HaiBunda

KEHAMILAN

Studi Terbaru Ungkap Dampak Ibu Hamil Duduk Terlalu Lama, Sebabkan Komplikasi Bun

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Senin, 08 Jun 2026 16:00 WIB
Studi Terbaru Ungkap Dampak Terlalu Lama Duduk saat Hamil, Bisa Sebabkan Komplikasi Bun/ Foto: Getty Images/iStockphoto/szeyuen
Jakarta -

Kebiasaan duduk dalam waktu lama telah terbukti dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan. Pada ibu hamil, kebiasaan tersebut ternyata dikaitkan dengan komplikasi yang buruk, Bunda.

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti West Virginia University dan dua pusat medis afiliasi universitas lainnya baru-baru ini menemukan adanya peningkatan risiko yang lebih besar dari kebiasaan duduk terlalu lama saat hamil. Studi tersebut dibandingkan dengan ibu hamil yang melakukan aktivitas ringan dalam rutinitas harian.

"Temuan besarnya adalah bahwa perempuan yang duduk selama lebih dari 10 jam sehari mengalami dua kali lebih banyak masalah kehamilan dibandingkan mereka yang duduk dalam waktu yang lebih singkat," kata peneliti dan profesor di WVU School of Public Health Department of Epidemiology and Biostatistics, Bethany Barone Gibbs.


"Banyak duduk mungkin kurang sehat selama kehamilan, tetapi risiko tambahan ternyata lebih besar dari yang kami duga. Studi kami mendukung gagasan bahwa pola aktivitas harian dengan banyak duduk dalam waktu lama sebaiknya dihindari selama kehamilan," sambungnya, dikutip dari laman resmi West Virginia University.

Hasil studi tentang dampak buruk terlalu lama duduk saat hamil

Studi yang diterbitkan di Journal of the American Medical Association ini menunjukkan bahwa dua dari lima perempuan yang duduk selama 10 jam atau lebih per hari mengalami hasil kehamilan yang buruk. Sementara itu, hanya satu dari lima perempuan yang duduk sekitar tujuh jam per hari mengalami hasil kehamilan yang buruk.

Hasil kehamilan merugikan yang diukur dalam penelitian ini meliputi hipertensi gestasional, preeklamsia, diabetes gestasional, kelahiran prematur, dan bayi kecil untuk usia kehamilan. Komplikasi-komplikasi kehamilan tersebut dapat membahayakan ibu dan bayi dan memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang.

"Hasil kehamilan yang merugikan, terutama preeklamsia dan hipertensi gestasional, telah menjadi jauh lebih umum dalam dua dekade terakhir," ungkap Barone Gibbs.

"Dari perspektif kesehatan masyarakat, ini sangat mengkhawatirkan. Kami sedang mencari solusi untuk mengurangi hasil-hasil ini karena saat ini hanya ada sedikit pilihan."

Meskipun olahraga dengan intensitas sedang hingga tinggi menjadi salah satu cara untuk menurunkan risiko hasil kehamilan yang buruk, Barone Gibbs mengatakan bahwa tingkat aktivitas tersebut mungkin bukan pilihan bagi beberapa ibu hamil. Ya, tidak semua ibu hamil memiliki sumber daya atau akses ke perencanaan olahraga yang diawasi dan tersedia di pusat kebugaran.

Para peneliti juga mempertimbangkan bahwa ibu hamil mungkin merasa tidak memiliki energi fisik untuk mengikuti program olahraga apa pun selama mengandung janin.

"Mengatakan kalau semua orang harus berolahraga adalah satu hal. Tetapi, kita tahu ada banyak hambatan untuk melakukan itu semua, terutama bagi ibu hamil karena mereka kelelahan, mual, tubuh mereka berubah, dan mengalami nyeri muskuloskeletal," ujar Barone Gibbs.

"Kami ingin memikirkan beberapa alternatif bagi ibu hamil untuk tetap aktif tetapi tidak memiliki perencanaan olahraga yang diawasi," lanjutnya.

Penelitian ini sendiri bertujuan untuk menentukan apakah mengurangi waktu duduk dan meningkatkan aktivitas fisik ringan akan berhubungan dengan penurunan risiko komplikasi.

Sementara itu, gagasan bahwa terlalu banyak duduk dapat memperburuk hasil kehamilan didasarkan pada penelitian beberapa dekade lalu ketika penyedia layanan kesehatan merekomendasikan istirahat total atau pembatasan aktivitas bagi ibu yang mengalami komplikasi kehamilan tertentu.

Namun, penelitian sebelumnya menemukan bahwa beralih ke tingkat aktivitas yang sangat rendah dianggap tidak membantu menurunkan risiko. Dalam beberapa kasus, hal tersebut justru menyebabkan hasil yang lebih buruk, seperti kelahiran prematur dan preeklampsia.

"Gaya hidup modern telah menghilangkan sebagian besar aktivitas fisik yang dibutuhkan dari keseharian kita. Banyak ibu hamil tanpa disadari memiliki pola aktivitas yang sebenarnya sangat mirip dengan pembatasan aktivitas meskipun tidak dianjurkan," kata Barone Gibbs.

Detail tentang studi

Perlu diketahui, studi ini dilakukan pada 500 ibu hamil di trimester pertama, yang berasal dari West Virginia, Pennsylvania, dan Iowa di Amerika Serikat (AS). Para ibu hamil menggunakan monitor aktivitas yang dipasang di kaki untuk mengukur berapa lama mereka duduk dan apakah mereka duduk dalam waktu yang lebih lama.

Para peneliti lalu mencatat pola aktivitas di setiap trimester atau sepanjang kehamilan bayi lahir untuk menentukan bagaimana pola aktivitas berkorelasi dengan hasil kehamilan yang buruk. Meskipun data menunjukkan bahwa ibu hamil sebaiknya mengurangi duduk dan lebih banyak bergerak, uji klinis yang lebih besar tetap perlu dilakukan untuk memvalidasi temuan tersebut.

"Temuan kami menunjukkan bahwa tidak harus selalu berolahraga, hanya dengan bangun dan bergerak lebih banyak dapat membantu ibu hamil terhindar dari komplikasi kehamilan ini," ungkapnya.

"Sebagian besar pengingat ini akan mengingatkan kita jika duduk selama satu jam, kita bisa bangun dan mulai bergerak sedikit, berjalan-jalan sebentar, atau sekadar melakukan sesuatu. Dengarkan tubuh kamu sendiri. Jika telah duduk terlalu lama dan punggung sakit atau merasa tidak nyaman, maka sudah waktunya untuk bangun dan bergerak."

Demikian hasil studi terbaru yang menemukan dampak terlalu dalam duduk saat hamil dan kaitannya dengan komplikasi kehamilan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Sakit Perut Sebelah Kiri saat Hamil Trimester 2? Ini Penyebabnya, Bun!

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Terbukti di 40 Ribu Pasangan, Psikolog Ungkap 1 Kalimat yang Bisa Bikin Hubungan Harmonis

Mom's Life Amira Salsabila

7 Ciri Anak Social Butterfly, Sosok Percaya Diri dan Mudah Bergaul

Parenting Kinan

Rumah Gelembung dari Balon Raksasa Ini Dijual Rp31 Miliar, Kisah Pemiliknya Jadi Sorotan

Mom's Life Azhar Hanifah

4 Cara Menghadapi Anak Tantrum di Tempat Umum, Coba Lakukan Ini Bun

Parenting Kinan

11 Kalimat Toxic Orang Tua Zaman Dulu yang Diam-Diam Melukai Mental Anak

Parenting Nadhifa Fitrina

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dahulu Hangus Kini Mewah: Rumah Bekas Kebakaran Ini Masuk Jajaran Desain Terbaik Luar Negeri

7 Ciri Anak Social Butterfly, Sosok Percaya Diri dan Mudah Bergaul

Terbukti di 40 Ribu Pasangan, Psikolog Ungkap 1 Kalimat yang Bisa Bikin Hubungan Harmonis

4 Cara Menghadapi Anak Tantrum di Tempat Umum, Coba Lakukan Ini Bun

Rumah Gelembung dari Balon Raksasa Ini Dijual Rp31 Miliar, Kisah Pemiliknya Jadi Sorotan

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK