KEHAMILAN
Gejala Menopause Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Pikun dan Demensia
Melly Febrida | HaiBunda
Sabtu, 03 Jan 2026 14:20 WIBGejala menopause yang sering dikeluhkan itu mood swing maupun hot flashes, dan ternyata bisa berdampak ke kesehatan otak. Gejala menopause bisa meningkatkan Bunda berisiko pikun dan demensia.
Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara gejala menopause dengan risiko menurunnya fungsi kognitif, termasuk pikun hingga demensia. Terutama jika menopause terjadi lebih awal atau disertai gangguan tidur dan suasana hati.
Apa itu menopause dan risikonya?
Menopause adalah kondisi normal yang dialami setiap orang perempuan saat usianya memasuki akhir 40 tahun atau awal 50 tahun. Tapi, ada juga perempuan yang sudah mengalami menopause dini bahkan di usia 30 tahunan.
Menopause dini atau premature menopause pada perempuan dapat terjadi karena penurunan produksi hormon estrogen dan berakhirnya periode haid yang jauh lebih awal. Menopause dini dapat dimulai sebelum usia 40 tahun, dan terkadang bisa terjadi di usia 20-an.
"Menopause dini terkadang disebut insufisiensi ovarium primer karena ovarium berhenti memproduksi hormon estrogen sebagaimana mestinya. Jika Anda berusia 20-an dan mengalami menopause, itu adalah menopause dini," kata Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, Valinda Riggins Nwadike, MD, MPH, dilansir Healthline.
Lantas apa hubungannya menopause dengan risiko kognitif? Zahinoor Ismail, MD, FRCPC, ahli neuropsikiatri dan profesor di Cumming School of Medicine di Universitas Calgary, menjelaskan bahwa menurut studi bahwa perempuan yang mengalami lebih banyak gejala selama menopause kemungkinan menghadapi risiko penurunan kognitif dan gangguan prilaku lebih tinggi.
Temuan, yang dipublikasikan di PLOS One, menunjukkan potensi hubungan antara beban gejala menopause dan risiko demensia.
"Saya pernah melihat seorang pasien di ruang gawat darurat lebih dari 20 tahun yang lalu yang memiliki gejala kognitif dan kejiwaan yang sama sekali tidak masuk akal bagi saya,” kata Ismail dilansir dari laman Contemporaryobgyn.
Saat itu, Ismail memeriksa status menstruasinya dan ternyata perempuan itu mengalami masa perimenopause, yang dikonfirmasi oleh pemeriksaan darah hormonal yang dilakukan langsung di Ruang Gawat Darurat.
"Jadi, alih-alih mengubah obat neuropsikiatri yang menurut saya sudah baik-baik saja, saya memberinya estrogen dan gejalanya hilang sepenuhnya dalam 10 hari berikutnya. Ini adalah hasil yang menakjubkan bagi saya dan terus terngiang di benak saya setelah itu," kata Ismail.
Penelitian kaitan menopause dan penurunan fungsi otak
Studi yang dipimpin para peneliti dari Universitas Calgary, menganalisis data dari 896 perempuan pascamenopause yang terdaftar dalam studi Canadian Platform for Research Online to Investigate Health, Quality of Life, Cognition, Behaviour, Function, and Caregiving in Aging (CAN-PROTECT).
Para peserta, yang rata-rata berusia 64,2 tahun, menyelesaikan penilaian kesehatan kognitif dan perilaku mereka, serta survei tentang gejala menopause. Usia rata-rata onset menopause adalah 49,4 tahun, dengan 74,3 persen peserta melaporkan setidaknya 1 gejala menopause.
Lantas apa hubungannya gejala dan fungsi kognitif? Para peneliti menemukan bahwa perempuan yang melaporkan lebih banyak gejala perimenopause, seperti hot flashes, gangguan tidur, gejala suasana hati, dan kesulitan kognitif, memiliki kinerja kognitif yang lebih buruk, seperti yang ditunjukkan oleh skor Everyday Cognition (ECog-II) yang lebih tinggi (skor rata-rata: 11,1±10,5).
Mereka juga melaporkan lebih banyak gejala gangguan perilaku ringan (MBI), dengan skor MBI-C yang lebih tinggi (skor rata-rata: 5,4±7,6).
Studi ini menggunakan model regresi binomial negatif untuk menilai fungsi kognitif dan menemukan bahwa setiap gejala menopause tambahan dikaitkan dengan skor ECog-II yang 5,37% lebih tinggi, menunjukkan gejala disfungsi kognitif yang lebih konsisten (95 persen CI [2,85, 7,97]; p < 0,001).
Demikian pula, model regresi binomial negatif dengan inflasi nol menunjukkan bahwa setiap gejala tambahan dikaitkan dengan skor MBI-C yang 6,09% lebih tinggi, menunjukkan lebih banyak gejala perilaku (95 persen CI [2,50, 9,80]; p < 0,001).
"Sungguh menakjubkan bahwa ada hubungan antara pengalaman menopause dan perubahan kognisi serta perilaku selanjutnya. Saya merasa hal itu sangat mengejutkan,” kata Ismail.
Ia juga menekankan pentingnya intervensi dini, dengan menyatakan bahwa prang-orang harus tahu bahwa menopause dan penyakit Alzheimer saling terkait. Pertimbangan risiko demensia lebih awal dapat memberikan waktu untuk intervensi pencegahan yang lebih banyak.
Para penulis studi ini menyarankan bahwa hilangnya estradiol pada menopause mungkin merupakan faktor kunci yang menghubungkan gejala menopause dengan penurunan kognitif dan perilaku.
Estradiol diketahui mendukung pembentukan sinapsis dan neurogenesis, yang keduanya menurun pada penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. Studi ini menyoroti perlunya penelitian tambahan untuk mengkonfirmasi temuan ini, idealnya melalui studi longitudinal yang dapat menilai kausalitas lebih lanjut secara efektif.
Studi ini juga menunjukkan perlunya mengelola faktor risiko demensia lainnya, seperti kesehatan pembuluh darah dan peradangan.
"Intervensi ini tidak hanya mencakup penanganan status hormonal, tetapi juga mencakup pengelolaan faktor risiko pembuluh darah, mengurangi peradangan akibat diet Barat dan racun lingkungan, mengoptimalkan kesehatan usus dan keanekaragaman bioma usus, serta mendukung interaksi sosial,” kata Ismail.
Para penulis menyimpulkan bahwa beban gejala menopause yang lebih tinggi dapat menandakan kerentanan terhadap gangguan kognitif dan perubahan perilaku di kemudian hari.
"Beban gejala menopause yang lebih besar mungkin terkait dengan penurunan kognitif dan perilaku yang lebih besar di kemudian hari, keduanya merupakan penanda risiko demensia," demikian pernyataan mereka.
Menurut peneliti, terapi hormon berbasis estrogen dapat membantu mengurangi gejala klinis, terutama gejala perilaku.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Jangan Sampai Keliru, Ini 7 Perbedaan Ciri Hamil & Menopause
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kisah Bunda Mengira Menopause, Ternyata Hamil di Usia 45 Th
Mungkinkah Perempuan yang Alami Menopause Dini Bisa Hamil?
Benarkah Tak Cocok Pakai KB Hormonal Bisa Percepat Menopause? Ini Kata Dokter
Bunda Perlu Tahu, Apa Saja Jenis Penebalan Dinding Rahim
TERPOPULER
Arsy Hermansyah Anak Ashanty Jajal Dunia Akting, Intip Potretnya Syuting Jadi Anak SMP
Ciri Kepribadian Orang Super Kaya Menurut Penelitian
9 Kalimat yang Sering Diucapkan Pasangan Suami Istri dengan EQ Tinggi
Cara Membuat Chili Oil yang Enak ala Restoran, Pedas Gurih untuk Pelengkap Mi hingga Dimsum
5 Zodiak yang Sering Overthinking, Hal Kecil Saja Bisa Dipikirkan Berulang Kali
REKOMENDASI PRODUK
5 Panci Stainless Steel Tebal Serbaguna Terbaik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Minyak Kemiri untuk Bayi yang Bagus dan Aman, Ada Pilihan Bunda?
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Merek Panci Anti Lengket Keramik Bebas PFOA dan PTFE
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Glossy Balm, Bikin Bibir Plumpy dan Tampak Sehat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Panci 3 Susun Stainless Steel yang Bagus dan Berkualitas
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Ciri Kepribadian Orang Super Kaya Menurut Penelitian
Arsy Hermansyah Anak Ashanty Jajal Dunia Akting, Intip Potretnya Syuting Jadi Anak SMP
9 Kalimat yang Sering Diucapkan Pasangan Suami Istri dengan EQ Tinggi
Pangeran Harry & Meghan Markle Pindah ke Inggris, Dua Anaknya akan Sekolah di Sana
Cara Membuat Chili Oil yang Enak ala Restoran, Pedas Gurih untuk Pelengkap Mi hingga Dimsum
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Mager Bawa Banyak Skincare ke Mana-mana? Serum Spray Ini Bisa Gantiin Beberapa Langkah
-
Beautynesia
3 Kalimat yang Sering Diucap Orang Childish dalam Kehidupan Sehari-hari
-
Female Daily
Run for Independence Day 2026: Rayakan Kemerdekaan dengan Lari untuk Gaya Hidup Sehat
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Potret Baby Shark Boy, Bocil Ikonik Dunia Kini Debut Jadi Penyanyi
-
Mommies Daily
Kim Mu-yeol Makin Memesona di Usia 40-an, Ini Alasannya plus Rekomendasi Drama dan Filmnya