HaiBunda

KEHAMILAN

Bisakah Perempuan Hamil saat Berada di Luar Angkasa? Simak Hasil Studi Terbaru

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Senin, 20 Apr 2026 12:50 WIB
Bisakah Perempuan Hamil saat Berada di Luar Angkasa? Simak Hasil Studi Terbaru/ Foto: Getty Images/iStockphoto/gorodenkoff
Jakarta -

Kehidupan manusia di luar angkasa masih terus dipelajari banyak ilmuwan. Studi terbaru mulai menyoroti tantangan reproduksi manusia di luar angkasa, termasuk dampak radiasi kosmik terhadap kesuburan.

Seperti diketahui, manusia telah hidup di International Space Station (ISS) atau stasiun luar angkasa selama lebih dari dua dekade. Hal itu membuktikan bahwa kehidupan di orbit memungkinkan bagi manusia, meskipun tetap ditemukan tantangan.

Dalam kondisi mikrogravitasi (minim atau nol gaya gravitasi), astronot harus beradaptasi dengan kondisi seperti terbang. Mereka juga harus melakukan latihan harian intensif untuk mencegah kehilangan masa tulang dan ototnya.


Permukiman manusia di luar angkasa di masa depan kemungkinan akan bergantung pada habitat tertutup di Bulan, Mars, atau di orbit, yang dirancang untuk melindungi penghuni dari radiasi dan ruang hampa. Namun, untuk kelangsungan hidup jangka panjang di luar Bumi, sistem reproduksi akan menjadi hal penting yang perlu difokuskan.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Communications Biology pada Maret 2026, diketahui bahwa sperma dapat 'kehilangan arah' dalam kondisi tanpa gravitasi. Kondisi tersebut bisa mengurangi tingkat pembuahan hingga 30 persen, Bunda.

Dalam studi ini, para peneliti memasukkan sperma manusia ke dalam ruang simulasi mikrogravitasi, yang dirancang agar berperilaku seperti saluran reproduksi perempuan. Peneliti lalu menguji kemampuan sperma untuk bernavigasi.

Hasil studi menemukan bahwa sperma kesulitan untuk melewati saluran reproduksi perempuan dalam kondisi mikrogravitasi, sehingga lebih sulit untuk mencapai sel telur. Tak hanya itu, radiasi luar angkasa dapat merusak DNA, meningkatkan risiko kanker, dan memengaruhi sel reproduksi. Selain itu, mikrogravitasi juga bisa mengubah regulasi hormon serta mengurangi kualitas sperma dan sel telur.

"Seiring misi ke Bulan dan Mars beralih dari aspirasi menjadi kenyataan, memahami apakah manusia dan spesies yang kita andalkan dapat bereproduksi di lingkungan tersebut bukanlah sekadar rasa ingin tahu, melainkan sudah menjadi sebuah kebutuhan," kata penulis senior studi dan dosen senior di Adelaide University, Nicole McPherson, dikutip dari NDTV dan Scientific American.

Para peneliti juga menemukan bahwa penambahan hormon progesteron, yakni hormon yang dilepaskan oleh sel-sel pada sel telur, dapat membantu sperma lebih mudah berorientasi.

"Progesteron berfungsi sebagai sinyal kimia, semacam suar penunjuk arah biologis yang dilepaskan sel telur sekitar waktu ovulasi," kata McPherson.

"Sperma memiliki reseptor di permukaannya yang mendeteksi sinyal ini dan menggunakannya untuk mengorientasikan diri dan berenang menuju sumbernya. Ini adalah salah satu sistem navigasi alam yang paling elegan."

Namun, McPherson menyatakan bahwa hasil temuan ini belum bisa dijadikan acuan untuk menyarankan progesteron sebagai solusi sederhana kesuburan di luar angkasa.

Alasan sains perempuan sebaiknya tidak hamil di luar angkasa

Terlepas dari bisa atau tidaknya perempuan hamil di luar angkasa, kehamilan sendiri memang sebaiknya tidak terjadi di luar Bumi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah adanya radiasi yang tinggi di luar angkasa.

Dilansir laman BBC, luar angkasa memiliki tingkat radiasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan di Bumi. Radiasi ini berasal dari sinar kosmik galaksi dan partikel bermuatan dari Matahari, yang dapat merusak DNA. Jika seorang perempuan hamil di luar angkasa, radiasi ini bisa meningkatkan beberapa risiko, seperti cacat lahir pada janin, mutasi genetik, dan keguguran atau kelahiran prematur.

Selain itu, mikrogravitasi juga dapat mengganggu perkembangan janin. Gaya gravitasi yang kecil atau tidak ada sama sekali bisa menyebabkan cairan dalam tubuh bergerak tidak normal dan mempengaruhi suplai darah serta nutrisi ke janin. Tak hanya itu, tulang dan otot janin mungkin tidak bisa berkembang dengan baik karena kurangnya gaya tarik gravitasi dan rentan terjadi gangguan pada perkembangan otak.

Selain pada janin, kehamilan di luar angkasa juga bisa memberatkan kondisi ibu. Kebanyakan astronaut akan mengalami kehilangan massa tulang lebih cepat karena tidak ada gravitasi yang menahan tubuhnya.

Terakhir adalah kesulitan dalam proses persalinan. Fasilitas medis yang terbatas dan mikrogravitasi bisa membuat proses persalinan menjadi sulit dilakukan di luar Bumi.

Demikian hasil studi terbaru tentang peluang hamil saat berada di luar angkasa, dan alasan perempuan sebaiknya tidak menjalani kehamilan di luar Bumi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Mulut Rahim Menonjol Keluar

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Momen Cindy Fatikasari & Tengku Firmansyah Pulang ke Jakarta, Resmi Jadi Nenek-Kakek

Mom's Life Annisa Karnesyia

28 Promo Spesial Hari Kartini dan Payday April 2026: Diskon Makanan hingga Minuman

Mom's Life Natasha Ardiah

Apakah Masih Bisa Hamil setelah Vasektomi?

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Bukan Soal Disiplin, Ini Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Datang Lebih Awal

Mom's Life Natasha Ardiah

Ditemukan 'Sel Misterius' hanya Muncul saat Hamil, Penentu Risiko Preeklamsia

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Rekomendasi Lanyard ID Card Brand Lokal yang Bagus & Awet, Pilih yang Terbaik!

Apakah Masih Bisa Hamil setelah Vasektomi?

Momen Cindy Fatikasari & Tengku Firmansyah Pulang ke Jakarta, Resmi Jadi Nenek-Kakek

Ditemukan 'Sel Misterius' hanya Muncul saat Hamil, Penentu Risiko Preeklamsia

15 Contoh Soal Diagram Batang untuk Anak Kelas 6 SD Beserta Kunci Jawaban

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK