sign up SIGN UP search


kehamilan

Bolehkah Ibu Hamil Minum Aspirin untuk Menurunkan Demam dan Nyeri?

Dwi Indah Nurcahyani Kamis, 15 Oct 2020 14:14 WIB
Pregnant woman taking medicine in living room Bolehkan ibu hamil minum aspirin/ Foto: Getty Images/Satoshi-K

Saat hamil, Bunda tidak disarankan mengonsumsi obat secara sembarang. Saat Bunda sakit, semua obat yang dikonsumsi sebaiknya berdasarkan rekomendasi dari dokter.

Seringkali, memang ada saja Bunda yang sedang hamil dan enggan berkonsultasi dengan dokter. Mereka mengandalkan obat yang ada di pasaran untuk mengatasi keluhannya. Misalnya saja salah satunya aspirin yang masuk dalam golongan obat non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) yang bisa dibeli tanpa resep dokter.

Aspirin biasanya digunakan untuk membantu mengurangi nyeri serta radang dan kerap digunakan sebagai penurun demam. Selain itu, aspirin bisa menjadi obat yang kerap digunakan untuk membantu mencegah serangan jantung. Dikutip dari laman Heartfoundation, obat ini masuk dalam jenis anti-platelet yang berfungsi untuk mencegah pembentukan gumpalan darah atau mengencerkan darah, seperti 


Obat jenis anti-platelet sendiri merupakan obat yang menghentikan sel-sel dalam darah (trombosit) agar tidak saling menempel dan membentuk gumpalan. Sebab, gumpalan darah dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.

Aspirin merupakan anti-platelet yang paling umum. Pada dosis rendah, aspirin mengurangi peradangan di arteri. Biasanya, obat ini akan diberikan untuk menurunkan risiko terkena penyakit jantung.

Dalam kaitannya dengan kehamilan, obat jenis anti-platelet seperti aspirin dan dipyridamole, diketahui dapat mencegah wanita hamil dari risiko preeklampsia selama kehamilan dan dapat meningkatkan hasil kesehatan ibu dan bayinya. Lantas, apakah ini artinya obat aspilets yang tergolong anti-platelet aman dikonsumsi saat hamil, Bunda?

Melansir Cochrane, dalam sebuah penelitiannya, Duley L dan rekan-rekannya melakukan uji coba secara acak pada 2018 dengan melibatkan 40.249 wanita dan bayinya. Dalam penelitian tersebut, hampir semua wanita yang direkrut untuk uji coba setelah mereka berada pada usia kehamilan 12 minggu.

Kebanyakan, wanita berisiko mengalami preeklamsia, dan percobaan termasuk wanita dengan tekanan darah normal, tekanan darah tinggi jangka panjang atau tekanan darah tinggi akibat kehamilan.

Penelitian pun menemukan bahwa penggunaan agen anti-platelet mengurangi risiko preeklampsia sebesar 18 persen atau kurang dari seperenam (36.716 wanita, 60 uji coba). Ini artinya, 61 wanita harus dirawat dengan obat anti-platelet agar satu wanita dapat memperoleh manfaat dengan menghindari preekamsia.

Risiko kelahiran prematur berkurang 9 persen (35.212, 47 percobaan) dan jumlah kematian bayi sebelum atau sekira waktu kelahiran berkurang 15 persen (35.391 wanita, 52 percobaan). 

Agen anti-platelet mengurangi risiko bayi kecil untuk usia kehamilan (35.761 ibu, 50 uji coba) dan kehamilan dengan hasil buruk yang serius (17.382 ibu, 13 uji coba). Bukti kualitas sedang menunjukkan bahwa hanya sedikit lebih banyak wanita yang kehilangan lebih dari 500 mL darah segera setelah lahir, yang disebut perdarahan postpartum (23.769 ibu, 19 percobaan), yang menunjukkan bahwa aspirin aman. 

Dosis aspirin kurang dari 75 mg tampaknya aman. Dosis yang lebih tinggi mungkin lebih baik, tetapi kami tidak tahu apakah mereka meningkatkan efek samping.

"Artinya aspirin dosis rendah sedikit mengurangi risiko preeklamsia dan komplikasinya," ujar penulis penelitian.

Karena sebagian besar wanita dalam penelitian ini sedang dalam uji coba mengevaluasi aspirin dosis rendah, jaminan tentang keamanan aspirin mungkin tidak berlaku untuk dosis yang lebih tinggi atau agen anti-platelet lainnya.

Nah, itulah sedikit pembahasan mengenai aspirin yang termasuk golongan obat anti-platelet ya, Bunda. Ada baiknya, apa pun yang Bunda ingin konsumsi selama kehamilan sudah mengantongi izin dari dokter ya, Bunda. Serta, pastikan untuk selalu berkonsultasi secara rutin agar kesehatan bayi dan Bunda selalu terpantau.

Semoga sehat selalu hingga persalinan ya, Bunda!

Ibu hamil, simak juga yuk penyebab preeklampsia yang harus diwaspadai. Klik video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi