kehamilan

Ibu Hamil Nyaris Keguguran Usai Alami Gatal Luar Biasa di Kulit, Kenapa?

Asri Ediyati Sabtu, 21 Dec 2019 08:31 WIB
Ibu Hamil Nyaris Keguguran Usai Alami Gatal Luar Biasa di Kulit, Kenapa?
Jakarta - Saat hamil, kita berharap semuanya berjalan lancar dan semestinya. Namun, bukan enggak mungkin kita mengalami beberapa masalah bahkan yang serius pun. Seorang ibu asal AS, Ashley Sicher mengalami gatal-gatal saat hamil.

Ia mengalami gatal luar biasa, namun pusat gatalnya tak diketahui. Semuanya bermula pada awal musim semi 2017 lalu. Usia kehamilan Sicher kala itu trimester ketiga. Saat siang hari, ia merasa gatal di telapak tangan dan kaki. Di malam harinya, gatalnya semakin tak tertahankan.


Gatalnya merambat ke tangan dan torso (punggung belakang). Ia terus menggaruk bahkan dengan sisir sampai akhirnya kulitnya luka. Padahal Sicher tak punya ruam, dokter kandungannya saat itu meyakinkannya bahwa itu gejala kehamilan yang normal. Namun, apa yang dirasakan bukan seperti gatal pada umumnya, secara psikologis sangat mengganggu.


"Rasanya seperti permukaan kulit bawahmu terbakar, dengan sengatan lebah di bagian atas," kata Sicher dilansir The Washington Post.

Pada pagi harinya, Sicher berusaha mencari jawaban dari gejala yang ia rasakan lewat Google. Saat menemukan, ia kaget bukan main. Ia langsung membangunkan suaminya sambil menangis.

"Bayinya akan mati," kata Sicher.
ilustrasi ibu hamililustrasi ibu hamil/ Foto: thinkstock

Apa yang ditemukan Sicher adalah sebuah blog "Pregnant Chicken". Ada sebuah arsip di blog tersebut tentang hal-hal yang 'menakutkan' seputar persalinan. Ia menemukan sebuah artikel memperingatkan pembaca tentang penyakit yang berhubungan dengan kehamilan yang ditandai dengan tangan dan kaki yang gatal.

Tetapi yang menarik perhatian Sicher dan memicu kepanikan adalah bagian yang mengatakan 'dapat menggugurkan bayi'. Lalu ada lagi risiko lainnya seperti persalinan prematur dan bayi lahir mati.

Sicher mengalami gejala kolestasis kehamilan intrahepatik (ICP). Suatu kelainan yang memengaruhi hati seorang wanita hamil, menghentikannya dari memproses empedu dengan benar, yang diperlukan untuk pencernaan. Selain rasa gatal yang tak tertahankan, ICP dapat menyebabkan lingkungan beracun di dalam rahim yang dapat membahayakan bayi yang sedang tumbuh.

Penyebab ICP tidak diketahui, meskipun mungkin ada komponen genetik dalam beberapa kasus. Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 persen kehamilan, menurut Pusat Informasi Penyakit Genetik dan Langka dari National Institutes of Health.

Risiko lebih tinggi pada wanita Latin dan wanita keturunan Skandinavia. Untuk wanita yang pernah mengalami ICP dalam satu kehamilan, risiko untuk mendapatkannya lagi pada kehamilan berikutnya adalah 50 hingga 60 persen, menurut Society for Maternal Fetal Medicine.


Memiliki gejala yang tak biasa

ICP memiliki gejala-gejala yang tidak biasa. Maksudnya banyak pasien tak mengetahui alhasil mereka tidak dites atau diobati. Tes dan pengobatannya biasanya mencakup pemantauan bayi dengan cermat, penggunaan obat yang dapat mengurangi aliran asam empedu berbahaya melintasi plasenta, dan persalinan lebih awal.

"Akibatnya, sekitar 15 dari setiap 1.000 kehamilan ICP yang tidak diobati berakhir dengan lahir mati," kata Jonathan Mays, direktur kebidanan dan pengobatan janin pada ibu di New York Metropolitan Hospital Center

ICP didiagnosis melalui dua tes darah yaitu tes fungsi hati dan tes kadar asam empedu. Tes kedua dapat memakan waktu 10 hari untuk menghasilkan hasil, selama itu risiko terhadap bayi dapat meningkat.

Bayi Sicher terus dimonitor untuk pergerakan dan detak jantung sampai tes asam empedu Sicher mengkonfirmasi bahwa dia memang memiliki ICP. Dia kemudian dikirim pulang dengan resep asam ursodeoxycholic untuk meningkatkan aliran asam empedu dan mengurangi rasa gatal.
ilustrasi ibu hamililustrasi ibu hamil/ Foto: Istock

Dokter juga mengatakan mereka akan menginduksi bayinya pada 37 minggu, karena setelah titik itu kemungkinan kelahiran mati meningkat drastis bagi wanita dengan ICP. Hal ini bisa jadi karena kerusakan pada plasenta, yang bertindak sebagai filter untuk racun berbahaya.

Beberapa dokter bahkan mendorong untuk diinduksi pada 36 minggu dalam kasus ICP, meskipun ini dapat meningkatkan risiko masalah prematur.

Empat hari setelah Sicher meninggalkan rumah sakit. Pada 36 minggu, bayinya gagal dalam tes non-stres yang mengukur respons detak jantung janin terhadap pergerakan. Dokter kandungannya menyuruhnya makan permen dan minum air dingin, yang sering menyebabkan bayi menendang dan bergerak.

"Mereka terus masuk, menatap monitor dan kembali keluar. Dia tidak bergerak," kata Sicher.


Sicher segera diinduksi. Ia berhasil melahirkan bayi perempuan yang bernama Adaline Sicher. Namun, si kecil harus dirawat di unit perawatan intensif neonatal karena mengalami bilirubinnya tinggi. Untungnya, Adaline tidak memiliki komplikasi.

Setelah sekitar satu minggu, Sicher dan bayinya pulang. Gatal Sicher tak lama mereda setelah melahirkan. Jika Bunda merasa mengalami gejala serupa, Bunda perlu ke dokter kandungan untuk konsultasikan dan cari tahu penyebabnya.

Simak juga video tentang penyebab kaki bengkak pada ibu hamil:

[Gambas:Video Haibunda]

(aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi