Sign Up search

kehamilan

Bunda, Kenali Gejala Infeksi yang Terjadi Setelah Operasi Caesar

Muhayati Faridatun Minggu, 13 Jan 2019 07:10 WIB
Bunda, Kenali Gejala Infeksi yang Terjadi Setelah Operasi Caesar
Jakarta - Infeksi merupakan salah satu risiko yang kemungkinan Bunda alami setelah melahirkan lewat operasi caesar. Seperti dilansir Health Line, biasanya infeksi tersebut disebabkan karena bakteri di area sayatan bedah.

Tanda-tanda umum yang mungkin Bunda rasakan kalau terjadi infeksi antara lain demam (38 - 39 derajat Celcius), sensitivitas luka, kemerahan dan pembengkakan di lokasi sayatan dan nyeri perut bagian bawah.

Berdasarkan penelitian, sekitar satu dari 12 perempuan mengalami infeksi setelah menjalani operasi caesar. Biasanya, sebelum operasi, Bunda akan diberi antibiotik dosis tunggal untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi.



Dikutip dari Baby Center, berikut tiga infeksi utama yang bisa terjadi setelah operasi caesar:

1. Infeksi pada luka yang gejalanya meliputi kemerahan dan keputihan, atau nyeri luka makin memburuk. Ini kemungkinan terjadi kalau Bunda mengidap diabetes, bisa juga karena obesitas atau kelebihan berat badan.

2. Infeksi pada lapisan rahim yang disebut endometritis. Gejalanya antara lain perdarahan hebat, perdarahan tidak teratur, keluar bau, serta demam setelah melahirkan.

3. Infeksi saluran kemih akibat kateterisasi (dimasukannya tabung tipis untuk mengosongkan kandung kemih). Gejalanya antara lain rasa sakit di perut atau pangkal paha, suhu tubuh tinggi, kedinginan dan merasa kebingungan. Kateter biasanya dimasukkan selama operasi dan baru dilepas setidaknya setelah 12 jam atau saat Bunda sudah bisa berjalan.

Sayatan bekas operasi caesar/ Sayatan bekas operasi caesar/ Foto: iStock
Untuk mengurangi risiko infeksi, baiknya Bunda ketahui penyebabnya seperti dipaparkan Health Line berikut ini:

1. Obesitas atau kegemukan.
2. Diabetes, gangguan imun seperti HIV.
3. Korioamnionitis (infeksi cairan ketuban dan membran janin) saat persalinan.
4. Mengambil steroid jangka panjang (lewat mulut atau intravena).
5. Perawatan yang buruk setelah operasi (kurangnya kunjungan dokter).
6. Akibat kelahiran caesar sebelumnya.
7. Kurangnya antibiotik atau perawatan antimikroba sebelum disayat.
8. Persalinan atau operasi yang terlalu lama.
9. Kehilangan darah berlebihan selama persalinan.

Menurut studi yang diterbitkan dalam South African Medical Journal pada 2012, perempuan yang memiliki jahitan nilon setelah melahirkan caesar memiliki kemungkinan mengalami infeksi. Begitu juga dengan jahitan staples. Jahitan yang terbuat dari poliglikolida (PGA) biasanya lebih disukai karena mudah diserap dan terurai secara alami.


Dikutip dari detikcom, seorang suami merasa khawatir karena sang istri mengalami infeksi setelah melahirkan anak kedua lewat operasi caesar. Ia mengatakan, operasi kedua ini sayatannya vertikal sama seperti yang pertama.

Untuk menghindari keloid, sang istri menggunakan obat antikeloid yang disarankan dokter. Tapi ternyata, muncul luka baru dan mengeluarkan cairan bening dan kadang bercampur darah. Setelah konsultasi dengan dokter, sang istri dinyatakan kekurangan protein dan penggunaan antikeloid dihentikan.

Sang istri pun dianjurkan untuk mengonsumsi telur minimal tiga butir per hari atau 300 gram daging setiap hari. Namun setelah itu, luka baru justru muncul lagi. Apakah ini yang disebut infeksi?

Dokter spesialis bedah plastik yang saat ini praktik di RS Medistra Jakarta, dr Vera Ikasari, Sp.BP, menjelaskan bahwa proses penyembuhan luka operasi umumnya bisa sampai enam bulan. Tapi menurut dia, dalam kasus ini, penutupan jaringan bekas luka operasi dapat tertunda karena kadar albumin atau protein yang rendah dalam darah.

"Penggunaan serbuk bubuk biasanya apabila terdapat infeksi. Oleh karena itu, harus diketahui apakah memang terjadi infeksi pada luka operasi tersebut, adakah kemerahan pada jaringan tersebut, bagaimana kondisi sekitar luka operasi apakah keras, lunak atau kistik. Bagaimana produksi cairan tersebut berkurang, tetap atau bertambah? Harus dinilai apakah cairan yang keluar adalah cairan limfa atau hanya serum saja," terang Vera.

Ia menambahkan, infeksi lokal belum tentu membuat badan menjadi demam. Menurutnya, kadar albumin setelah 2,5 bulan mengonsumsi putih telur tiga butir sehari juga harus dicek. Lalu, adakah peningkatan kadar albumin tersebut? Vera pun menyarankan agar berkonsultasi ke dokter bedah plastik untuk dilakukan penilaian terhadap proses penyembuhan luka operasi tersebut.

(muf/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi