Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Mengenal Postcoital Dysphoria, Rasa Sedih setelah Berhubungan Intim

Amrikh Palupi   |   HaiBunda

Sabtu, 17 Jan 2026 20:10 WIB

Ilustrasi suami istri
Mengenal Postcoital Dysphoria, Rasa Sedih setelah Berhubungan Intim/Foto: Getty Images/EmirMemedovski
Daftar Isi
Jakarta -

Rasa sedih setelah berhubungan intim sering kali membuat seseorang bingung, bersalah, bahkan mempertanyakan hubungannya sendiri. Padahal, seks yang dilakukan secara konsensual dan menyenangkan seharusnya memunculkan perasaan bahagia dan puas. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang justru merasa murung, cemas, atau ingin menangis setelahnya.

Kondisi ini dikenal dengan istilah postcoital dysphoria (PCD). Meski jarang dibicarakan, PCD adalah pengalaman yang cukup umum dan bisa dialami oleh siapa saja baik perempuan maupun laki-laki, sudah menikah atau belum. Lantas apa itu postcoital dysphoria, apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? 

Apa itu postcoital dysphoria?

Mengutip laman Webmd, postcoital dysphoria (PCD) merujuk pada munculnya perasaan negatif setelah berhubungan seks. Kondisi ini berbeda dengan female sexual dysfunction (FSD), yang berkaitan dengan perasaan dan fungsi seksual sebelum atau selama aktivitas seksual.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Saat mengalami PCD, seseorang bisa merasa murung atau depresi setelah berhubungan seks. Dalam beberapa kasus, juga bisa muncul rasa agresif atau gelisah, meskipun hubungan seksual tersebut dilakukan atas keinginan bersama dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Postcoital dysphoria lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Sebagian besar penelitian tentang kondisi ini pun berfokus pada perempuan. Gejala PCD dapat muncul setelah hubungan seksual konsensual selesai, bahkan ketika hubungan tersebut memberikan kenikmatan fisik dan orgasme.

Menurut Gail Saltz, MD, profesor psikiatri dari NY Presbyterian Hospital Weill-Cornell School of Medicine, postcoital dysphoria adalah kondisi ketika seseorang mengalami perasaan negatif setelah berhubungan seksual, seperti sedih, cemas, gelisah, marah, atau bahkan menangis yang tidak diharapkan.

"Disforia pascakoitus (PCD) merujuk pada perasaan yang berkisar dari sedih hingga cemas, gelisah, marah, pada dasarnya segala perasaan negatif setelah berhubungan seks yang sebenarnya tidak diharapkan,” jelas Gail Saltz dikutip dari laman Healthline. 

Postcoital dysphoria dapat berlangsung mulai dari 5 menit hingga 2 jam dan bisa terjadi baik dengan maupun tanpa orgasme. Sebagai contoh, sebuah studi tahun 2020 menemukan bahwa gejala PCD muncul setelah hubungan seks yang dilakukan secara konsensual, serta setelah aktivitas seksual secara umum dan masturbasi.

Gejala postcoital dysphoria

Sementara untuk gejala postcoital dysphoria mulai dari mudah menangis, perasaan sedih, kecemasan dan depresi, mudah tersinggung sampai merasa tidak puas.

Meskipun penelitian tentang hal ini masih terbatas, studi terbaru menunjukkan bahwa postcoital dysphoria (PCD) juga merupakan pengalaman yang cukup umum pada pria. Dalam sebuah penelitian, sebanyak 41 persen pria dilaporkan pernah mengalami PCD setidaknya sekali dalam hidup mereka. Dari kelompok tersebut, sekitar 3 persen pria mengalami PCD secara rutin.

Penyebab postcoital dysphoria 

Daniel Sher, seorang psikolog klinis dan terapis seks online mengatakan belum banyak penelitian yang secara spesifik menjelaskan penyebab utama postcoital dysphoria (PCD).

"Jawaban singkatnya, kami tidak tahu secara pasti apa yang menyebabkan PCD. Belum ada cukup penelitian yang kuat mengenai hal ini.” kata Daniel Sher, seorang psikolog klinis dan terapis seks online.

Namun, para ilmuwan meyakini bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor.

1. Kekerasan atau pelecehan

Riwayat pelecehan seksual pada masa kanak-kanak dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami PCD. Pelecehan seksual, baik yang terjadi sejak usia dini maupun saat dewasa, dapat memicu gejala PCD. Kekerasan fisik dan emosional juga dapat meningkatkan risiko postcoital dysphoria di kemudian hari.

2. Kecemasan

Trauma pada masa kanak-kanak juga dapat menyebabkan gangguan kecemasan dan depresi. Kondisi kesehatan mental ini sering dikaitkan dengan perasaan sedih atau masalah perilaku, yang dapat berkontribusi pada munculnya PCD.

3. Rasa resentmen

Jika memiliki riwayat kekerasan atau pelecehan, seseorang mungkin menyimpan rasa resentmen terhadap seks atau pengalaman seksual. Perasaan tidak memiliki kendali penuh atas pengalaman tersebut dapat memicu kecemasan. 

