KEHAMILAN
Tingkat Kesuburan di Singapura Turun ke Titik Terendah Sepanjang Sejarah, Apa Penyebabnya?
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Jumat, 27 Mar 2026 12:00 WIBNegara Singapura tengah menghadapi kondisi demografi tak terduga. Tingkat kesuburan di negara ini turun ke titik terendah sepanjang sejarah, Bunda.
Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong mengatakan bahwa tingkat kesuburan total Singapura turun secara signifikan ke titik terendah, yaitu 0,87 pada tahun 2025. Tingkat kesuburan dilaporkan turun di bawah 1,0 untuk pertama kalinya pada tahun 2023 menjadi 0,97, dan angka tersebut tetap sama di 2024.
Pertumbuhan populasi di negara ini juga dilaporkan telah melambat selama 10 tahun terakhir atau turun dari rata-rata 0,9 persen per tahun antara tahun 2015 dan 2020, menjadi 0,8 persen per tahun selama periode 2020 hingga 2025. Penurunan terjadi bahkan setelah adanya imigrasi.
"Jika tidak ada tindakan baru yang diambil, populasi warga negara kita akan mulai menyusut pada awal tahun 2040-an," kata Gan Kim Yong, dilansir laman Channel New Asia.
Bila diasumsikan angka kesuburan total tetap di negara ini berada di angka 0,87, maka itu artinya setiap 100 penduduk saat ini akan memiliki 44 anak dan 19 cucu. Seiring waktu, 'hampir mustahil' untuk membalikkan tren tersebut, karena Singapura akan memiliki lebih sedikit perempuan yang dapat melahirkan anak.
"Kita tidak boleh menyerah," ungkap Gan Kim Yong.
Lebih lanjut, Gan Kim Yong menyampaikan bahwa angka kelahiran yang rendah dan populasi yang menua akan 'membentuk kembali' Singapura. Tak hanya itu, kondisi tersebut juga akan memengaruhi ekonomi negara ini di tahun-tahun mendatang, Bunda.
Pada tahun 2025, negara Singapura setidaknya mencatat angka kelahiran terendah dalam sejarahnya. Angka kelahiran di negara ini sekitar 27.500 di tahun lalu.
"Tren secara keseluruhan juga sangat mengkhawatirkan. Tingkat pernikahan telah menurun, dan mereka yang sudah menikah memiliki lebih sedikit anak atau tidak memiliki anak sama sekali," ujar Gan Kim Yong.
Masalah lain muncul. Populasi di Singapura juga menua lebih cepat dari sebelumnya. Pada tahun 2025, satu dari lima warga berusia 65 tahun atau lebih, dibandingkan dengan satu dari 8 di tahun 2015.
|
|
Upaya pemerintah untuk mengatasi tingkat kesuburan yang menurun
Untuk mengubah tren angka kesuburan total, pemerintah Singapura tidak bisa menggantungkan solusinya pada kebijakan saja. Menurut Menteri di Kantor Perdana Menteri, Indranee Rajah, negara membutuhkan penataan ulang pernikahan dan peran individu sebagai orang tua.
"Singapura harus mengubah tiga bidang, bagaimana pernikahan dan peran orang tua dipandang dan didukung, bagaimana tempat kerja dapat berkembang untuk lebih menyelaraskan pekerjaan dan keluarga, dan bagaimana setiap orang dapat memainkan perannya," kata Indranee Rajah.
"Pemerintah akan membentuk kelompok kerja baru dengan lembaga-lembaga terkait untuk meneliti masalah-masalah ini secara holistik dan melibatkan secara luas anggota masyarakat, dunia usaha, dan sektor masyarakat," tambahnya.
Inisiatif tersebut akan memanfaatkan upaya yang ada saat ini untuk meningkatkan dukungan pemerintah terhadap pernikahan dan pengasuhan anak, menumbuhkan pola pikir positif, dan bekerja sama dengan para pemberi kerja untuk mendorong budaya dan praktik tempat kerja yang ramah keluarga.
Indranee Rajah bahwa pemerintah akan mempertimbangkan saran yang diajukan oleh anggota parlemen, termasuk menambahkan cuti perawatan anak dan memberikan lebih banyak dukungan biaya bagi orang tua.
Penyebab warga Singapura menolak punya anak
Beberapa warga Singapura berusia 30-an dan 40-an yang diwawancarai oleh This Week in Asia menyebut bahwa biaya hidup, perasaan puas tanpa anak, dan tanggung jawab lainnya (merawat saudara kandung dengan kebutuhan khusus), sebagai alasan utama tidak ingin memiliki anak. Demikian seperti melansir dari laman South China Morning Post (SCMP).
