kehamilan

Kontroversi Reimplantasi di Kehamilan Ektopik, Bisa Selamatkan Janin?

Annisa Karnesyia Kamis, 05 Dec 2019 07:00 WIB
Kontroversi Reimplantasi di Kehamilan Ektopik, Bisa Selamatkan Janin? Ilustrasi test pack/ Foto: shutterstock
Jakarta - Kehamilan ektopik adalah kondisi tidak normal yang sering disebut hamil di luar rahim. Pada kondisi ini, sel telur biasanya menempel di tuba fallopi, bukannya di rahim.

Lalu muncul pertanyaan, apakah sel telur bisa diselamatkan dan dipindahkan dari tuba fallopi ke rahim? Bisakah dilakukan dengan cara reimplantasi?


Selama beberapa tahun terakhir, negara bagian Amerika Serikat, Ohio mempertimbangkan untuk membuat RUU aborsi. Dikutip dari The Guardian, ketentuan ini termasuk peraturan yang mengharuskan dokter melakukan reimplantasi janin pada kehamilan ektopik.


Prosedur ini dilakukan dengan memindahkan sel telur dari tuba fallopi ke rahim. Jika tidak dilakukan dan tetap mengeluarkan janin yang masih di tuba fallopi, dokter dianggap melakukan aborsi.

Padahal prosedur ini tidak ada dalam ilmu kedokteran, Bun. Dr.Chris Zahn, wakil presiden dari bagian praktik di American College of Obstetricians and Gynaecologists mengatakan, secara fisiologis, reimplantasi tidak mungkin dilakukan dan berisiko.

"Tidak ada prosedur untuk melakukannya pada kehamilan ektopik. Tidak mungkin memindahkan kehamilan ektopik dari tuba fallopi atau tempat lainnya, lalu di implantasi ke rahim," kata Zahn.

"Wanita dengan kehamilan ektopik berisiko untuk mengalami pendarahan dan kematian. Mengobatinya tentu dapat menyelamatkan hidup seorang ibu," sambungnya.

Ilustrasi kehamilanIlustrasi kehamilan/ Foto: iStock

Kehamilan ektopik adalah kondisi yang mengancam jiwa dan dapat membunuh seorang wanita. Sebab, jaringan embrionik tumbuh tak terkendali, Bun.

Dilansir Lifehacker, jika sel telur atau embrio tetap dibiarkan di tuba fallopi, nantinya organ ini akan pecah dan menyebabkan pendarahan internal yang mengancam jiwa. Bentuk tuba fallopi seperti spageti, sehingga bisa pecah atau ruptur pada awal kehamilan.

Jika tuba fallopi pecah, tindakan operasi perlu dilakukan untuk menghentikan pendarahan. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, obat seperti metotreksat biasa digunakan untuk menghentikan pembelahan sel. Jika berjalan baik, embrio akan berhenti membelah dan diserap tubuh.

Namun, jika obat tidak bekerja, tindakan selanjutnya adalah pembedahan. Prosedurnya adalah mencoba mengeluarkan embrio dari tuba fallopi atau mengangkat seluruh organ ini.

Tidak ada cara untuk menyelamatkan embrio di tuba fallopi. Pada beberapa kasus memang bisa terjadi dan embrio terus berkembang, namun ini sangat langka.

Dokter biasanya akan melakukan tindakan untuk mengangkat embrio. Setelah itu, tidak ada tempat untuk memindahkannya dan kehamilan dinyatakan selesai.

Kontroversi Reimplantasi di Kehamilan Ektopik, Bisa Selamatkan Janin?

Bunda, simak juga penyebab utama terjadinya preeklampsia di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi