KEHAMILAN
7 Ciri-ciri Ovulasi Tinggi dan Sedang dalam Masa Subur pada Perempuan
Dwi Indah Nurcahyani | HaiBunda
Minggu, 25 Jan 2026 20:00 WIBMasa-masa ovulasi banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan peluang kehamilan bagi pasangan suami istri. Yuk, ketahui ciri-ciri ovulasi tinggi dan sedang dalam masa subur pada perempuan.
Ovulasi merupakan proses pelepasan sel telur dari ovarium. Sel telur sendiri dapat dibuahi selama sekitar 12 sampai 24 jam setelah dilepaskan. Dan, sperma dapat hidup di dalam saluran reproduksi perempuan selama sekitar 3 hingga 5 hari setelah bercinta. Dalam fase ini, peluang hamil paling tinggi ketika sperma berada di tuba falopi selama ovulasi.
Mengenal ovulasi pada perempuan
Banyak perempuan mendengar istilah ovulasi tetap kerap tak mengerti betul maknanya. Umumnya, istilah masa subur justru lebih familiar bagi mereka terutama bagi yang sedang menanti anak.
Sebenarnya, ovulasi merupakan fase dalam siklus menstruasi ketika ovarium melepaskan sel telur. Setelah sel telur meninggalkan ovarium, ia bergerak ke tuba fallopi tempat ia menunggu untuk dibuahi oleh sperma. Rata-rata, fase ini terjadi pada hari ke-14 dari siklus menstruasi 28 hari.
Proses ovulasi sendiri dimulai ketika hipotalamus (bagian dari otak kiri) melepaskan hormon pelepas gonadotropin (GnRH). GnRH menyebabkan kelenjar pituitari mengeluarkan hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinisasi (LH) seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic.
Antara hari keenam dan ke-14 siklus menstruasi, FSH menyebabkan folikel (kantong kecil berisi cairan di ovarium yang mengandung sel telur yang sedang berkembang) di salah satu ovarium mulai matang.
Selama hari ke-10 hingga ke-14 siklus, hanya satu dari folikel yang berkembang membentuk sel telur yang sepenuhnya matang. Sekitar hari ke-14 dalam siklus menstruasi, lonjakan LH yang tiba-tiba menyebabkan ovarium melepaskan sel telur ini. Inilah ovulasi. Setelah ovulasi, hormon progesteron meningkat yang membantu mempersiapkan rahim untuk kehamilan.
Setelah ovulasi terjadi, sel telur bergerak melalui tuba fallopi. Di tuba fallopi, sel telur bertemu dengan sperma untuk pembuahan. Jika pembuahan terjadi (sperma membuahi sel telur), sel telur yang telah dibuahi akan bergerak ke rahim. Setelah sekitar seminggu, sel telur yang telah dibuahi (sekarang blastokista) akan menempel pada lapisan rahim dan disebut implantasi.
Kemudian, adanya pelepasan hormon estrogen dan progesteron menyebabkan endometrium menebal, yang menyediakan nutrisi yang dibutuhkan blastokista untuk tumbuh dan akhirnya berkembang menjadi bayi.
7 Ciri-ciri ovulasi tinggi dan sedang dalam masa subur pada perempuan
Memahami kesehatan reproduksi pada perempuan termasuk masa-masa ovulasi yang sedang tinggi bisa memungkinkan peluang kehamilan bagi Bunda terjadi lebih besar. Berikut ciri-ciri ovulasi tinggi dan sedang alam masa subur pada perempuan:
1. Perubahan lendir serviks
Pada puncak kesuburan biasanya cairan yang keluar konsistensinya dan warnanya menyerupai warna putih telur. Lendir pada tahap ini lebih encer dan membantu sperma menemukan jalan menuju sel telur, dan bahkan secara alami melumasi serviks untuk membuat hubungan bercinta yang lebih menyenangkan.
2. Peningkatan gairah seksual
Banyak perempuan melaporkan merasa lebih bersemangat selama masa subur mereka, yang merupakan cara tubuh mendorong aktivitas untuk meningkatkan peluang kehamilan. Lonjakan hormon selama ovulasi ini dapat membuat perempuan yang subur merasa lebih bergairah dan diinginkan.
3. Nyeri perut bagian bawah
Kram ringan atau sedikit nyeri di satu sisi perut bagian bawah, dapat menandakan ovulasi sedang terjadi. Nyeri ini disebabkan oleh peregangan dinding ovarium saat folikel melepaskan sel telur seperti dikutip dari laman Arvahealth.
4. Bercak di pertengahan siklus
Melihat sedikit bercak berwarna merah muda atau cokelat muda di sekitar pertengahan siklus dapat menjadi tanda ovulasi pada perempuan subur. Saat folikel yang matang pecah untuk melepaskan sel telur, sedikit perdarahan mungkin terjadi. Bercak ini biasanya lebih ringan dan lebih singkat daripada periode menstruasi.
5. Nyeri payudara
Payudara yang nyeri atau sensitif dapat menjadi gejala ovulasi lain dan tanda ovulasi yang tinggi.
6. Peningkatan indera penciuman
Beberapa perempuan memperhatikan peningkatan indera penciuman pada paruh kedua siklus mereka, yang mungkin dikaitkan dengan peningkatan kadar estrogen. Peningkatan sensitivitas ini dapat membuat aroma tertentu lebih mudah dikenali atau menarik bagi perempuan yang subur.
7. Perubahan posisi serviks
Selama ovulasi, serviks naik lebih tinggi, menjadi lebih lunak, dan sedikit terbuka untuk memungkinkan sperma melewatinya.
Masalah seputar masa subur
Sistem reproduksi perempuan sedianya dikendalikan oleh hormon yang diproduksi area otak, termasuk hipotalamus dan kelenjar pituitari, dan ovarium. Interaksi hormonal yang mengontrol ovulasi dan menstruasi ini terjadi dalam urutan sebagai berikut:
1. Hormon pelepas gonadotropin atau gonadotropin releasing hormone (GnRH) dilepaskan dari hipotalamus.
2. Kelenjar pituitari (juga terletak di otak) dirangsang oleh GnRH.
3. Luteinizing hormone(LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH) dilepaskan oleh kelenjar pituitari.
4. Ovarium dirangsang oleh LH dan FSH, hormon yang mengontrol ovulasi.
5. Ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron, yang mengontrol menstruasi.
Masalah dengan ovulasi (pelepasan sel telur) terjadi ketika salah satu bagian dari sistem ini tidak berfungsi dengan baik. Ovulasi dapat terpengaruh jika salah satu langkah atau hormon ini tidak normal. Selain itu, ovulasi juga dapat terpengaruh oleh kelainan pada kelenjar hormonal lainnya, seperti kelenjar adrenal atau kelenjar tiroid seperti dikutip dari laman Msdmanuals.
Masalah dengan ovulasi pada seseorang dapat disebabkan banyak gangguan ya, Bunda. Penyebab paling umum dari masalah ovulasi kronis biasanya sebagai berikut:
1. Sindrom ovarium polikistik
2. Olahraga berlebihan
3. Obat-obatan tertentu
4. Penurunan berat badan berlebihan
5. Depresi
6. Obesitas
7. Diabetes
8. Hipertiroidisme
9. Hipotirodisme
10. Menopause dini
Penyebab ovulasi gagal
Kegagalan ovulasi ternyata bisa juga dialami seseorang ya, Bunda. Kondisi ini biasanya istilah yang digunakan untuk menggambarkan di mana sel telur tidak dilepaskan dari ovarium seperti dikutip dari laman Shropshireivf.
Penting diketahui bahwa menstruasi teratur tidak selalu mengartikan bahwa ovulasi terjadi sehingga dibutuhkan pemeriksaan. Ovulasi sendiri dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan USG dan tes darah. Biasanya, ovulasi terjadi pada hari ke-14 dari siklus 28 hari tetapi bervariasi jika siklus yang dialaminya lebih panjang atau lebih pendek. Nyeri di pertengahan siklus dan lendir bening berair dapat mengindikasikan adanya ovulasi.
Ada beberapa penyebab yang membuat kondisi ovulasi gagal yang perlu Bunda ketahui, berikut di antaranya:
1. Polycystic Ovaries (PCO)
PCO merupakan penyebab paling umum dari kegagalan ovulasi (kegagalan untuk memproduksi dan melepaskan sel telur). Perempuan dengan kondisi ini mungkin tidak bisa menghasilkan satu folikel besar setiap bulannya tetapi banyaknya folikel kecil yang gagal matang. Folikel-folikel ini mungkin tidak pecah dan melepaskan sel telur selama siklus menstruasi.
2. Berat badan
Baik pada orang yang kekurangan ataupun kelebihan berat badan sama-sama memiliki risiko lebih besar untuk tidak berovulasi dengan benar. Hal ini dikarenakan terlalu banyak atau terlalu sedikit lemak tubuh dapat mencegah hormon mencapai kadar yang tepat untuk mengembangkan folikel dan sel telur.
3. Lendir serviks abnormal
Lendir serviks yang normal memiliki peran penting dalam terjadinya pembuahan alami. Ketika perempuan berovulasi, lendir mereka berubah. Jumlah lendir kemudian meningkat dan menjadi lebih jernih dan lebih tipis.
Perubahan pada lendir ini memungkinkan sperma untuk masuk ke rahim dan tuba fallopi pada waktu yang tepat dalam siklus. Karena itu, ini adalah waktu terbaik untuk berhubungan seksual guna menghasilkan kehamilan. Jika lendir berkualitas buruk, ini bisa menjadi indikasi bahwa ovulasi tidak terjadi.
|
|
Tanda ovulasi gagal
Meski tidak selalu terjadi, kegagalan ovulasi menjadi risiko yang mungkin dialami sebagian perempuan di luar sana. Ketahui tanda ovulasi gagal berikut ini agar Bunda bisa mencobanya kembali di lain waktu untuk meningkatkan peluang kehamilan:
1. Tidak ada perubahan suhu basal tubuh atau lendir serviks
Suhu tubuh dan lendir serviks akan berubah sepanjang siklus sebagai respons terhadap fluktuasi hormonal. Sebelum ovulasi, suhu basal tubuh biasanya lebih rendah dan lendir serviks jernih, elastis, dan licin, seperti putih telur mentah. Setelah ovulasi, suhu tubuh naik dan lendir serviks menjadi lebih kental dan lebih sedikit. Jika ini tidak terjadi, artinya tidak ada ovulasi ya, Bun.
2. Gejala pramenstruasi berkurang
Beberapa perempuan mengalami gejala seperti nyeri payudara, kembung, perubahan suasana hati, atau sakit kepala sebelum menstruasi. Gejala-gejala ini biasanya disebabkan oleh naik turunnya progesteron, hormon yang diproduksi setelah ovulasi. Jika gejala-gejala tersebut sangat ringan, artinya Bunda tidak memproduksi cukup progesteron karena tidak ada ovulasi.
3. Tes ovulasi negatif
Tes ovulasi mengukur kadar hormon luteinizing dalam urine, yang meningkat sebelum ovulasi. Jika Bunda tidak pernah mendapatkan hasil positif pada tes ovulasi, itu mungkin berarti Bunda tidak berovulasi atau lonjakan hormon luteinizing Bunda sangat rendah atau singkat seperti dikutip dari laman Positivestepsfertility.
4. Menstruasi tidak teratur atau tidak ada
Perempuan yang tidak berovulasi biasanya memiliki siklus yang tidak teratur, yang dapat mencakup menstruasi ringan dengan sedikit perdarahan atau menstruasi berat dengan aliran yang sangat deras. Selain itu, siklus yang pendek atau siklus yang panjang juga dapat menunjukkan masalah ovulasi.
Itulah beberapa ciri-ciri ovulasi dan juga serba serbi terkait ovulasi yang perlu diketahui terutama bagi Bunda yang sedang berjuang untuk mendapatkan kehamilan. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)