Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Semakin Banyak Orang Tua di Korea Berharap Punya Anak Perempuan, Alasannya...

Amrikh Palupi   |   HaiBunda

Rabu, 14 Jan 2026 20:00 WIB

Parents and children eating the sweets they made
Semakin Banyak Orang Tua di Korea Berharap Punya Anak Perempuan, Alasannya.../Foto: Getty Images/iStockphoto/yamasan
Daftar Isi
Jakarta -

Semakin banyak orang tua di Korea berharap punya anak perempuan. Fenomena ini menarik perhatian publik karena bertolak belakang dengan pandangan tradisional masa lalu yang lebih mengutamakan anak laki-laki. Lantas, apa alasan di balik perubahan preferensi ini? 

Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa Korea Selatan kini menjadi negara dengan preferensi anak perempuan tertinggi secara global. Perubahan ini bukan terjadi dalam semalam, melainkan dipengaruhi oleh dinamika sosial, ekonomi, hingga emosional yang berkembang selama beberapa dekade terakhir.

Mengutip laman Globalnation.inquirer, survei Gallup International terhadap 44.783 responden dewasa di 44 negara, yang dilakukan antara Oktober tahun lalu hingga Februari tahun ini, mengajukan satu pertanyaan sederhana namun bermakna besar. “Jika hanya bisa memiliki satu anak, apakah Anda menginginkan anak laki-laki, anak perempuan, atau jenis kelaminnya tidak penting?”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hasilnya cukup mencengangkan. Di Korea Selatan, 28 persen responden menyatakan lebih memilih anak perempuan, hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang menginginkan anak laki-laki (15 persen). Sementara itu, 56 persen responden menyebutkan bahwa jenis kelamin anak tidak menjadi persoalan utama.

Angka ini menempatkan Korea Selatan di peringkat pertama dunia sebagai negara dengan preferensi tertinggi terhadap anak perempuan, mengungguli Jepang, Spanyol, dan Filipina yang masing-masing berada di angka 26 persen.

Preferensi jenis kelamin berbalik dalam 30 tahun

Yang membuat tren ini semakin menarik adalah perubahan ekstrem yang terjadi dalam waktu relatif singkat. Pada survei serupa di tahun 1992, 58 persen orang Korea lebih menginginkan anak laki-laki, sementara hanya 10 persen yang memilih anak perempuan.

Artinya, dalam kurun waktu sekitar tiga dekade, preferensi jenis kelamin di Korea telah berbalik hampir sepenuhnya. Survei lokal juga memperkuat temuan ini. Korea Research pada Juni tahun lalu mencatat bahwa 62 persen dari 1.000 responden setuju setiap keluarga sebaiknya memiliki setidaknya satu anak perempuan, sedangkan hanya 36 persen yang mengatakan hal sama untuk anak laki-laki.

Data kelahiran ikut mencerminkan perubahan

Perubahan sikap masyarakat ini juga tercermin dalam statistik kelahiran nasional. Pada 1990, rasio jenis kelamin saat lahir di Korea mencapai 116,5 anak laki-laki per 100 anak perempuan, angka yang mengindikasikan adanya seleksi jenis kelamin sebelum kelahiran.

Namun pada tahun 2023, angka tersebut turun menjadi 105,1 yang sesuai dengan rasio jenis kelamin alami saat lahir menurut data Statistics Korea. Ini menunjukkan bahwa praktik preferensi ekstrem terhadap anak laki-laki semakin ditinggalkan.

Alasan orang tua Korea lebih menginginkan bayi perempuan

Simak alasannya berikut ini:

1. Dianggap lebih mudah diasuh dan penyayang

Salah satu alasan mengapa orang tua di Korea berharap punya anak perempuan adalah anggapan bahwa anak perempuan lebih mudah diasuh dan lebih peka secara emosional.

Oh Seo-eun (42), ibu dua anak, mengaku merasakan perbedaan signifikan saat membesarkan anak laki-laki dan perempuan. Menurutnya, anak perempuan cenderung tidak terlalu menuntut dan lebih menikmati aktivitas yang tenang saat bepergian. 

“Kalau kami pergi ke taman hiburan, anak laki-laki saya ingin terus naik wahana atau berlarian ke sana kemari, sementara anak perempuan saya menikmati bukan hanya wahana, tetapi juga melihat-lihat mainan di toko suvenir atau duduk di kafe untuk makan es krim. Jadi kalau kami pergi keluar, biasanya suami saya yang menangani anak laki-laki,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa anak laki-laki umumnya memiliki energi lebih tinggi, sehingga membutuhkan pengawasan ekstra dan menguras energi orang tua, terutama ibu. Bahkan, saat anaknya masih bayi, premi asuransi anak laki-lakinya lebih mahal dibandingkan anak perempuannya karena risiko kecelakaan yang lebih tinggi.

"Ketika anak laki-laki saya masih bayi, premi asuransinya 10.000–20.000 won (sekitar 7–14 dolar AS) lebih mahal dibandingkan anak perempuan. Waktu itu saya tidak mengerti alasannya, tapi sekarang saya paham. Anak laki-laki memang jauh lebih aktif dan itu menguras energi ibu lebih besar.”

2. Ikatan emosional lebih kuat

Banyak orang tua di Korea menilai anak perempuan memiliki kemampuan lebih baik dalam membangun kedekatan emosional.

Seorang ibu bermarga Yang (37 tahun) yang membesarkan anak laki-laki berusia 3 tahun dan anak perempuan berusia 1 tahun, sifat anak perempuan yang lebih lembut menghadirkan kehangatan emosional yang berbeda.

“Anak laki-laki kami menunjukkan kasih sayang lewat sentuhan fisik seperti pelukan dan ciuman, sedangkan anak perempuan kami sering membaca ekspresi wajah kami dan mengekspresikan kasih sayang lewat kata-kata. Anak perempuan terlihat lebih penuh perhatian, dan mungkin itu memang sudah menjadi sifat alaminya,” tuturnya. 

Kim Sang-eun (40 tahun), yang memiliki seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dan anak perempuan berusia 4 tahun, mengamini pandangan Yang bahwa anak perempuan cenderung lebih penyayang, sambil membandingkan dirinya dengan kakak laki-lakinya.

"Saya lebih sering menelepon orang tua dibandingkan kakak saya, dan sayalah yang biasanya memastikan untuk menyiapkan hadiah ulang tahun atau hari-hari penting seperti Hari Orang Tua. Saya tidak akan pernah memaksa anak perempuan saya untuk merawat saya kelak, tetapi saya merasa akan lebih dekat dengannya, dan saya sudah menantikan saat ia tumbuh dewasa,”  tuturnya.

Kang Soon-ae (73 tahun), seorang nenek dengan dua anak perempuan dan satu anak laki-laki, juga mengungkapkan rasa syukurnya. Menurutnya, anak-anak perempuannya masih rutin menelepon dan menanyakan kabar meski sudah dewasa dan bekerja.

"Setelah anak-anak saya mulai bekerja, anak-anak perempuan saya masih sering menelepon hanya untuk mengobrol tentang hal-hal kecil dan menanyakan kabar saya, seperti apa yang saya makan untuk makan siang. Para ibu yang hanya memiliki anak laki-laki sering iri akan hal itu,” tuturnya. 

3. Kekhawatiran di masa tua jadi faktor penting

Di balik meningkatnya preferensi terhadap anak perempuan, terdapat pula kekhawatiran orang tua akan kehidupan di masa tua. Cho Young-tae, profesor kesehatan masyarakat dari Seoul National University, menjelaskan bahwa peran anak perempuan dalam merawat orang tua semakin menonjol.

"Secara tradisional, anak laki-laki diharapkan meneruskan nama keluarga dan merawat orang tua mereka. Namun kini, anak perempuan dipandang sebagai pengasuh yang lebih dapat diandalkan, terutama ketika orang tua jatuh sakit di usia tua,” ujarnya.

Sebuah survei tahun 2023 oleh Sekolah Pascasarjana Keperawatan Klinis Universitas Hanyang menemukan bahwa 82,4 persen dari 125 anggota keluarga yang merawat lansia dengan demensia di rumah adalah perempuan. Dari jumlah tersebut, anak perempuan mencakup 42,4 persen, sementara anak laki-laki hanya 15,2 persen.

Para ahli lain juga mencatat bahwa menurunnya ekspektasi terhadap dukungan finansial dari anak turut mendorong preferensi terhadap anak perempuan.

“Di era ketika generasi muda menghadapi kesulitan ekonomi akibat kelangkaan lapangan kerja dan melonjaknya harga perumahan, orang tua tidak lagi berharap anak-anak mereka menopang mereka secara finansial. Fokus hubungan keluarga dan makna bakti kepada orang tua bergeser dari nilai ekonomi ke nilai emosional,” kata Koo Jung-woo, profesor sosiologi di Universitas Sungkyunkwan.

Sebaliknya, nilai bakti kini lebih ditekankan pada dukungan emosional dan kehadiran. Karena anak perempuan sering dianggap lebih mampu menjalin ikatan emosional yang kuat, banyak orang tua merasa lebih aman menghadapi masa tua dengan memiliki anak perempuan.

“Karena anak perempuan sering dianggap lebih mampu membangun ikatan emosional, banyak orang tua merasa penting untuk memiliki anak perempuan ketika memikirkan masa tua. Pada akhirnya, kekhawatiran tentang kehidupan di usia lanjut tampaknya tercermin dalam meningkatnya preferensi terhadap anak perempuan," tutur Koo Jung-woo. 

Semoga informasi tentang alasan orang tua di Korea berharap punya anak perempuan terjawab ya, Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda