kehamilan

Ini tentang Program Bayi Tabung dan Prosedurnya di Indonesia

Asri Ediyati Minggu, 26 Aug 2018 17:00 WIB
Ini tentang Program Bayi Tabung dan Prosedurnya di Indonesia
Jakarta - Program bayi tabung adalah teknologi reproduksi dengan cara mengawinkan sperma dengan sel telur yang keseluruhan prosesnya dilakukan di luar tubuh manusia. Nah, di Indonesia sendiri bagaimana pelaksanaan program bayi tabung ini?

Sebelumnya kita perlu tahu nih, Bun. Perkawinan dan pengondisian sel sperma dengan sel telur dilakukan menggunakan media kultur di Laboratorium Embriologi. Terkait program bayi tabung, dr Ivan Sini SpOG dari Klinik Morula IVF Indonesia bilang anak yang pertama kali lahir dari bayi tabung sudah 40 tahun.

Artinya sudah 40 tahun program bayi tabung berjalan. Perkembangannya pun sangat pesat yakni sudah 6,5 juta anak yang lahir lewat bayi tabung di dunia. Sementara itu, di Indonesia program bayi tabung sudah dilakukan lebih dari 20 tahun.


"Makin ke sini animo semakin besar, pengobatan untuk pasangan yang kesulitan punya anak agar bisa tertolong. Di Indonesia sudah 3.068 bayi yang dilahirkan dari bayi tabung," tutur dr Ivan di acara Temu Media Morula IVF Indonesia di Madame Delima, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Kata dr Ivan, anak-anak yang lahir melalui program bayi tabung sama kondisinya secara fisik dan mental dengan anak yang lahir dengan konsepsi natural. Ada pun prosedur bayi tabung cukup panjang. Pertama adalah pemilihan telur dan sperma yang baik kemudian pertemuan sperma dan telur. Selanjutnya sel telur dan sperma diinkubasi selama lima hari. Jika berhasil sel telur dan sperma bakal jadi embrio dan siap diimplantasikan ke rahim ibu.

Ini tentang Program Bayi Tabung dan Prosedurnya di IndonesiaIni tentang Program Bayi Tabung dan Prosedurnya di Indonesia/ Foto: thinkstock



Nah, berikut penjabaran empat langkah proses bayi tabung, Bun:

1. PESA dan TESE

Mungkin namanya agak aneh ya, Bun. PESA merupakan singkatan dari Percutaneous Epidiydimial Sperm Aspiration. Sedangkan TESE adalah Testicular Sperm Extraction, prosedur ini dilakukan jika suami nggak memiliki banyak sperma dari ejakulat. Menurut Prof Arief Boediono PhD, ahli embriologi dari Morula IVF Indonesia, WHO menetapkan dalam satu mililiter ejakulat mengandung 15 juta sel sperma di dalamnya. Nah, jika sperma suami kurang dari itu maka bisa melakukan prosedur ini.

"Kalau PESA, spermanya diambil dari epididimis sedangkan TESE dari testikel," kata Prof Arief.

2. IMSI

IMSI merupakan singkatan dari Intra Morphologically Selected Sperm Injection. Dalam prosedur ini, sperma akan dipilih-pilih lagi mana yang layak untuk dimasukkan ke sel telur. Kata Prof Arief, sel sperma yang kepalanya bolong nggak bisa dimasukkan ke dalam sel telur. Jika dimasukkan maka hasil embrionya kurang baik.

3. ICSI

ICSI adalah Intra Cytoplasmic Sperm Injection, dilakukan bila hasil analisis sperma menunjukkan kualitas dan jumlah sperma sangat minim. Untuk terjadinya konsepsi pada kasus ini dibutuhkan bantuan manusia dengan cara menyuntikkan satu sel sperma ke dalam satu sel telur.

4. Inkubasi

Inkubasi dilaksankan selama beberapa hari untuk memantau terjadinya pembuahan normal hingga membentuk embrio yang kemudian ditanamkan ke rahim. Biasanya inkubasi dilakukan tiga sampai lima hari setelah prosedur pengambilan sel telur dilakukan.

5. Preimplantation Genetic Screening

Yaitu skrining embrio sekaligus mengetahui kromosom atau materi genetiknya. Embrio yang kromosomnya nggak normal, bisa diambil dengan prosedur biopsi lalu dipantau kromosomnya. Menurut Prof Arief sebenarnya dari situ sudah bisa dilihat jenis kelamin embrio tapi di Indonesia nggak diperbolehkan untuk memilih jenis kelamin.

"Jika sudah cocok dan sehat, disarankan embrio yang ditanam satu saja, kalau embrionya kelebihan bisa dibekukan. Harapannya satu saja tapi sehat. Akan tetapi kebanyakan di Indonesia kalau bisa dua embrio dimasukkan. Memang maksimal dua embrio. Lebih dari itu nggak diizinkan karena untuk keselamatan ibu dan anak," papar Prof Arief.

6. Assisted Hatching

Nah, setelah diskrining apakah embrionya layak untuk ditanam dilakukan assisted hatching. Kenapa melalui prosedur ini? Karena embrio nggak bisa nempel rahim kalau ada zona pellucidanya atau cangkangnya. Jadi embrio memiliki cangkang tapi nggak seperti cangkang telur ayam yang keras. Nah, dengan assisted hatcing, zona pellucidanya akan dihilangkan supaya langsung bisa ditanam di rahim.

(aci/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi