Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kasus Langka! Janin Mengeras Tersimpan 50 Tahun di Perut Seorang Perempuan

Melly Febrida   |   HaiBunda

Jumat, 20 Mar 2026 13:00 WIB

Wanita hamil
Kasus Langka! Janin Mengeras Tersimpan 50 Tahun di Perut Seorang Perempuan/Foto: Getty Images/punyupa
Jakarta -

Sebuah kasus langka ramai dibahas, yakni janin mengeras yang tersimpan selama 50 tahun di perut perempuan. Kasus ini memang sangat jarang terjadi dan bukan sesuatu yang bisa terjadi pada kehamilan normal.

Fenomena ini, yang dikenal sebagai lithopedion, terjadi ketika janin meninggal selama kehamilan dan kemudian mengalami pengkalsifikasian di luar rahim.

Berdasarkan laporan BBC, kasus ini dialami perempuan di Chili beberapa tahun lalu. Perempuan yang membawa janin mengeras selama 50 tahun itu berusia setidaknya 90 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ia tak tahu ada janin mengeras di tubuhnya jika tak pergi ke rumah sakit di Kota San Antonio setelah jatuh. Keberadaan janin mengeras dengan berat 2 kilogram ini tertangkap setelah dilakukan tes sinar-X. 

Menurut kantor berita Efe, Marco Vargas Lazo, direktur rumah sakit menyebut kasus janin mengeras tersimpan 50 tahun itu "sangat langka". 

"Janin itu besar dan berkembang serta memenuhi seluruh rongga perutnya," kata Lazo.

Meski dokter menemukan janin mengeras tersebut, pasien dipulangkan. Dokter sewaktu itu mengatakan tidak akan mencoba mengeluarkan janin tersebut mengingat risiko yang bisa timbul jika pasien seusianya dioperasi.

Apa itu janin mengeras?

Janin mengeras adalah kondisi langka ketika sebuah struktur mirip janin ditemukan dalam tubuh individu, biasanya di area abdomen. Fenomena ini terjadi ketika janin meninggal selama kehamilan dan kemudian mengalami pengkalsifikasian di luar rahim.

Atau bahasa sederhananya janin yang mati di rahim atau tuba fallopi, tapi tidak bisa dikeluarkan secara alami. Alhasil, tubuh 'membekukan' janin dengan kalsifikasi, membentuk batu biologis agar jaringan mati tidak menimbulkan infeksi.

Melansir Radiology Case Report, lithopedion adalah salah satu komplikasi langka kehamilan ektopik, yang bermanifestasi sebagai massa terkalsifikasi di sebagian rongga perut atau panggul.

Istilah lithopedion berasal dari 2 kata Yunani, yakni lithos (batu) dan payion (anak). Ini pertama kali dijelaskan pada abad ke-10 oleh Albucasis, seorang pelopor bedah modern.

Fenomena ini langka, terjadi pada 1,5 persen-2 persen kehamilan ektopik dan menyumbang 0,0054 persen dari semua kehamilan. Usia pasien berkisar antara 30 hingga 100 tahun, sedangkan durasi retensi lithopedion berkisar antara 4 hingga 60 tahun.

Lithopedion adalah konsekuensi yang sangat jarang terjadi pada kehamilan ektopik. Massa ini dapat tetap tanpa gejala di dalam tubuh ibu selama bertahun-tahun hingga ditemukan secara tidak sengaja setelah pencitraan atau pembedahan.

Dikutip dari Journal of Medical Case Reports, lithopedion terjadi ketika tubuh melakukan mekanisme pertahanan alami dengan mengkalsifikasi jaringan janin, sehingga menghindari nekrosis dan infeksi berbahaya.

Janin mengeras tak menunjukkan gejala?

Janin mengeras ini bisa bertahan puluhan tahun, kadang baru ditemukan pada usia tua saat pemeriksaan abdomen. Kasus-kasus yang tercatat sebelumnya juga melibatkan perempuan yang tidak menyadari keberadaan janin tersebut hingga beberapa dekade kemudian.

Janin mengeras seringkali asimtomatik, dan dalam kebanyakan kasus pasien tidak menyadari kondisinya. Nyeri perut yang tidak jelas, sembelit kronis, volvulus sekum, obstruksi usus, pembentukan fistula, uropati obstruktif, dan abses panggul termasuk di antara efek samping lithopedion yang mungkin terjadi.

Diagnosis massa kalsifikasi hanya didasarkan pada pencitraan abdomen dan panggul untuk menyingkirkan kemungkinan cedera akibat kecelakaan. 

Sebuah laporan pada tahun 2000 menyajikan kasus pertama lithopedion sebagai abses panggul. Meskipun diagnosis janin mengeras ini sulit, terkadang lithopedion diidentifikasi sebagai massa abdomen atau panggul yang teraba pada pemeriksaan fisik.

Namun, dalam kebanyakan kasus, diagnosis terjadi selama operasi, otopsi, atau pencitraan abdomen, dan panggul.

Pada pemeriksaan sonografi, dimungkinkan untuk mengamati rongga rahim yang kosong dan massa abdomen yang terkalsifikasi dengan fitur nonspesifik. Selain itu, CT scan dan magnetic resonance imaging (MRI) scan dapat memberikan diagnosis definitif.

Mengamati massa kalsifikasi di panggul dapat mengindikasikan berbagai patologi, seperti tumor ovarium, fibroid rahim, batu kandung kemih, neoplasma kalsifikasi, aneurisma kalsifikasi, massa inflamasi, kalsifikasi jaringan lunak distrofik, lithopedion, dan benda asing.

Berbagai penelitian menganggap status sosial ekonomi yang rendah dan kurangnya perawatan selama kehamilan berhubungan dengan terjadinya fenomena janin mengeras.

Belakangan, kasus lithopedion menurun karena peningkatan perawatan prenatal dan teknik paraklinis yang lebih baik yang secara akurat menentukan kehamilan. Karena dengan menggunakan protokol diagnostik, dimungkinkan untuk membedakan kehamilan ektopik dari jenis intrauterin.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda