KEHAMILAN
Cesarean Awareness Month Diperingati Setiap April, Ketahui Sejarah Operasi Caesar
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Jumat, 17 Apr 2026 11:10 WIBCesarean Awareness Month (CAM) atau Bulan Kesadaran Caesar Internasional diperingari setiap April, Bunda. CAM dibuat untuk meningkatkan kesadaran tentang persalinan caesar (C-section), termasuk risiko dan manfaatnya.
Inisiatif CAM ini diprakarsai oleh International Cesarean Awareness Network (ICAN). Melansir dari laman resminya, Cesarean Awareness Month berfokus pada semua topik seputar operasi caesar, termasuk mengurangi operasi caesar yang dapat dicegah, mendukung pemulihan pasca persalinan caesar, dan mengadvokasi persalinan pervaginam setelah operasi caesar atau Vaginal Birth After Cesarean (VBAC).
Perlu diketahui, operasi caesar merupakan proses kelahiran bayi melalui sayatan bedah yang dibuat di perut dan rahim ibu. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), operasi caesar dapat dilakukan pada indikasi tertentu, seperti bayi sungsang, ukuran bayi besar, atau faktor lainnya yang memengaruhi ibu dan proses persalinan.
Pada kebanyakan kasus, rawat inap setelah operasi caesar biasanya berlangsung selama 2-4 hari. Lamanya rawat inap ini akan bergantung pada indikasi operasi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), proporsi perempuan di seluruh dunia yang melahirkan melalui operasi caesar terus meningkat dari 6 persen di tahun 1990, menjadi 21 persen pada tahun 2018. Angka tersebut diperkirakan mencapai 30 persen pada 2030.
Secara lebih detail, proyeksi menunjukkan bahwa 38 juta perempuan akan melahirkan melalui operasi caesar pada tahun 2030, dan 88 persen dari operasi ini akan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Sejarah operasi caesar
Sejarah operasi caesar berawal sejak zaman Romawi Kuno, Bunda. Penulis populer bernama Pliny the Elder berpendapat bahwa pemimpin militer Romawi Julius Caesar dinamai berdasarkan nama leluhurnya yang lahir melalui operasi caesar.
Pada era ini, prosedur operasi caesar digunakan untuk menyelamatkan bayi dari rahim ibu yang meninggal saat melahirkan. Ibu dari Julius Caesar dilaporkan selamat melewati proses persalinan, sehingga menepis kemungkinan bahwa sang penguasa lahir melalui operasi caesar.
Dilansir laman News Medical, literatur Yahudi kuno dari Maimonides menunjukkan bahwa persalinan melalui pembedahan dimungkinkan tanpa membunuh ibu, tetapi pembedahan tersebut jarang dilakukan. Secara historis, operasi selalu dilakukan untuk menyelamatkan bayi, bukan ibunya.
Kasus pertama tentang seorang ibu yang selamat dari operasi dilaporkan terjadi pada tahun 1580-an di Siegersausen, Swiss. Konon, seorang penggembala babi di Swiss yang bernama Jacob Nufer melakukan operasi tersebut pada istrinya karena persalinannya berlangsung lama. Sang istri diketahui selamat dari operasi dan kemudian berhasil melahirkan lima anak lagi secara alami.
Dikutip dari ulasan di jurnal Academic Medicine & Surgery tahun 2024, pada tahun 1794, seorang dokter bernama Dr. Jesse Bennett tercatat sebagai dokter pertama yang berhasil melakukan operasi caesar di Amerika Serikat. Saat itu, istrinya mengalami komplikasi jangka panjang untuk melahirkan bayi mereka. Bennett pun membuat sayatan rendah melalui perut dan rahim istrinya.
Setelah melahirkan, Bennett juga mengangkat rahim istrinya untuk mencegahnya memiliki anak di masa depan. Keberhasilan Bennett ini meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang teknik yang berhasil untuk persalinan caesar guna menyelamatkan nyawa ibu dan anak.
Laporan tentang persalinan caesar terus bermunculan seiring perkembangan zaman. Misalnya, pada tahun 1853, Ratu Victoria dari Kerajaan Inggris dilaporkan menggunakan kloroform sebagai anestesi selama kelahiran Pangeran Leopold. Tindakan tersebut membuka jalan bagi penggunaan kloroform dalam bidang obstetri dan operasi caesar.
Sampai tahun 1870-an, teknik operasi caesar masih relatif kasar dan praktiknya tidak mencakup jahitan bedah untuk menutup rahim yang terbuka. Pada tahun 1876, Profesor Obstetri di Pavia bernama Eduardo Porro, menganjurkan pengangkatan rahim setelah operasi caesar sebagai cara untuk mengendalikan perdarahan. Setelah itu, histerektomi caesar pertama dilakukan di Amerika Serikat oleh Richardson pada tahun 1881.
Pada tahun 1926, Profesor Obstetri di Glasgow, James Munro Kerr, memperkenalkan kembali sayatan melintang. Prosedur ini juga dipopulerkan oleh Beck dan DeLee pada tahun 1920-an.
|
|
Persalinan caesar dan risikonya
WHO menyatakan bahwa persalinan caesar adalah operasi kompleks yang memerlukan serangkaian langkah praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif yang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi intervensi bedah, medis ,dan anestesi. Seperti halnya operasi lainnya, operasi caesar dikaitkan dengan risiko jangka pendek dan jangka panjang.
"Risiko jangka panjang dapat berlanjut hingga bertahun-tahun setelah persalinan dan memengaruhi kesehatan perempuan, anak, dan kehamilan di masa mendatang," tulis WHO, dikutip dari website resmi.
Ada beberapa risiko melahirkan dengan operasi caesar yang perlu Bunda ketahui. Berikut risikonya menurut ACOG:
- Infeksi sayatan kulit, rahim, dan organ panggul di dekatnya
- Bunda berisiko kehilangan darah yang cukup banyak hingga memerlukan transfusi darah
- Mengalami pembekuan darah di kaki, organ panggul, atau paru-paru
- Cedera usus atau kandung kemih
- Reaksi alergi terhadap obat-obatan atau jenis anastesi yang digunakan
Perlu dicatat, persalinan caesar juga dapat meningkatkan risiko untuk kehamilan berikutnya. Risiko ini meliputi masalah plasenta, ruptur uterus, dan histerektomi. Beberapa masalah plasenta dapat menyebabkan komplikasi serius.
Demikian penjelasan dari HaiBunda terkait sejarah operasi caesar dan risikonya dalam rangka memperingati Cesarean Awareness Month (CAM) di bulan April. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)