KEHAMILAN
Penggunaan Opioid untuk Ibu Hamil Naik Dua Kali Lipat, Apa Itu?
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Minggu, 25 Jan 2026 13:00 WIBPenggunaan obat-obatan selama kehamilan perlu mendapat perhatian khusus. Pasalnya, studi terbaru menemukan bahwa penggunaan obat jenis opioid untuk ibu hamil telah naik dua kali lipat, Bunda.
Dilansir laman John Hopkins Medicine, opioid adalah golongan obat yang berasal dari, atau meniru, zat alami yang ditemukan di tanaman opium. Opioid bekerja di otak untuk menghasilkan berbagai efek, termasuk sebagai pereda nyeri.
Obat-obatan opioid meliputi obat pereda nyeri yang diresepkan oleh tenaga kesehatan dan obat-obatan terlarang. Obat-obatan opioid dapat menyebabkan kecanduan atau dikenal sebagai opioid use disorder (OUD).
Penggunaan opioid untuk ibu hamil
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), penggunaan opioid selama kehamilan telah meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Hal yang sama juga diungkap dalam studi baru yang dilakukan Oregon Health & Science University, Bunda.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Addiction Medicine ini juga mengidentifikasi peningkatan risiko komplikasi kesehatan ibu dan bayi secara signifikan di antara pasien dengan diagnosis terkait opioid selama kehamilan. Studi baru ini adalah salah satu penelitian berbasis populasi terbesar yang meneliti hasil kesehatan ibu dan bayi yang terkait opioid selama kehamilan dalam dekade terakhir.
"Sayangnya, kita tahu banyak orang yang menggunakan opioid saat hamil ragu untuk meminta bantuan karena takut dihakimi, dan kami berharap dapat melihat perubahan itu," kata penulis studi dan profesor madya obstetri dan ginekologi di Oregon Health & Science University, Jamie Lo, M.D., M.C.R.
"Sebagai penyedia layanan kesehatan, tujuan kami adalah untuk mendukung pasien dalam kehamilan yang sehat dan transisi menuju peran sebagai orang tua. Data ini menunjukkan bahwa bagi mereka yang berjuang melawan kecanduan, ini harus mencakup perawatan multidisiplin yang tepat waktu dan personal di luar pemeriksaan prenatal standar," sambungnya, dilansir laman MedicalXpress.
|
|
Risiko bagi bayi dan ibu
Studi kohort retrospektif besar dalam studi ini menggunakan data rumah sakit dari California, Amerika Serikat, yang mencakup lebih dari 5,5 juta pasien. Analisis menunjukkan bahwa prevalensi diagnosis terkait opioid meningkat lebih dari dua kali lipat dari 0,14 persen pada tahun 2008 menjadi 0,33 persen pada tahun 2020, yang mencerminkan tren peningkatan penggunaan opioid secara nasional dan mengkhawatirkan.
Studi ini juga menemukan bahwa diagnosis terkait opioid prenatal dikaitkan dengan risiko hasil negatif yang jauh lebih tinggi bagi bayi, termasuk perawatan di NICU, gangguan pernapasan, kelahiran prematur, dan kematian.
Risiko juga dapat dialami oleh seorang ibu. Temuan menunjukkan bahwa ibu hamil dalam populasi ini memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi parah dan tak terduga seperti hipertensi, perdarahan, dan kebutuhan transfusi darah.
Para peneliti menekankan bahwa peningkatan akses dan penyampaian perawatan sangat dibutuhkan dalam kasus penggunaan opioid saat hamil. Secara khusus, mereka mencatat bahwa pasien tidak boleh ditangani oleh penyedia layanan kesehatan individu. Sebaliknya, perawatan harus mengambil pendekatan kesehatan holistik dan mencakup pengobatan kecanduan, perawatan primer, dan penyedia layanan kesehatan anak.
"Bukti menunjukkan bahwa menghubungkan pasien dengan perawatan lebih awal dapat meningkatkan hasil. Jika kita menyadari sejak dini bahwa seseorang menghadapi risiko tambahan, kita dapat memastikan mereka menerima perawatan multidisiplin yang dipersonalisasi pada periode prenatal dan postnatal, hingga beralih ke perawatan pediatrik bersama anak mereka," ujar salah satu penulis studi, Kristin Prewitt, M.D., M.P.H.
Bahaya opioid saat hamil
Seperti dijelaskan dalam studi, penggunaan opioid selama hamil bisa berisiko buruk pada bayi. Salah satu masalah yang dapat muncul adalah sindrom abstinensi neonatal. Ini merupakan sekelompok masalah yang dapat terjadi ketika bayi terpapar obat-obatan opioid atau obat-obatan lain dalam jangka waktu tertentu saat berada di dalam rahim ibu.
Menurut ACOG, sindrom abstinensi neonatal ditandai dengan gangguan pada sistem pencernaan, otonom, dan sistem saraf pusat, yang menyebabkan berbagai gejala termasuk iritabilitas, tangisan bernada tinggi, gangguan tidur, dan refleks mengisap yang tidak terkoordinasi yang menyebabkan kesulitan makan.
"Bayi lahir dari ibu yang menggunakan opioid selama kehamilan harus dipantau oleh penyedia layanan perawatan anak untuk mengantisipasi sindrom abstinensi neonatal," tulis ACOG dalam salah satu rekomendasinya.
"Sebelum meresepkan opioid untuk pasien, dokter kandungan dan penyedia layanan kesehatan harus memastikan bahwa opioid diindikasikan dengan tepat, mendiskusikan risiko dan manfaat penggunaan opioid, meninjau tujuan pengobatan, mengetahui riwayat penggunaan zat secara menyeluruh, dan meninjau program pemantauan obat resep untuk menentukan apakah pasien telah menerima resep opioid sebelumnya."
Demikian bahaya penggunaan opioid untuk ibu hamil dan bayi di dalam kandungan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)