KEHAMILAN
Mengenal Depresi Perinatal yang Jadi Pemicu Utama Depresi Postpartum
Dwi Indah Nurcahyani | HaiBunda
Minggu, 12 Oct 2025 12:50 WIBKehamilan dan pasca persalinan memang menjadi masa-masa rawan bagi para ibu di mana ancaman depresi kerap menghampiri. Yuk, mengenal depresi perinatal yang jadi pemicu utama depresi postpartum.
Depresi perinatal mungkin tidak terlalu familiar didengar. Padahal, risiko ini termasuk serius karena dapat mengganggu kenyamanan hidup seorang perempuan.
Apa itu depresi perinatal?
Depresi perinatal merupakan depresi yang terjadi selama kehamilan atau setelah melahirkan. Penggunaan istilah perinatal ini mengakui bahwa depresi ini berkaitan dengan memiliki bayi sering kali dimulai selama kehamilan.
Walau belum terlalu banyak perempuan mengenal istilah ini, depresi perinatal sebenarnya menjadi penyakit medis yang serius. Tetapi, Bunda tak perlu khawatir karena gangguan ini dapat diobati. Meskipun demikian, risiko depresi perinatal tetap perlu diwaspadai karena bisa membuat perasaan sedih yang ekstrem, kecemasan, serta perubahan energi, tidur, dan nafsu makan.
Selain itu, depresi ini juga membawa risiko pada bayi dan juga ibu. Diperkirakan satu dari tujuh perempuan mengalami depresi perinatal, seperti dikutip dari laman Psychiatry.
Bagi sebagian besar ibu hamil dan pasca persalinan, memiliki bayi memang masa yang sangat membahagiakan meskipun ada juga kemunculan perasaan cemas di tengah-tengah kebahagiaan tersebut.
Namun, bagi para penderita depresi perinatal, hal tersebut bisa menjadi sangat menyusahkan dan sulit dilalui. Apalagi, masa-masa kehamilan dan pasca persalinan menjadi periode yang sangat rentan terhadap kondisi ini para ibu sering kali mengalami perubahan biologis, emosional, finansial, dan sosial. Bahkan, beberapa orang dapat berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental, terutama depresi dan kecemasan.
Bukan sekadar baby blues
Hingga 85 persen dari seluruh ibu baru kerap mengalami serangan baby blues yakni suatu kondisi yang berlangsung singkat dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari serta tidak memerlukan perawatan medis. Namun, kondisi emosional ini dapat berubah menjadi kondisi menangis tanpa alasan, mudah tersinggung, gelisah, dan cemas. Gejala-gejala ini akan berlangsung selama satu atau dua minggu dan umumnya hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Penting Bunda tahu bahwa baby blues dan depresi perinatal berbeda satu sama lain. Karena, kondisi depresi perinatal melemahkan secara emosional dan fisik serta dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih. Dan, penting untuk segera mendapatkan pengobatan baik untuk ibu dan anak.
Dampak pada ibu dan bayi
Depresi perinatal yang tidak ditangani dengan serius tidak hanya menjadi masalah bagi kesehatan dan mengganggu kualitas hidup individu, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan bayi yang lahir prematur dengan berat badan lahir rendah.
Selain itu, depresi perinatal juga dapat menyebabkan masalah bonding antara ibu dan bayi serta dapat menyebabkan masalah tidur dan makan pada bayi. Bahkan, dalam jangka panjang, anak-anak dari ibu dengan depresi perinatal berisiko lebih tinggi mengalami defisit kognitif, emosional, perkembangan, dan verbal, serta gangguan keterampilan sosial.
Gejala depresi perinatal
Depresi perinatal biasanya disertai gejala-gejala tertentu yang membuat kehidupan jadi kurang nyaman, di antaranya sebagai berikut ya, Bun:
1. Merasa sedih atau mengalami suasana hati yang tertekan
2. Kehilangan minat atau kesenangan dalam beraktivitas
3. Perubahan nafsu makan
4. Sulit tidur atau tidur terlalu banyak
5. Kehilangan energi atau peningkatan kelelahan
6. Peningkatan aktivitas fisik tanpa tujuan
7. Merasa tidak berharga atau bersalah
8. Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, atau membuat keputusan
9. Pikiran tentang kematian atau bunuh diri
10. Menangis tanpa alasan
11. Kurangnya minat pada bayi, tidak berasa bonding dengan bayi, atau merasa sangat cemas di sekitar bayi
12. Perasaan menjadi ibu yang buruk
13. Takut menyakiti bayi atau diri sendiri
Seseorang yang mengalami depresi perinatal biasanya memiliki beberapa gejala ini, dan gejala serta tingkat keparahannya dapat berubah. Gejala-gejala ini dapat menyebabkan seseorang yang baru melahirkan merasa terisolasi, bersalah, atau malu. Untuk didiagnosis depresi perinatal, gejalanya harus mulai muncul selama kehamilan atau dalam satu tahun setelah melahirkan.
Banyak orang dengan depresi perinatal juga mengalami gejala kecemasan. Sebuah studi menemukan bahwa hampir dua pertiga orang dengan depresi perinatal juga memiliki gangguan kecemasan. Pada 2023, the U.S. Preventive Services Task Force merekomendasikan skrining kecemasan untuk orang dewasa di bawah 65 tahun, termasuk ibu hamil dan yang baru melahirkan.
Meskipun tidak ada tes diagnostik khusus untuk depresi perinatal, kondisi ini merupakan kondisi medis klinis yang didiagnosis oleh tenaga medis profesional. Depresi perinatal ialah penyakit nyata yang harus ditanggapi secara serius.
Setiap ibu hamil atau orang tua baru yang mengalami gejala depresi perinatal harus berkonsultasi dengan tenaga medis profesional, dokter keluarga atau dokter kandungan, yang dapat merujuk mereka ke psikiater atau tenaga kesehatan mental profesional lainnya.
Pada kondisi tertentu, Bunda juga perlu menghubungi dokter jika mengalami gejala di atas selama lebih dari dua minggu. Atau, Bunda memiliki pikiran untuk bunuh diri atau menyakiti anak, perasaan depresi semakin parah, dan Bunda mengalami kesulitan dengan tugas mengurus bayi, segeralah menemui dokter untuk penanganan lebih lanjut ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
Simak video di bawah ini, Bun:
Jangan Sampai Keliru, Ini 7 Perbedaan Ciri Hamil & Menopause
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Perjuangan Ibu Melahirkan: Dampak Trauma Tersembunyi yang Jarang Dibicarakan
3 Tanda Baby Blues dalam Pandangan Islam
7 Tanda Bunda Alami Baby Blues, Sedih & Mudah Marah Usai Melahirkan
Upaya Poppy Sovia Mencegah Baby Blues Usai Melahirkan
TERPOPULER
Ternyata Anak yang Lahir Bulan September Disebut Lebih Berprestasi dan Panjang Umur, Ini Kata Studi
Ingin Tahu Karakter Seseorang? Coba Lihat Casing HP yang Digunakannya Menurut Psikologi
3 Warna Favorit Orang dengan EQ Tinggi
11 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Pernah Posting Kehidupan Pribadi di Media Sosial
Letak Kista saat Hamil dan Ciri-cirinya yang Perlu Diketahui
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Mini Vacuum Cleaner, Ukuran Kecil tapi Daya Isap Kuat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Waspada Abu Vulkanik, Ini 5 Barang Sebaiknya Dimiliki di Rumah untuk Lindungi Keluarga
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Sandal Jepit Perempuan yang Stylish dan Nyaman untuk Berbagai Aktivitas
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Kompor Portable Terbaik untuk Dapur dan Aktivitas Outdoor
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Wajan untuk Masak Nasi Goreng yang Bagus, Anti Lengket, dan Awet
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
3 Resep Jamur Crispy Tahan Lama, Tetap Kriuk meski Sudah Dingin
Ternyata Anak yang Lahir Bulan September Disebut Lebih Berprestasi dan Panjang Umur, Ini Kata Studi
Ingin Tahu Karakter Seseorang? Coba Lihat Casing HP yang Digunakannya Menurut Psikologi
Letak Kista saat Hamil dan Ciri-cirinya yang Perlu Diketahui
13 Koleksi Gambar Masjid untuk Lomba Mewarnai Anak TK dan SD
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Mau Atasi Stretch Mark? Pilih Perawatan Sesuai Rutinitas
-
Beautynesia
6 Kebiasaan yang Bisa Memicu Rambut Bercabang dan Mudah Patah
-
Female Daily
BLP Beauty Rayakan 1 Dekade Lewat The All-New Face Base dengan Tema “Beauty For Every Version of You”!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Viral Pernikahan bak Pasar Mini, Tamu Bebas Pilih Souvenir Sayur dan Buah
-
Mommies Daily
7 Vitamin dan Mineral untuk Daya Tahan Tubuh saat Musim Pancaroba, Nggak Gampang Sakit!