HaiBunda

KEHAMILAN

Kisah Ibu Hamil Ditolak Operasi Berujung Ditolong Dokter Bedah yang Juga Sedang Hamil

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Minggu, 12 Apr 2026 08:30 WIB
Kisah Ibu Hamil Ditolak Operasi Berujung Ditolong Dokter Bedah yang Juga Sedang Hamil/Foto: Getty Images/mustafagull
Jakarta -

Kehamilan biasanya identik dengan kebahagiaan. Tapi bagi seorang ibu bernama Kate Johnson, masa kehamilannya justru berubah jadi ujian yang tak pernah ia bayangkan.

Bukan hanya harus menghadapi cedera serius, ia juga sempat ditolak oleh banyak dokter hanya karena sedang hamil. Namun di tengah keputusasaan, harapan datang dari sosok yang tak terduga: seorang dokter bedah yang ternyata juga sedang mengandung. Berikut kisahnya dikutip dari Nypost.

Liburan yang berubah jadi mimpi buruk

Awalnya, Kate dan suaminya berencana menikmati liburan ski ke Jepang. Tepat sebelum berangkat, mereka mengetahui bahwa Kate sedang hamil. Karena usia kehamilan masih sangat awal, ia tetap ikut bermain ski. Namun nahas, sebuah kecelakaan terjadi. Ia terjatuh dan mendengar suara 'retakan' dari lututnya.


Jatuhnya Johnson terjadi pada hari kedua bermain ski di daerah Nagano, lokasi Olimpiade Musim Dingin 1998. Ia dan Sean dipandu oleh seorang pemandu menaiki dan menuruni gunung serta menyusuri lembah di dekatnya.

“Saat menuruni lereng untuk kedua kalinya, saya seperti tersandung. Kecepatan saya sedikit terlalu tinggi, dan saya terjatuh ke belakang,” kenang Kate. “Dan ketika itu terjadi, saya mendengar suara letupan,” lanjutnya. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan cedera yang cukup parah yakni robek total ligamen ACL dan robekan meniskus.

Ditolak banyak dokter karena hamil

Setelah kembali ke negaranya, Kate mencari bantuan medis. Namun yang ia terima justru penolakan. Johnson mendarat di rumah sakit terdekat, di mana dokter mencurigai cedera tendon patella tetapi tidak melakukan MRI. Banyak dokter menghindari MRI pada trimester pertama sebagai tindakan pencegahan, meskipun tidak ada efek berbahaya yang terbukti pada janin.

Sekitar 15 hingga 20 dokter menyarankan hal yang sama yaitu menunda operasi sampai setelah melahirkan. Sebab ia harus melewati banyak rintangan hanya untuk mendapatkan MRI, yang mengungkapkan robekan total pada ACL-nya dan robekan pada meniskusnya, bantalan tulang rawan di lutut yang menyerap guncangan dan memberikan stabilitas.

“Saya memiliki riwayat depresi, kecemasan, dan gangguan makan, jadi gerakan sangat penting bagi saya untuk mengatur diri saya sendiri,” jelasnya.

Alasan mereka cukup masuk akal:

  • Risiko anestesi pada janin
  • Potensi komplikasi kehamilan
  • Kekhawatiran kurangnya data keamanan operasi pada ibu hamil

Padahal, jika dibiarkan, cedera tersebut bisa menyebabkan kerusakan permanen pada lututnya.

Harapan datang dari dokter yang sama-sama hamil

Di tengah kebingungan, Kate akhirnya bertemu dengan seorang dokter ortopedi bernama Dr. Abigail Campbell. Yang membuat kisah ini begitu menyentuh, dokter tersebut juga sedang hamil.

Berbeda dari dokter sebelumnya, ia mempertimbangkan kondisi Kate secara menyeluruh. Ia pun berani mengambil keputusan untuk melakukan operasi, dengan prosedur yang disesuaikan agar tetap aman bagi ibu dan janin.

Operasi akhirnya dilakukan saat usia kehamilan Kate memasuki sekitar 16 minggu. Secara medis, ini bukan keputusan sembarangan, Bunda.

Berbagai studi menyebutkan bahwa trimester kedua adalah waktu paling aman untuk operasi saat hamil, karena Risiko keguguran lebih rendah dibanding trimester pertama dan Risiko persalinan prematur lebih kecil dibanding trimester ketiga

Selama operasi, tim medis melakukan berbagai langkah pengamanan:

  • Menggunakan anestesi spinal (bukan total)
  • Memantau kondisi janin
  • Menggunakan pelindung khusus saat prosedur X-ray

“Trimester kedua lebih disukai untuk prosedur elektif pada pasien hamil karena risiko keguguran spontan yang meningkat pada trimester pertama dan risiko persalinan prematur (yang lebih tinggi pada trimester ketiga),” kata Campbell.

Johnson menjalani anestesi spinal untuk rekonstruksi ACL dan perbaikan meniskus. Seluruh prosedur memakan waktu lebih dari 90 menit, selama itu bayi Johnson dipantau untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.

Pasca prosedur, Johnson memiliki jaringan parut dan beberapa malam mengalami sindrom kaki gelisah, tetapi pemulihannya berjalan "mengejutkan" dengan baik. Itu kabar baik karena dia menghindari obat penghilang rasa sakit selama kehamilan.

Ibu dan bayi sama-sama selamat

Operasi berjalan lancar. Meski harus menjalani pemulihan tanpa obat pereda nyeri tertentu, Kate berhasil pulih melalui terapi fisik. Kabar bahagianya, ia melahirkan bayi laki-laki yang sehat.

Sementara itu, sang dokter juga berhasil menjalani kehamilannya dengan baik dan melahirkan bayinya. Dua ibu, dua bayi, dan satu keputusan berani yang mengubah segalanya.

Amankah operasi saat hamil?

Pertanyaan ini wajar banget muncul di benak Bunda. Mendengar kata 'operasi' saja sudah bikin khawatir, apalagi saat sedang mengandung. Tapi secara medis, jawabannya adalah: operasi saat hamil bisa aman, selama dilakukan dengan pertimbangan yang tepat.

Dalam dunia medis, operasi pada ibu hamil bukan hal yang sangat langka. Penelitian menunjukkan sekitar 0,5–2 persen ibu hamil di dunia pernah menjalani operasi non-kehamilan. Artinya, kondisi ini sudah cukup sering ditangani, dan dokter memiliki panduan khusus untuk menjaga keselamatan ibu dan janin.

Kunci utamanya ada pada keseimbangan antara risiko dan manfaat. Jika kondisi ibu bisa memburuk tanpa tindakan, maka operasi justru menjadi pilihan terbaik. Sebaliknya, jika tidak mendesak, biasanya dokter akan menyarankan untuk menunda hingga setelah persalinan.

Secara umum, waktu paling aman untuk menjalani operasi adalah pada trimester kedua, yaitu sekitar usia kehamilan 13 hingga 26 minggu. Di fase ini, kondisi janin sudah lebih stabil dibanding trimester pertama, sementara risiko kontraksi dini juga belum sebesar di trimester ketiga. Itulah mengapa banyak prosedur medis direncanakan pada periode ini.

Meski begitu, bukan berarti operasi sepenuhnya tanpa risiko. Beberapa kemungkinan seperti keguguran, persalinan prematur, atau bayi lahir dengan berat badan rendah tetap ada. Namun penting dipahami, risiko ini tidak selalu berasal dari tindakan operasinya saja, melainkan juga dari kondisi penyakit yang dialami ibu.

Salah satu hal yang sering membuat dokter berhati-hati adalah penggunaan anestesi. Banyak Bunda khawatir obat bius bisa berdampak pada janin. Kabar baiknya, hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa anestesi modern menyebabkan cacat pada janin manusia jika digunakan sesuai prosedur. Biasanya dokter akan memilih metode yang paling aman, seperti anestesi lokal atau spinal, untuk meminimalkan paparan pada bayi.

Selain itu, operasi pada ibu hamil tidak dilakukan secara sembarangan. Penanganannya melibatkan tim medis lengkap, mulai dari dokter kandungan, dokter bedah, hingga dokter anestesi. Semua bekerja bersama untuk memastikan kondisi ibu dan janin tetap stabil sebelum, selama, dan setelah prosedur.

Yang perlu Bunda pahami, tidak semua operasi bisa ditunda. Dalam kondisi tertentu, seperti cedera serius, infeksi berat, atau risiko kerusakan organ, menunda justru bisa lebih berbahaya. Dalam situasi seperti ini, tindakan medis yang tepat justru bisa menyelamatkan dua nyawa sekaligus.

Jadi, jika suatu saat Bunda dihadapkan pada keputusan ini, cobalah untuk tidak langsung panik. Diskusikan dengan dokter, pahami risikonya, dan jangan ragu mencari pendapat kedua. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan Bunda adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan Si Kecil juga.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!



(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Cerita Bayi Tabung Pertama di AS

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Kisah Ibu Hamil Ditolak Operasi Berujung Ditolong Dokter Bedah yang Juga Sedang Hamil

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

11 Tanda Tersembunyi Lawan Bicara Kamu Orang yang Punya IQ Sangat Tinggi

Mom's Life Amira Salsabila

Akui Lebih Tenang Jadi 'Orang Biasa', Intip Potret Feby Fabiola yang Kini Tinggal di Bali

Mom's Life Annisa Karnesyia

Alasan Otak Anak Berubah di Usia 6 Tahun, Sering Disebut 'Pubertas Gigi Goyang'

Parenting Indah Ramadhani

500 Nama Bayi Perempuan Menurut Islam dan Alquran Beserta Artinya

Nama Bayi Indah Ramadhani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Kenali Cara Menghilangkan Ambeien pada Ibu Hamil yang Aman

7 Drama Korea Terbaru April 2026 yang Diprediksi Raih Rating Tinggi

11 Tanda Tersembunyi Lawan Bicara Kamu Orang yang Punya IQ Sangat Tinggi

Alasan Otak Anak Berubah di Usia 6 Tahun, Sering Disebut 'Pubertas Gigi Goyang'

500 Nama Bayi Perempuan Menurut Islam dan Alquran Beserta Artinya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK