Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Studi Temukan Kebiasaan Ibu Hamil di Kantor yang Picu Risiko Keguguran

Melly Febrida   |   HaiBunda

Senin, 29 Jun 2026 15:40 WIB

Ilustrasi kerja saat hamil
Studi Temukan Kebiasaan Ibu Hamil di Kantor yang Picu Risiko Keguguran/Foto: Getty Images/Antonio_Diaz
Daftar Isi
Jakarta -

Ibu hamil yang bekerja perlu berhati-hati dalam beraktivitas fisik. Peneliti menemukan kebiasaan ibu hamil di kantor yang picu risiko keguguran.

Meski demikian, para ahli mengingatkan temuan ini bukan berarti membuat ibu hamil menghindari seluruh aktivitas fisik sehari-hari.

Penelitian ini lebih menyoroti pola kebiasaan yang terjadi secara berulang dan berkepanjangan di lingkungan kerja. Apa saja kebiasaan yang dimaksud?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kebiasaan ibu hamil di kantor yang picu risiko keguguran

Sebuah studi menunjukkan bahwa membungkuk ke depan di tempat kerja selama kehamilan dini, serta banyak berjalan dan berdiri, dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Occupational & Environmental Medicine. Peneliti menganalisis 803.829 kehamilan dari 475.312 perempuan di Denmark selama periode 2004 hingga 2018.

Tim peneliti menggunakan metode pregnancy-specific job exposure matrix untuk menilai pengaruh aktivitas fisik tertentu di tempat kerja terhadap risiko keguguran pada awal kehamilan.

Aktivitas yang diteliti meliputi berdiri, berjalan, dan membungkuk ke depan dengan sudut sekitar 30 derajat. 

Dari seluruh kehamilan yang dianalisis, sekitar satu dari 10 kehamilan atau 81.307 kasus berakhir dengan keguguran. Peneliti kemudian menganalisis hubungan antara aktivitas fisik di tempat kerja dengan risiko tersebut.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seperti membungkuk ke depan, berdiri dalam waktu lama, dan berjalan selama jam kerja dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran. Namun, besarnya risiko berbeda-beda.

Peneliti menemukan bahwa setiap tambahan satu jam aktivitas membungkuk ke depan dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran sebesar 36 persen. Sementara itu, setiap tambahan satu jam berjalan dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 18 persen.

Adapun aktivitas berdiri menunjukkan peningkatan risiko yang lebih kecil, yaitu sekitar 3 persen untuk setiap tambahan satu jam paparan.

“Meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, paparan kerja ini dapat memengaruhi perfusi plasenta atau regulasi hormonal dengan cara yang dapat meningkatkan risiko keguguran,” demikian saran studi tersebut melansir People.

Peneliti menduga aktivitas fisik tertentu di tempat kerja dapat memengaruhi aliran darah ke plasenta atau memengaruhi regulasi hormon yang berperan penting dalam mempertahankan kehamilan.

Menurut peneliti, selama ini sudah ada beberapa penelitian yang mengaitkan aktivitas seperti berdiri, berjalan, dan membungkuk di tempat kerja dengan risiko keguguran. Namun, hasil penelitian sebelumnya masih belum konsisten.

Peneliti juga mencatat bahwa aktivitas membungkuk dalam waktu lama sebenarnya relatif jarang ditemukan pada sebagian besar pekerjaan. Karena itu, meskipun peningkatan risiko yang ditemukan cukup tinggi, dampak keseluruhannya pada populasi pekerja hamil kemungkinan tetap terbatas.

Keguguran dipengaruhi banyak faktor

Para peneliti mengingatkan bahwa keguguran merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor.

Secara umum, faktor risiko keguguran dapat mencakup usia orang tua, kebiasaan merokok, kerja shift malam, paparan polusi udara, hingga paparan bahan kimia tertentu di lingkungan kerja.

Selain itu, penelitian ini bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. 

Melansir News-Medical, peneliti juga mencatat adanya beberapa keterbatasan, termasuk tidak tersedianya data individu mengenai kebiasaan merokok selama kehamilan. Selain itu, faktor lain seperti aktivitas mengangkat beban, kerja shift, maupun paparan bahan kimia tertentu di

Hasil studi tidak berlaku untuk aktivitas sehari-hari

Hasil penelitian ini tentu menarik perhatian. Namun para ahli memperingatkan bahwa temuan ini berlaku untuk pola pekerjaan, bukan gerakan sehari-hari, dan perlu konfirmasi lebih lanjut.

Profesor kebidanan dan kedokteran ibu dari City St George's, University of London, Asma Khalil, yang tidak terlibat dalam penelitian, menegaskan bahwa studi ini tidak menunjukkan bahwa gerakan sehari-hari pada awal kehamilan berbahaya.

"Studi ini berkaitan dengan pola paparan pekerjaan, khususnya membungkuk ke depan yang berkepanjangan atau berulang, bukan aktivitas sehari-hari," kata Khalil.

Khalil juga menyoroti bahwa kekuatan penelitian ini terletak pada penggunaan data lebih dari 800 ribu kehamilan serta metode penilaian aktivitas kerja yang dirancang khusus untuk kehamilan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil penelitian masih perlu dikonfirmasi pada populasi lain sebelum dapat dijadikan dasar penyusunan pedoman kerja bagi ibu hamil.

"Meskipun studi ini menimbulkan hipotesis yang menarik mengenai postur kerja dan risiko keguguran, temuan ini perlu direplikasi dan dikonfirmasi pada populasi lain sebelum dapat diterjemahkan menjadi panduan tempat kerja yang tepat,” lanjutnya.

Dari penjelasan di atas, temuan ini menunjukkan pentingnya memperhatikan kondisi kerja selama kehamilan, terutama pada trimester awal.

Ibu hamil yang bekerja dengan banyak aktivitas fisik berulang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah perlu penyesuaian aktivitas kerja sesuai kondisi kesehatan masing-masing.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda