Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Hikaru Fujita, Jadi Sorotan karena Umumkan Kehamilan di Tengah Arena Pemilu Jepang

Amrikh Palupi   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Mar 2026 17:30 WIB

Hikaru Fujita
Kisah Hikaru Fujita, Jadi Sorotan karena Umumkan Kehamilan di Tengah Arena Pemilu Jepang/Foto: Instagram @fujita_hikaru
Daftar Isi
Jakarta -

Kisah Hikaru Fujita menjadi sorotan publik Jepang dan dunia ketika ia mengumumkan bahwa dirinya sedang hamil saat mencalonkan diri dalam pemilihan parlemen Jepang. Keputusan berani ini tidak hanya mencuri perhatian media, tetapi juga memicu diskusi luas tentang peran perempuan, kehamilan, dan kesetaraan gender dalam dunia politik Jepang yang selama ini didominasi laki-laki.

Langkahnya dianggap sebagai simbol perubahan sekaligus tantangan terhadap budaya patriarki yang masih kuat di Jepang. Berikut kisah lengkap Hikaru Fujita perempuan yang gebrak pemilu dengan pernyataan hamilnya.

Umumkan kehamilan di tengah kampanye

Selama berminggu-minggu menjalani masa kampanye, Hikaru Fujita, kandidat parlemen Jepang berusia 35 tahun, menyimpan sebuah rahasia besar. Ia sedang mengandung anak pertamanya, sebuah kabar bahagia bagi dirinya dan sang suami.

Namun, di tengah ketatnya persaingan politik, Hikaru Fujita sempat khawatir bahwa pengumuman kehamilannya justru akan merugikan peluangnya dalam pemilu. Akhirnya pada akhir Januari, Hikaru Fujita memutuskan untuk terbuka kepada publik melalui media sosial dan mengumumkan bahwa dirinya telah 'dikaruniai kehidupan baru'.

"Saya ingin menunjukkan bahwa bahkan perempuan hamil pun bisa mencalonkan diri. Saya ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda," ujar  Hikaru Fujita dari Prefektur Nagano dalam sebuah wawancara dikutip dari laman Japantimes.

Reaksi publik terhadap pengumuman Hiraku Fujita

Setelah pengumuman tersebut, media sosial dipenuhi berbagai reaksi. Banyak orang memberikan ucapan selamat dan dukungan kepada Hikaru Fujita. Namun tidak sedikit pula yang melontarkan komentar negatif. Beberapa pengguna media sosial bahkan menyatakan bahwa ia seharusnya fokus menjadi ibu rumah tangga saja.

Ada juga yang menyebut bahwa cuti melahirkan bagi seorang politisi hanya akan membebani uang pajak masyarakat. Meski demikian, pengakuan Hikaru Fujita tentang kehamilannya justru membuka diskusi penting mengenai posisi perempuan dalam dunia kerja dan politik di Jepang.

Menantang sistem patriarki di politik Jepang

Dengan keberaniannya Hikaru Fujita menjadi simbol perlawanan terhadap sistem patriarki yang masih kuat di Jepang. Ia mencalonkan diri untuk kursi di House of Representatives of Japan sebagai kandidat dari Liberal Democratic Party.

Dalam pemilihan parlemen tersebut, Hikaru Fujita menjadi salah satu dari jumlah perempuan terbanyak yang mencalonkan diri dalam pemilihan parlemen hari Minggu. Dari total 1.285 kandidat, terdapat sekitar 313 perempuan atau hampir seperempatnya.

Meskipun pada musim gugur lalu Sanae Takaichi terpilih sebagai perdana menteri, perempuan pertama yang menduduki jabatan tersebut perempuan masih sangat kurang terwakili dalam politik Jepang. Mereka hanya menempati sekitar 16 persen kursi di House of Representatives of Japan.

Perempuan yang sedang hamil juga jarang terjun ke politik nasional. Selama ini hanya segelintir yang pernah mencalonkan diri dalam pemilihan tingkat lokal. Banyak pihak menilai hal ini dipengaruhi oleh diskriminasi di tempat kerja terhadap ibu muda. Di Jepang bahkan ada istilah khusus untuk fenomena ini, yaitu matahara, singkatan dari maternity harassment.

Dukungan dari Perdana Menteri Jepang

Langkah Fujita juga mendapatkan perhatian dari Sanae Takaichi, yang merupakan perdana menteri perempuan pertama Jepang. Meskipun dikenal sebagai politisi konservatif yang jarang berbicara tentang isu gender, Takaichi secara langsung datang ke Nagano untuk memberikan dukungan kepada Fujita dalam masa kampanye.

Ia berharap Liberal Democratic Party dapat memperoleh cukup kursi dalam pemilu untuk meraih mayoritas dan menjalankan agenda politiknya.

"Tidak ada orang yang lebih luar biasa daripada dia. Tolong berikan dia kekuatan," kata Sanae Takaichi di Nagano. 

Latar belakang karier Hikaru Fujita

Sebelum terjun ke dunia politik, Kisah Hikaru Fujita juga menunjukkan perjalanan karier yang mengesankan. Hikaru Fujita bekerja menangani isu-isu seperti keamanan ekonomi dan program rudal Korea Utara di Ministry of Foreign Affairs of Japan. Ia juga pernah bekerja sebagai konsultan di McKinsey & Company.

Fujita mengatakan bahwa ia terdorong untuk mencalonkan diri setelah melihat rumah-rumah dan lahan pertanian di Nagano semakin kosong karena banyak penduduk pindah ke kota. Ia juga merasa sistem politik Jepang kini terlalu terfragmentasi dan birokratis.

Agenda kampanye untuk perempuan dan keluarga

Dalam masa kampanyenya, Hikaru Fujita menawarkan sejumlah kebijakan yang ditujukan untuk menarik dukungan perempuan dan keluarga. Kebijakan tersebut antara lain mengatasi kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan serta memperluas layanan penitipan anak. 

Ia juga menekankan pentingnya mengambil waktu untuk beristirahat. Slogan kampanyenya adalah “Berusaha sebaik mungkin tanpa memaksakan diri bekerja berlebihan.” Salah satu hal menarik dalam kisah Hikaru Fujita adalah dukungan penuh dari suaminya, Tomohiro Fujita. Sang suami sebagai wakil atau pendamping dalam kampanye. 

Tomohiro bahkan mengambil cuti dari pekerjaannya sebagai profesor fisika untuk membantu memimpin kampanye tersebut. Ia kerap tampil bersama Hikaru Fujita sambil mengenakan kupluk putih yang bertuliskan kata dalam bahasa Jepang yang berarti 'suami'.

Hikaru Fujita mengatakan bahwa komentar negatif tentang pencalonan dirinya terasa 'mengecilkan hati dan mengecewakan'. Meski begitu, ia berusaha untuk tidak terlalu mempedulikannya.

"Hal itu sedikit memengaruhi saya. Namun pada akhirnya, semua komentar itu sebenarnya tidak terlihat," katanya dalam wawancara. 

Tantangan sikap tradisional dalam kampanye

Meski mendapatkan banyak dukungan, Fujita tetap menghadapi berbagai sikap tradisional selama kampanye. Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa pertemuan, para pria sering tidak melakukan kontak mata dengannya dan justru melihat ke arah suaminya.

"Saya tidak merasa nyaman dengan hal itu, tetapi saya juga merasa mereka tidak melakukannya dengan sengaja. Mereka melakukannya secara tidak sadar," kata Fujita.

Suaminya, Tomohiro Fujita, mengatakan bahwa para pria tampaknya merasa gugup ketika duduk di hadapan seorang perempuan yang kuat.

“Mereka merasa lebih nyaman berbicara dengan saya,” ujarnya.

Harapan Hikaru Fujita bagi perempuan Jepang

Di balik segala tantangan tersebut,  Hikaru Fujita membawa pesan penting tentang masa depan perempuan dalam politik Jepang. Hikaru Fujita berharap kampanyenya dapat membantu menantang pandangan lama tentang siapa yang bisa memegang kekuasaan dalam masyarakat Jepang.

Hikaru Fujita menyadari bahwa kegagalannya bisa berdampak besar pada persepsi masyarakat.  Karena itu, ia bertekad menjalankan kampanye sebaik mungkin sambil tetap menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya selama kehamilan.

"Jika saya gagal, saya khawatir akan ada lebih sedikit kesempatan bagi perempuan muda. Tugas saya adalah menjalankan kampanye yang kuat, tetapi juga tetap menjaga kesehatan dan keselamatan saya," tuturnya. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda