KEHAMILAN
Peneliti Temukan Sperma Lebih Berkualitas bila Ejakulasi Dilakukan Lebih Sering
Amrikh Palupi | HaiBunda
Jumat, 10 Apr 2026 20:40 WIBSperma berkualitas menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan keberhasilan kehamilan, baik secara alami maupun melalui program seperti IVF. Selama ini, banyak pria dianjurkan untuk menahan ejakulasi selama beberapa hari sebelum menjalani tes kesuburan atau perawatan reproduksi.
Namun, penelitian terbaru justru mempertanyakan praktik tersebut. Studi terbaru menemukan bahwa ejakulasi yang lebih sering dapat membantu menjaga sperma berkualitas tetap optimal. Simak penjelasan selengkapnya berikut.
Penelitian menunjukkan bahwa sperma yang terlalu lama berada di dalam tubuh pria cenderung mengalami penurunan kualitas. Semakin lama tidak ejakulasi, semakin besar kemungkinan sperma mengalami kerusakan DNA dan stres oksidatif, serta hasil tes yang menilai sperma menjadi kurang layak dan kemampuan berenangnya menurun.
"Pada pria, efek negatif yang kami temukan terhadap kerusakan DNA sperma dan kerusakan oksidatif cukup besar, sehingga kami yakin ini merupakan efek yang bermakna secara biologis dan penting," ujar Dr. Krish Sanghvi, seorang ahli biologi di University of Oxford dan penulis utama studi tersebut dikutip dari laman Theguardian.
Sperma lebih berkualitas bila ejakulasi dilakukan lebih sering?
Temuan ini bukan berasal dari satu penelitian kecil. Para ilmuwan melakukan meta-analisis besar yang melibatkan 115 studi pada manusia dengan hampir 55.000 pria serta 56 studi pada lebih dari 30 spesies non-manusia. Hasilnya konsisten, baik pada manusia maupun hewan, kualitas sperma menurun jika terlalu lama tersimpan dalam tubuh, terlepas dari usia pria.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the Royal Society B, yang menambah kredibilitas temuan tersebut.
Pedoman WHO: Fokus pada jumlah, bukan kualitas
Saat ini, World Health Organization (WHO) merekomendasikan pria untuk menahan ejakulasi selama 2–7 hari sebelum tes kesuburan atau IVF. Namun, pedoman tersebut dirancang untuk mendapatkan jumlah sperma tertinggi, bukan untuk mengutamakan kualitas sperma terbaik. Inilah yang menjadi dasar para peneliti untuk mulai mempertimbangkan ulang rekomendasi tersebut, terutama dalam konteks keberhasilan pembuahan.
"Yang kami sarankan adalah agar para klinisi dan pasangan mempertimbangkan kembali apakah menahan ejakulasi dalam waktu lama selalu baik, karena hal itu justru dapat menyebabkan penurunan kualitas sperma,” kata Krish Sanghvi.
"Jika jumlah sperma adalah satu-satunya hal yang penting bagi klinik atau pasangan, maka menahan ejakulasi bukanlah hal yang buruk. Namun biasanya, keberhasilan pembuahan tidak hanya ditentukan oleh jumlah sperma, tetapi juga kualitasnya, misalnya dalam prosedur IVF," imbuh Krish Sanghvi.
Meskipun studi dari Oxford tidak menemukan dampak masa pantang terhadap tingkat pembuahan pada manusia, uji klinis terbaru yang melibatkan 453 pasangan justru menunjukkan adanya hubungan.
Dalam uji tersebut, dokter IVF membandingkan tingkat kehamilan pada dua kelompok pasangan. Pria pada kelompok pertama menahan ejakulasi kurang dari dua hari sebelum memberikan sampel sperma untuk perawatan IVF.
Sementara itu, pria pada kelompok kedua mengikuti rekomendasi World Health Organization (WHO) dengan menahan ejakulasi selama dua hingga tujuh hari. Hasilnya, tingkat kehamilan mencapai 46 persen pada kelompok yang menahan ejakulasi kurang dari 48 jam dan hanya 36 persen pada kelompok yang menahan lebih lama.
Bagi pasangan yang mencoba hamil secara alami, rentang waktu antara dua hingga tujuh hari mungkin masih masuk akal. Jika terlalu lama menahan ejakulasi, sperma bisa mengalami kerusakan dan kurang lincah. Namun jika terlalu sering, jumlah atau kematangan sperma mungkin belum optimal.
"Bagi pasangan, rekomendasi kami adalah bahwa pantang dalam waktu lama tidak selalu baik, dan perlu ada keseimbangan antara jumlah dan kualitas," kata Krish Sanghvi.
Pendapat ahli: Sperma segar lebih unggul
Profesor Allan Pacey dari University of Manchester mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa waktu pantang yang lebih singkat bisa bermanfaat saat menjalani reproduksi berbantu seperti IVF. Hal ini karena dengan waktu pantang yang singkat, sperma menjadi lebih segar, lebih motil, dan memiliki tingkat kerusakan DNA yang lebih rendah.
"Aturan pantang dua hingga tujuh hari tetap penting diikuti bagi pria yang menjalani analisis semen pada tahap diagnosis, karena memungkinkan hasilnya dibandingkan dari waktu ke waktu antar laboratorium serta dengan standar internasional. Namun, hal ini tidak terlalu penting ketika perawatan IVF benar-benar dilakukan," tuturnya.
Allan Pacey menambahkan bahwa dalam teknologi seperti ICSI, jumlah sperma tidak lagi menjadi faktor utama, sehingga kualitas menjadi jauh lebih penting.
"Untuk teknologi reproduksi berbantu (ART), yang lebih penting kemungkinan adalah mendapatkan sperma yang paling segar dan paling sehat. Perawatan IVF tetap bisa dilakukan meskipun jumlah sperma rendah, bahkan lebih rendah lagi jika menggunakan prosedur ICSI (intracytoplasmic sperm injection), sehingga tidak lagi terlalu diperlukan bagi pria untuk ‘menyimpan’ sperma seperti yang dulu diyakini," kata Allan Pacey.
Begitulah penjelasan tentang sperma berkualitas saat ejakulasi dilakukan lebih sering. Semoga informasinya bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)