KEHAMILAN
Endometriosis Bisa Tingkatkan Risiko Keguguran dan Kehamilan Ektopik
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Sabtu, 28 Mar 2026 11:30 WIBEndometriosis merupakan salah satu penyebab infertilitas pada perempuan, Bunda. Kasus infertilitas endometriosis masih banyak ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia.
Menurut ulasan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023, endometriosis memengaruhi sekitar 10 persen (190 juta) perempuan dan anak perempuan usia reproduksi di seluruh dunia. Selain berisiko menyebabkan masalah kesuburan, endometriosis dapat menimbulkan keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Ini adalah penyakit kronis yang dikaitkan dengan nyeri hebat yang memengaruhi kehidupan dengan menyebabkan nyeri saat menstruasi, berhubungan seksual, buang air besar dan/atau buang air kecil, atau menimbulkan nyeri panggul kronis, perut kembung, mual, kelelahan, dan terkadang depresi, kecemasan, serta infertilitas," tulis WHO dalam laman resminya.
Perlu diketahui, endometriosis merupakan penyakit di mana jaringan yang mirip dengan lapisan rahim tumbuh beberapa tempat di dekat organ reproduksi. Endometriosis juga sering disebut kista cokelat.
Sudah banyak studi meneliti dampak endometriosis pada perempuan. Studi terbaru mengaitkan kondisi ini dengan risiko keguguran dan kehamilan ektopik, Bunda.
Endometriosis dan risiko keguguran serta kehamilan ektopik
Studi terbaru di Finlandia menemukan bahwa individu dengan endometriosis yang telah dikonfirmasi melalui pembedahan, memiliki risiko keguguran dan kehamilan ektopik yang jauh lebih tinggi serta angka kehamilan seumur hidup lebih rendah. Studi yang diterbitkan di American Journal of Obstetrics & Gynecology ini menambah bukti jangka panjang tentang bagaimana endometriosis memengaruhi hasil reproduksi jauh sebelum dan sesudah diagnosis.
Lebih rinci, studi ini melibatkan 10.105 perempuan dengan diagnosis bedah pertama endometriosis antara tahun 1998 dan 2012. Para peneliti membandingkannya dengan 19.526 kontrol yang sesuai usia dan tempat tinggal.
Melalui data registri nasional, para peneliti mencatat semua kehamilan yang terjadi dari usia 15 tahun hingga akhir masa tindak lanjut. Hasil secara keseluruhan menunjukkan, perempuan dengan endometriosis memiliki insiden kehamilan seumur hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi tersebut.
Di antara kehamilan dengan hasil yang diketahui, kelahiran lebih jarang terjadi pada kelompok endometriosis, sedangkan keguguran dan kehamilan ektopik secara signifikan lebih sering terjadi. Setelah penyesuaian, endometriosis dikaitkan dengan risiko keguguran 51 persen lebih tinggi dan risiko kehamilan ektopik lebih dari dua kali lipat.
"Ini adalah bagian dari upaya penelitian jangka panjang yang telah kami lakukan tentang endometriosis," kata Oskari Heikinheimo dari Department of Obstetrics and Gynecology, Helsinki University Hospital dan University of Helsinki.
"Dengan menggunakan registri Finlandia, kami dapat melihat persalinan, keguguran, kehamilan ektopik, aborsi yang diinduksi, dan kehamilan mola, serta membandingkan angka kejadian hasil tersebut pada perempuan dengan endometriosis dibandingkan dengan individu kontrol," sambungnya, dilansir laman Contemporary Obgyn.
Heikinheimo menekankan bahwa temuan yang paling penting secara klinis melibatkan keguguran dini. Peneliti mencatat komplikasi ini diamati bahkan sebelum diagnosis bedah dan pada kehamilan pertama.
"Temuan yang paling menarik dan penting adalah bahwa angka kehamilan ektopik secara signifikan lebih tinggi di antara perempuan dengan endometriosis, dan demikian pula, angka keguguran secara signifikan juga lebih tinggi," ujarnya.
Hasil penelitian ini memang tidak mendukung skrining rutin untuk komplikasi kehamilan dini, Bunda. Namun, Heikinheimo mengatakan bahwa peningkatan kesadaran sangat penting untuk mencegah risiko endometriosis pada kehamilan.
"Menyadari peningkatan risiko kehamilan ektopik dan keguguran ini penting. Bukan untuk menakut-nakuti pasien, tetapi untuk memberikan informasi yang tepat dalam perawatan dan konseling," ujar Heikinheimo.
"Temuan tersebut memperkuat pentingnya diagnosis tepat waktu, yang memungkinkan pasien untuk merencanakan kehamilan dan mengakses dukungan reproduksi lebih awal."
|
|
Gejala endometriosis
Dikutip dari Mayo Clinic, endometriosis dapat menyebabkan nyeri, terutama selama periode menstruasi. Masalah kesuburan juga dapat berkembang pada perempuan yang didiagnosis endometriosis.
Secara detail, berikut gejala endometriosis yang perlu Bunda ketahui:
- Nyeri saat menstruasi
- Nyeri saat berhubungan seks
- Nyeri saat buang air besar atau buang air kecil
- Perdarahan berlebihan
- Infertilitas
Bunda yang didiagnosis endometriosis mungkin mengalami kelelahan, diare, sembelit, kembung, atau mual. Gejala-gejala tersebut lebih sering terjadi sebelum atau selama periode menstruasi.
Perlu dicatat, beberapa pengidap endometriosis tidak menunjukkan gejala. Seringkali, mereka baru mengetahuinya ketika tidak bisa hamil atau setelah menjalani operasi karena alasan lain.
Demikian penjelasan terkait endometriosis dan risiko keguguran serta kehamilan ektopik. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)