Pandangan mereka muncul meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya yang pro-keluarga, termasuk subsidi perawatan anak dan peningkatan cuti orang tua berbayar, yang pada bulan April akan berjumlah 30 minggu di seluruh skema cuti melahirkan, cuti ayah, dan cuti bersama.
Namun menurut penasihat hukum Joshua Chiam, dukungan keuangan sementara yang besar pun kemungkinan tidak akan mampu menutupi biaya jangka panjang dalam membesarkan anak. Hal itu memicu kecemasan kaum muda hingga memutuskan untuk tidak ingin menjadi orang tua.
"Saya rasa subsidi tersebut tidak akan membuat perbedaan yang signifikan terhadap keputusan saya mengingat jumlahnya mungkin tidak akan banyak membantu menutupi keseluruhan biaya membesarkan anak," ungkap Chiam.
Hal yang sama juga diungkapkan kepala Social Lab di Institute of Policy Studies, Mathew Mathews. Menurutnya, Singapura harus mengatasi kecemasan struktural yang membuat pengasuhan anak terasa berisiko bagi banyak warganya.
"Warga Singapura cenderung memiliki pandangan jangka panjang, jadi bantuan langsung untuk anak-anak tidak akan cukup. Mereka ingin melihat lingkungan di mana 'hukuman' karier jangka panjang yang terkait dengan menjadi orang tua dikurangi dan ada dukungan yang cukup di rumah untuk membesarkan anak-anak mereka," kata Mathews.
Demikian informasi terkait tingkat kesuburan di Singapura yang menurun, serta penyebab angka kelahiran di negara ini juga menurun.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Mulut Rahim Menonjol Keluar
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Rumah Sakit Singapura Jadi Incaran Banyak Pasutri Pilih Jalani Bayi Tabung, Alasannya...
Rumah Sakit di Singapura Mulai Kewalahan, Semakin Banyak Pasangan Ingin Jalani IVF
Syahrini Melahirkan Anak Pertama di Singapura, Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun
Singapura Berikan Bonus pada Pasutri yang Ingin Punya Anak Selama Pandemi
TERPOPULER
10 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Membalas Chat Lama Menurut Ilmu Psikologi
Cerita 'Layangan Putus' Kembali Viral, Dokter Eca Beri Tanggapan yang Bikin Adem
10 Arti Mimpi Keguguran saat Hamil dan Penjelasannya
Tingkat Kesuburan di Singapura Turun ke Titik Terendah Sepanjang Sejarah, Apa Penyebabnya?
Dear Bunda, Menteri Bahlil Ingatkan Jika Masakan Sudah Matang Jangan Boros Gas Kompor
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Micellar Water untuk Kulit Kering, Bikin Wajah Tetap Lembap
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Snack MPASI Bayi untuk Finger Food & Mudah Dibawa
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Ide Menu Siap Saji Lebaran Hemat tapi Tetap "Wah" untuk Keluarga Besar
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Bumbu Dapur Sachet, Bikin Masak Menu Lebaran Lebih Cepat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Cushion untuk Kulit Berminyak yang Bikin Make-up Tahan Lama
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Ayah Vidi Aldiano Ungkap Rencana Sang Putra untuk Naik Haji Tahun Ini
Kanker Ginjal Bisa Terdeteksi Lewat Urine, Ini Gejala yang Perlu Bunda Waspadai
10 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Membalas Chat Lama Menurut Ilmu Psikologi
10 Arti Mimpi Keguguran saat Hamil dan Penjelasannya
Pemeran Baru Harry Potter Series Curi Perhatian, Sosok Draco Malfoy & Voldemort Jadi Sorotan
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Orang Tua Vidi Aldiano Terharu Lihat Aksi Fans yang Setia Sampai ke Makam
-
Beautynesia
Mengapa Orang yang Benar-Benar Baik Hati Sering Disalahpahami? Ini Alasan yang Sering Tidak Disadari
-
Female Daily
3 Treatment Setelah Mudik untuk Badan Rileks Maksimal
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Finalis Miss Grand Thailand Viral, Veneer Giginya Tiba-Tiba Lepas di Panggung
-
Mommies Daily
Andi JG: Belajar Jadi Ayah yang Utuh, Hadir, dan Penuh Rasa Ingin Tahu