HaiBunda

KEHAMILAN

Operasi Caesar Tak Terencana Berisiko Lebih Besar Picu Stres pada Ibu Hamil

Melly Febrida   |   HaiBunda

Selasa, 03 Feb 2026 11:10 WIB
Operasi Caesar Tak Terencana Berisiko Lebih Besar Picu Stres pada Ibu Hamil/Foto: Getty Images/iStockphoto/Arder_Ho
Jakarta -

Operasi caesar yang tak terencana ternyata berisiko lebih besar untuk ibu. Operasi caesar yang tak terencana dapat memicu dampak psikologis pada ibu hamil, terutama stres serta kecemasan pascap ersalinan.

Operasi caesar sering kali direncanakan sejak awal untuk menyelamatkan ibu hamil dan bayi dalam kondisi tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi mental ibu terpengaruh jika pengalaman melahirkannya berbeda dari harapan awal. Ini penting agar ibu hamil mendapatkan dukungan yang tepat, baik medis maupun emosional.

Operasi caesar tak terencana berdampak pada kesehatan mental ibu

Melansir Femtechworld.co.uk, peneliti di Mass General Brigham menemukan bahwa tingkat stres tertinggi terjadi ketika persalinan cesar terjadi selama persalinan atau ketika ada komplikasi obstetri yang lebih besar akibat masalah kesehatan terkait kehamilan dan persalinan.


Studi ini mengikuti lebih dari 1.100 perempuan yang melahirkan dan menemukan bahwa lebih dari satu dari empat pasien yang menjalani persalinan caesar yang tidak terjadwal mengalami stres akut yang signifikan secara klinis segera setelah melahirkan, dibandingkan dengan sekitar satu dari 16 pasien yang melahirkan secara normal.

Bahkan setelah memperhitungkan komplikasi medis, trauma sebelumnya, dan riwayat kesehatan mental, ibu hamil yang jalani operasi caesar tak terencana tetap berisiko lebih dari 2 kali lipat mengalami stres berat.

Sharon Dekel, peneliti utama dan anggota Program Penelitian Gangguan Stres Traumatis Pasca Melahirkan di Departemen Psikiatri Mass General Brigham mengatakan bahwa persalinan caesar yang tidak terjadwal dapat menyelamatkan nyawa, tetapi untuk beberapa pasien menjadi pengalaman yang sangat menyedihkan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa dampak emosional dari persalinan ini umum terjadi, terukur, dan bermakna secara klinis.

"Meskipun sebagian besar pasien tangguh dan tidak akan mengalami respons stres, kami ingin memastikan bahwa orang-orang yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber daya yang mereka butuhkan," kata Dekel.

Menurut ulasan di March of Dimes, depresi pasca melahirkan adalah perasaan sedih, cemas atau rasa khawatir, dan lelah yang berlangsung lama setelah melahirkan. Kondisi tersbut dapat membuat seorang ibu kesulitan mengurus diri sendiri dan bayinya.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa seseorang dengan depresi postpartum tidak dapat melakukan tugas sehari-hari, termasuk mengasuh anaknya. Kondisi ini dapat terjadi hingga 1 tahun setelah melahirkan, namun paling sering dimulai sekitar 1 sampai 3 minggu setelah melahirkan.

Tanpa pengobatan, depresi pasca melahirkan dapat memburuk. Dampak paling berbahaya dari kondisi ini dapat mengarah pada pemikiran untuk melukai diri sendiri atau melukai orang lain, hingga berujung pada kematian.

Operasi caesar/ Foto: Novita Rizki/ HaiBunda

Stres pada ibu tak bisa dianggap sepele

Perempuan yang melaporkan mengalami stres akut tingkat tinggi segera setelah melahirkan secara signifikan lebih mungkin mengembangkan gejala stres pasca-trauma, depresi, dan kesulitan menjalin ikatan dengan bayinya dua bulan kemudian.

Dekel dan rekan-rekannya berupaya menerapkan kuesioner yang dapat membantu menyaring pasien pasca persalinan di Mass General Brigham dan di tempat lain.

Temuan ini juga mendukung seruan untuk perawatan obstetri dan pasca persalinan yang berwawasan trauma, khususnya pada pasien yang telah menjalani intervensi tak terduga selama persalinan.

Dekel mencatat bahwa beberapa pasien mungkin mengalami respons stres akut, tetapi gejalanya dapat membaik seiring waktu, yang berarti penting untuk melakukan skrining segera setelah kelahiran dan kemudian.

"Studi ini menyoroti potensi nilai skrining singkat dan ringan untuk stres akut selama rawat inap pasca persalinan, terutama setelah persalinan yang tidak direncanakan atau rumit secara medis.

"Terkadang, persalinan dapat menjadi peristiwa yang sarat emosi atau pengalaman traumatis. Tetapi kita memiliki cara yang bagus untuk membantu orang mengatasinya, itulah sebabnya kita ingin mengidentifikasi pasien sejak dini dan membantu mereka terhubung," ujar Dekel.

Pengaruh dukungan lingkungan sekitar dan edukasi

Dukungan pasangan, keluarga, dan tenaga kesehatan berperan penting dalam membantu ibu mengelola stres pasca persalinan. Validasi perasaan ibu, kesempatan untuk bercerita tentang pengalaman melahirkan, serta pendampingan psikologis dapat diperlukan dapat membantu proses pemulihan mental.

Ibu juga perlu diberikan ruang untuk beradaptasi tanpa tekanan sosial yang membandingkan jenis persalinan satu dengan lainnya.

Selain itu, edukasi sejak masa kehamilan dapat membantu menurunkan risiko stres berlebih jika rencana persalinan berubah. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

BAB Terasa Sakit Setelah Operasi Caesar? Ini Cara Mengatasinya

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

3 Tanda Balita Berisiko Jadi Psikopat Ketika Dewasa Menurut Pakar

Parenting Nadhifa Fitrina

5 Menu Sahur untuk Diet yang Simpel dan Mengenyangkan

Mom's Life Amira Salsabila

Kabar Bahagia! Rigen dan Istri Umumkan Kehamilan Anak Keempat di Malam Nisfu Syaban

Kehamilan Amrikh Palupi

Qadha Puasa Ramadhan Setelah Nisfu Syaban, Bolehkah?

Mom's Life Natasha Ardiah

Penampilan Terbaru Starla usai Hilangkan Tanda Lahir, Intip Potretnya

Parenting Nadhifa Fitrina

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Fitur Wajah Ini Sering Dianggap Ciri Orang Baik, Ini Fakta Menariknya

Kabar Bahagia! Rigen dan Istri Umumkan Kehamilan Anak Keempat di Malam Nisfu Syaban

3 Tanda Balita Berisiko Jadi Psikopat Ketika Dewasa Menurut Pakar

5 Menu Sahur untuk Diet yang Simpel dan Mengenyangkan

Qadha Puasa Ramadhan Setelah Nisfu Syaban, Bolehkah?

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK