KEHAMILAN
Dokter Angkat 'Bayi Batu' 24 Minggu dari Perut Ibu Hamil di India
Melly Febrida | HaiBunda
Minggu, 15 Mar 2026 06:05 WIBFenomena bayi batu termasuk yang langka. Namun, seorang dokter di India berhasil mengangkat bayi batu berusia 24 minggu dari perut ibu hamil.
Istilah bayi batu tentu terdengar menyeramkan ya Bunda. Tapi dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan nama lithopedion atau stone baby.
Dokter di Rumah Sakit King George di Visakhapatnam, Andhra Pradesh, yang berhasil mengeluarkan sisa-sisa janin berusia 24 minggu yang mengeras dari rongga perut pasien seperti dilansir laman NDTV.
Lithopedion paling sering terjadi ketika janin meninggal selama kehamilan abdominal, terlalu besar untuk diserap kembali oleh tubuh, dan kemudian mengalami kalsifikasi.
Lithopedion dapat terjadi dari usia kehamilan 14 minggu hingga cukup bulan. Tidak jarang bayi batu tetap tidak terdiagnosis selama beberapa dekade dan baru ditemukan setelah menopause alami. Diagnosis sering terjadi ketika pasien diperiksa untuk kondisi lain yang memerlukan pemeriksaan sinar-X.
Proses pengambilan bayi batu
Pasien berusia 27 tahun dari distrik Anakapalle, seorang ibu dari dua anak, tiba di KGH pada minggu ketiga bulan Agustus. Ia menderita sakit perut yang parah. Dr. Vani, Profesor Obstetri di KGH kemudian melakukan pemindaian MRI, yang menunjukkan adanya massa kalsifikasi yang menyerupai 'sarang tulang' di perutnya.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, tim medis melakukan operasi pada tanggal 31 Agustus. Bayi batu yang terdiri dari tulang rusuk, tengkorak, tulang panggul, tulang belikat, dan lainnya diangkat. Operasi tersebut berhasil, dan perempuan tersebut pulih dengan baik.
Pada tahun 2015, seorang perempuan berusia 91 tahun di Chili, Estela Melendez, tidak mengetahui bahwa janin yang mengeras telah berada di rahimnya selama lebih dari 60 tahun hingga dokter menemukan sesuatu pada rontgennya ketika ia terjatuh.
Perempuan itu memiliki benjolan selama lebih dari 60 tahun tetapi tidak menyadari situasinya. Janin yang mengeras tersebut tidak menimbulkan risiko apa pun pada dirinya.
Penyebab kondisi bayi batu
Bayi batu dalam istilah medis dikenal sebagai lithopedion. Ini adalah kondisi medis yang sangat langka yang telah mempesona dan membingungkan para profesional medis dan orang awam selama berabad-abad.
Kondisi ini muncul ketika janin meninggal selama kehamilan ektopik dan kemudian mengalami kalsifikasi di luar rahim. Kalsifikasi tersebut melindungi ibu dari infeksi dengan membungkus janin dalam kalsium, yang pada dasarnya mengubahnya menjadi batu.
Dilansir Medicoverhospitals, penyebab utama lithopedion adalah kehamilan ektopik, yang terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim, paling sering di tuba fallopi. Dalam kasus yang sangat jarang, sel telur yang telah dibuahi dapat menempel di dalam rongga perut.
Jika janin tidak dapat bertahan hidup dan tidak dapat diserap kembali oleh tubuh, respons imun dapat memicu kalsifikasi untuk melindungi tubuh dari potensi infeksi.
Faktor yang berkontribusi pada pembentukan bayi batu
Beberapa faktor di bawah ini dapat berkontribusi pada pembentukan lithopedion, termasuk:
- Diagnosis tertunda: Dalam beberapa kasus, kehamilan ektopik mungkin tetap tidak terdiagnosis untuk jangka waktu yang lama, memungkinkan proses kalsifikasi dimulai.
- Lokasi implantasi: Lokasi kehamilan ektopik berperan penting dalam perkembangan lithopedion. Kehamilan abdominal lebih mungkin menyebabkan kalsifikasi.
- Usia ibu: Usia ibu yang lebih tua telah dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan pembentukan lithopedion karena perubahan anatomi dan fungsi reproduksi.
Gejala bayi batu
Lithopedion mungkin tetap tanpa gejala selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun, seringkali tidak terdeteksi sampai ditemukan secara tidak sengaja melalui pencitraan untuk masalah medis yang tidak terkait.
Ketika gejala muncul, biasanya berupa nyeri perut, massa yang teraba, atau gangguan pencernaan.
Mendiagnosis bayi batu
Diagnosis bayi batu biasanya melibatkan studi pencitraan, karena pemeriksaan fisik saja mungkin tidak memberikan informasi yang cukup. Modalitas pencitraan berikut ini umum digunakan:
- Ultrasonografi: Teknik pencitraan non-invasif ini dapat membantu mengidentifikasi struktur yang mengalami kalsifikasi di perut, meskipun mungkin tidak memberikan visualisasi detail lithopedion.
- Sinar-X: Pencitraan sinar-X sangat penting dalam mengidentifikasi struktur janin yang mengalami kalsifikasi dan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi tersebut.
- CT Scan atau MRI: Teknik pencitraan canggih ini dapat menawarkan gambar penampang perut yang detail, membantu dalam konfirmasi diagnosis lithopedion.
Lantas seperti apa penanganannya jika ditemukan bayi batu? Sebagian besar bergantung pada keberadaan gejala dan potensi komplikasi. Pada kasus tanpa gejala, pengobatan segera mungkin tidak diperlukan, dan kondisi tersebut dapat dipantau melalui pencitraan rutin.
- ntervensi bedah: Pengangkatan litopedion melalui pembedahan mungkin diperlukan jika pasien mengalami ketidaknyamanan, nyeri, atau komplikasi seperti infeksi atau obstruksi. Pendekatan bedah akan bervariasi berdasarkan lokasi dan ukuran litopedion, serta kesehatan pasien secara keseluruhan.
- Laparotomi: Prosedur bedah terbuka tradisional mungkin diperlukan untuk lithopedion yang lebih besar atau kasus yang kompleks.
- Laparoskopi: Pendekatan minimal invasif dapat digunakan untuk lithopedion yang lebih kecil, menawarkan waktu pemulihan yang lebih singkat dan mengurangi risiko komplikasi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Ibu Hamil Simpan Kolostrum Sebelum Bayi Lahir, Ini Kata Ahli
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
7 Kasus 'Janin Batu' yang Paling Mengejutkan di Dunia, Ada yang 92 Tahun Baru Diketahui
Mengenal Lithopedion, Fenomena Janin yang Membatu di Tubuh Ibu selama Bertahun-tahun
Kisah Huang Yijun, Perempuan China yang Simpan Bayi Batu di Tubuh hingga Berusia 92 Th
Mengenal Kehamilan Ektopik Terganggu, Ketahui juga Beragam Gejalanya
TERPOPULER
Kebersamaan Eross Candra dan Istri yang Baru Rayakan Wedding Anniversary ke-17, Bahagia Hidup di Yogyakarta
USG Ibu Hamil Ini Bikin Dokter Kaget, Ada Janin Sehat dan Janin yang Membatu dalam Perut
Arti Robbisrohli Sodri Wayassirli Amri dan Manfaatnya
10 Kalimat Perlu Didengar Anak dari Orang Tua dan Keluarga Menurut Psikolog
150 Nama Bayi Perempuan Terinspirasi dari Musik dan Artinya, Seindah Alunan Nada
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Blush On Stick Terbaik untuk Bikin Pipi Merona Natural dan Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Smart Door Lock Terbaik untuk Rumah Lebih Aman Anti Maling
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Mesin Cuci Termahal, Fitur Canggih dan Harganya Bikin Melongo
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Merk Baju Bayi Perempuan Baru Lahir yang Lucu dan Unik
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Produk Wardah yang Aman untuk Ibu Hamil, Lengkap dari Sabun Cuci Wajah-Suncreen
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Ramai Warga Keluhkan Gejala Influenza A Lebih Berat, Ini Kata Kemenkes
Kalahkan Bangladesh 9-2, Justin Hubner Persembahkan 1 Gol untuk Kamari
Arti Robbisrohli Sodri Wayassirli Amri dan Manfaatnya
USG Ibu Hamil Ini Bikin Dokter Kaget, Ada Janin Sehat dan Janin yang Membatu dalam Perut
150 Nama Bayi Perempuan Terinspirasi dari Musik dan Artinya, Seindah Alunan Nada
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Mau Coba Hijab Instan Two Tone Trendy? Ini Pilihannya
-
Beautynesia
7 Cara Merawat Kain Batik Agar Tidak Pudar
-
Female Daily
Song Hye Kyo Hadir di Bottega Veneta SS27, Intip Look-nya yang Chic dengan Sentuhan Edgy!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Sosok Sophia Dasser, Hijabers yang Ungkap Kasus Perkosaan Mahasiswi Cornell
-
Mommies Daily
Baju Batik Anak Laki-Laki: 8 Outfit Keren yang Tidak Terlihat Formal