Selain itu, keinginan untuk menegaskan kebutuhan dan keinginan diri sendiri juga dapat membuat seseorang menjadi lebih mudah tersinggung.

4. Depresi pasca melahirkan

Perubahan hormon dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan (postnatal depression), yaitu depresi yang terjadi tidak lama setelah melahirkan.

Perempuan yang mengalami depresi pasca melahirkan juga lebih berisiko mengalami PCD, kemungkinan karena meningkatnya sensitivitas terhadap hormon estrogen. Depresi dapat membuat seseorang tetap merasa sedih, bahkan setelah melakukan hubungan seksual yang sebenarnya menyenangkan.

5. Faktor hormon

Saat berhubungan seks, tubuh mengalami lonjakan hormon seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin yang berperan dalam perasaan bahagia dan keterikatan.

Namun menurut psikolog klinis Daniel Sher, setelah aktivitas seksual selesai, tubuh mengalami penurunan hormon secara tiba-tiba. Penurunan inilah yang diduga memicu rasa hampa, sedih, atau gelisah mirip dengan efek crash setelah stimulasi tinggi.

"Kamu mengalami tingkat stimulasi yang luar biasa, baik secara fisik maupun nonfisik. Lalu, tiba-tiba semuanya berhenti, dan tubuh serta pikiran harus kembali ke kondisi normal. ‘Penurunan’ fisiologis inilah yang dapat memicu perasaan disforia secara subjektif," kata Daniel Sher.

6. Perasaan terhadap seks

Orang yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat konservatif atau menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu, kotor, atau memalukan, bisa menyimpan rasa bersalah bawah sadar terhadap aktivitas seksual.

Menurut terapis seks Robert Thomas, merasa depresi setelah berhubungan intim juga bisa disebabkan oleh kondisi ketika Bunda belum siap secara fisik atau emosional untuk berhubungan seks. Selain itu, perasaan bersalah dan jarak emosional setelah seks bisa menjadi tanda bahwa Bunda belum memiliki ikatan yang cukup dalam dengan pasangan.

7. Kondisi hubungan dan keintiman

Seks adalah pengalaman yang sangat intim. Menurut Gail Saltz, keintiman dapat membuka emosi dan pikiran bawah sadar, termasuk rasa kecewa, marah, atau kesedihan yang selama ini terpendam.

"Berhubungan seks adalah pengalaman yang sangat intim, dan keintiman dapat membuat kita lebih sadar akan pikiran serta perasaan bawah sadar, yang bisa mencakup perasaan sedih atau marah,” ujar Saltz.

Jika Bunda berada dalam hubungan yang tidak memuaskan, menyimpan rasa kesal terhadap pasangan, atau merasa kecewa pada mereka, perasaan-perasaan ini bisa muncul kembali baik saat maupun setelah berhubungan seks, sehingga membuatmu merasa sedih.

Selain itu, komunikasi yang negatif setelah berhubungan seks juga dapat menjadi pemicu.

“Tidak merasa puas dengan pengalaman seksual bisa menjadi beban emosional, terutama ketika harapanmu tidak terpenuhi selama berhubungan intim,” kata Thomas.

Cara mengatasi postcoital dysphoria

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi postcoital dysphoria:

1. Validasi perasaan diri sendiri

Pertama, pahami bahwa apa pun yang kamu rasakan adalah valid. Bunda tidak perlu berpura-pura bahagia demi pasangan atau menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya. Tidak apa-apa untuk membiarkan diri merasakan kesedihan. Selanjutnya, coba cek kondisi diri dan pastikan Bunda merasa aman, baik secara fisik maupun mental.

2. Konsultasi ke dokter dan lakukan terapi

Jika mengalami kecemasan, depresi, trauma pada masa kanak-kanak maupun dewasa, atau depresi pasca melahirkan, risiko untuk mengalami postcoital dysphoria (PCD) akan lebih tinggi. Kondisi-kondisi ini dapat mengubah pengalaman seksual yang sebenarnya menyenangkan menjadi perasaan ragu, malu, atau sedih setelahnya.

Oleh karena itu, sebaiknya bicarakan perasaan-perasaan ini dengan dokter. Bunda juga bisa menemui psikoterapis untuk menangani penyebab mendasar dari PCD. Melalui terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy), terapis dapat membantu mengatasi perasaan dan trauma yang mendasarinya.

3. Bicarakan ke pasangan

Tidak apa-apa untuk membicarakan perasaan ini dengan pasangan. Jika kamu berada dalam hubungan yang aman dan penuh keintiman, seharusnya kamu merasa cukup nyaman untuk mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Percakapan yang terbuka juga dapat membantu mengatasi perasaan sedih yang muncul setelah berhubungan seks.

Itulah penjelasan tentang  postcoital dysphoria, rasa sedih setelah berhubungan intim ya, Bunda. Semoga informasinya bermanfaat. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda