dengan berat rendah, masalah pernapasan pada bayi, masalah infeksi, dan masalah perkembangan.

7. Obat Tidur

Tidur bisa menjadi lebih sulit saat hamil, tapi hati-hati kalau kita minum obat tidur saat hamil, Bun. Soalnya obat tidur ditengarai menyebabkan risiko perkembangan otak yang sama dengan konsumsi obat keras dan alkohol. Keterlambatan mental, ADHD dan ketidakmampuan belajar lainnya juga ditengarai bisa dialami bayi yang ibunya sering minum obat tidur saat hamil.

8. Obat Migrain

Obat lain yang menyebabkan cacat lahir yang serius adalah Topamax. Pasien yang mengalami migrain dan / atau serangan epilepsi tidak boleh minum obat ini. Tolong beritahu dokter Anda jika Anda hamil atau mungkin hamil dan hindari resep Topamax.

Risiko Obat

Ibu hamil memang dianjurkan untuk sangat berhati-hati dalam mengonsumsi obat, sebab bisa mempengaruhi pertumbuhan janin yang di kandungnya. Jika tidak benar-benar terpaksa karena sakit, lebih baik ibu hamil menghindari obat-obatan. Yang terpenting, kita harus banget konsultasi dulu dengan dokter.

Semua jenis obat-obatan yang digunakan dokter juga memiliki kategori tertentu berdasarkan tingkat keamanannya bagi ibu hamil. Beberapa jenis obat dikategorikan sebagai teratogen, yakni zat yang jika dikonsumsi ibu hamil bisa memicu kecacatan pada janin.

"Ada kategori obat ABCDE dan X, untuk antibiotik turunan amoxicillin itu aman digunakan," jelas dr M Nurhadi Rahman, SpOG dari RS Dr Sardjito Yogyakarta saat dihubungi detikHealth.

Bukan hanya jenis obat, Bun, cara pemberiannya juga harus diperhitungkan demi keamanan janin dalam kandungan. Untuk keputihan misalnya, lebih aman menggunakan obat yang bersentuhan langsung ke vagina daripada obat yang diminum.

Mengenai jamu dan obat tradisional lainnya, dr Nurhadi menyarankan sebaiknya hanya mengonsumsi produk yang sudah mendapat sertifikasi Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan). Dalam sertifikasinya, BPOM akan mencantumkan apakah suatu produk obat tradisional aman bagi ibu hamil.

"Kalau beli di jalan atau yang tidak bersertifikasi, walaupun herbal kita tidak pernah tahu komposisi yang digunakan aman atau tidak. Jadi, sebaiknya dihindari saja," pesan dr Nurhadi (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi