Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Bahagia Berubah Jadi Drama, Sahabat Dicoret dari Bridesmaid Usai Ketahuan Hamil

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Senin, 16 Feb 2026 20:30 WIB

Ilustrasi sahabat
Bahagia Berubah Jadi Drama, Sahabat Dicoret dari Bridesmaid Usai Ketahuan Hamil/Foto: Getty Images/Sunan Wongsa-nga
Daftar Isi
Jakarta -

Awalnya ikut senang jadi bridesmaid sahabat sendiri, tapi momen bahagia itu mendadak berubah jadi drama. Seorang perempuan harus menerima kenyataan pahit ketika perannya dicoret hanya karena satu hal: Ia sedang hamil. Bukannya dapat dukungan, ia justru merasa dijauhkan di momen penting sahabatnya.

Kisah ini menjadi viral setelah dibagikan di Reddit berikut kisahnya dikutip dari People.com.

Awalnya jadi bridesmaid, berakhir jadi tamu biasa

Perempuan berusia 25 tahun ini mengaku awalnya sangat bahagia saat diminta menjadi bridesmaid oleh sahabatnya yang akan menikah. Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Tak lama setelah ia memberi tahu bahwa dirinya sedang hamil 11 minggu, sang calon pengantin yang berusia 19 tahun memutuskan untuk mencoretnya dari daftar bridesmaid.

"Ia memberi tahu saya bahwa ia tidak ingin saya harus berdiri di samping altar atau harus mengenakan gaun saat hamil delapan bulan, jadi saya bukan lagi pengiring pengantin," tulis perempuan itu.

"Jujur, itu benar-benar menyakiti saya. Saya akhirnya menangis beberapa saat di kamar saya setelah itu," tambahnya.

Sahabatnya itu beralasan, saat hari pernikahan tiba nanti, usia kehamilannya diperkirakan sudah memasuki delapan bulan, sehingga sang pengantin khawatir sahabatnya tidak akan sanggup menjalani tugas-tugas bridesmaid yang cukup melelahkan.

Tetap diundang, tapi hati terlanjur terluka

Meski dicoret dari peran bridesmaid, sang calon pengantin menegaskan bahwa sahabatnya tetap diundang ke pesta pernikahan. Ia bahkan menawarkan peran simbolis sebagai “honorary bridesmaid”, tanpa kewajiban menjalankan tugas khusus.

Sayangnya, niat tersebut tak serta-merta mengobati perasaan sang calon ibu.

Ia mengaku sangat terpukul dan menangis, karena merasa kehamilannya justru dianggap sebagai penghalang, bukan sesuatu yang bisa dipahami dan disesuaikan bersama.

“Saya merasa diperlakukan seperti rapuh hanya karena hamil,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

"Sekarang saya tidak tahu harus berbuat apa. Sebagian dari diri saya ingin mendesak dan mengatakan kepadanya bahwa saya ingin menjadi pengiring pengantin, tetapi ini pernikahannya dan saya tidak ingin menjadi salah satu pengiring pengantin jahat yang sering diceritakan. Saya benar-benar bingung," sambungnya.

Kehamilan dan stigma 'tidak mampu'

Pengalaman ini membuka diskusi yang lebih luas. Banyak ibu hamil kerap merasa dianggap tidak mampu, padahal setiap kehamilan berbeda. Tidak semua ibu hamil mengalami keterbatasan fisik yang sama, terutama di trimester akhir.

Ada yang tetap aktif hingga trimester akhir, ada pula yang memang membutuhkan lebih banyak istirahat. Sayangnya, asumsi sering kali dibuat tanpa bertanya, seolah kehamilan otomatis menghapus kemampuan dan pilihan seorang perempuan.

Dalam kisah ini, sang calon ibu merasa bukan dicoret karena tidak mau berperan, melainkan karena dianggap tidak mampu. Ia pun mengaku siap menyesuaikan diri, mengambil tugas yang lebih ringan, atau beristirahat jika dibutuhkan. Namun keputusan sudah terlanjur dibuat sepihak.

Stigma inilah yang sering membuat ibu hamil merasa tersisih, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Alih-alih dilibatkan dalam diskusi, mereka justru 'diamankan' dengan cara disingkirkan dari peran penting.

Kehamilan seharusnya menjadi fase yang dipenuhi dukungan dan pengertian, bukan alasan untuk membatasi atau mengecilkan peran seorang perempuan.

Reaksi netizen: Antara empati dan realitas

Sementara itu, para pengguna Reddit berkomentar bahwa mantan pengiring pengantin seharusnya memberi sedikit pengertian kepada pengantin muda, yang tampaknya peduli padanya, dan tidak bermaksud menyakitinya secara sengaja. Sebagian besar orang menyarankan agar dia menerima peran pengiring pengantin kehormatan.

"Saya pikir ini terdengar seperti kompromi yang bagus dan dia memperhatikanmu... Saat pernikahan tiba, kamu akan hamil besar dan mungkin tidak mampu secara fisik untuk berpartisipasi dalam beberapa kegiatan," ujar salah satu netizen yang berkomentar di postingan tersebut. 

"Saya pikir pengantin wanita sangat berhati-hati dan bijaksana. Sayangnya, waktu terkadang tidak tepat, tetapi kita harus menerimanya dan memanfaatkan situasi sebaik mungkin. Ini bukan harimu, ini harinya, biarkan dia menikmatinya. Hal terakhir yang seharusnya kamu lakukan adalah menimbulkan drama dalam situasi ini. Apa yang sebenarnya kamu pikir akan kamu dapatkan?" ujar netizen lainnya.

Sebagian memahami kekhawatiran calon pengantin yang ingin semuanya berjalan lancar di hari spesialnya. Namun tak sedikit pula yang membela sang ibu hamil dan menilai keputusan tersebut kurang empatik, apalagi dilakukan pada sahabat sendiri.

Banyak yang menilai bahwa komunikasi terbuka seharusnya bisa menjadi jalan tengah, tanpa harus mengorbankan perasaan salah satu pihak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

 

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda