HaiBunda

KEHAMILAN

Kebiasaan Sederhana saat Hamil Ini Disebut Bisa Turunkan Risiko Autisme pada Bayi hingga 30%

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 03 Jul 2026 20:40 WIB
Kebiasaan Sederhana saat Hamil Ini Disebut Bisa Turunkan Risiko Autisme pada Bayi hingga 30%/Foto: Getty Images/Jomkwan
Jakarta -

Banyak Bunda tentu berharap Si Kecil lahir sehat dan tumbuh optimal. Selama kehamilan, berbagai kebiasaan kecil seperti menjaga pola makan, rutin bergerak, hingga memenuhi kebutuhan nutrisi ternyata berperan penting dalam mendukung perkembangan janin.

Beberapa penelitian menemukan bahwa gaya hidup sehat selama hamil berkaitan dengan kemungkinan lebih rendahnya berbagai gangguan perkembangan, termasuk gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder/ASD).

Namun, penting dipahami bahwa autisme adalah kondisi perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik dan lingkungan, sehingga tidak ada satu kebiasaan yang bisa menjamin bayi terbebas dari autisme.


Apa itu autisme pada bayi?

Autisme pada bayi atau ASD adalah kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara otak berkembang dan bekerja. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, memahami lingkungan, serta menunjukkan perilaku tertentu.

Autisme disebut sebagai spektrum karena setiap anak dapat mengalami tanda dan tingkat dukungan yang berbeda. Ada anak yang menunjukkan tanda sejak usia sangat dini, sementara pada anak lain tanda-tandanya baru terlihat ketika tuntutan komunikasi dan sosial semakin meningkat.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), autisme bukanlah penyakit yang 'menular' atau akibat pola asuh orang tua, melainkan kondisi perkembangan yang berkaitan dengan perbedaan pada perkembangan otak.

Tanda-tanda autisme yang bisa terlihat pada bayi

Setiap bayi tumbuh dengan kecepatan berbeda, tetapi beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Perbedaan dalam respons sosial

Bayi dengan tanda ASD mungkin:

  • Lebih jarang melakukan kontak mata,
  • Kurang merespons ketika namanya dipanggil,
  • Tampak kurang tertarik berinteraksi dengan orang sekitar,
  • Lebih sedikit menunjukkan ekspresi seperti tersenyum balik.

2. Perbedaan dalam komunikasi

Beberapa bayi mungkin menunjukkan:

  • Keterlambatan babbling (ocehan bayi),
  • Lebih sedikit menggunakan suara atau gestur untuk berkomunikasi,
  • Tidak banyak menunjuk atau menunjukkan sesuatu kepada orang tua.
  • Padahal, kemampuan seperti menunjuk, meniru suara, dan merespons komunikasi adalah bagian penting dari perkembangan awal.

3. Perilaku atau respons yang berulang

Tanda lainnya dapat berupa:

  • Melakukan gerakan berulang,
  • Sangat menyukai rutinitas tertentu,
  • Memiliki respons yang berbeda terhadap suara, cahaya, tekstur, atau sentuhan.

Namun, satu tanda saja tidak selalu berarti bayi mengalami autisme. Penilaian perlu dilakukan oleh tenaga profesional.

Kebiasaan saat hamil yang bisa mendukung perkembangan otak janin

Berikut beberapa kebiasaan tersebut:

1. Memenuhi kebutuhan asam folat

Asam folat bukan hanya penting untuk mencegah cacat tabung saraf, tetapi juga berperan dalam pembentukan dan perkembangan sistem saraf janin. Secara umum, kebutuhan asam folat untuk ibu hamil sering direkomendasikan sekitar 400 mikrogram per hari, tetapi kebutuhan bisa berbeda tergantung kondisi kesehatan dan anjuran dokter.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) menemukan adanya hubungan antara konsumsi suplemen asam folat sebelum dan selama awal kehamilan dengan penurunan risiko beberapa gangguan perkembangan saraf pada anak.

Asam folat bisa didapat dari:

  • Sayuran hijau,
  • Kacang-kacangan,
  • Buah tertentu,
  • Suplemen sesuai anjuran dokter.

2. Rutin bergerak dan olahraga ringan

Kehamilan bukan berarti bunda harus terus berbaring. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, senam hamil, atau yoga prenatal (jika diizinkan dokter) dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan janin.

Olahraga selama kehamilan dikaitkan dengan:

  • Sirkulasi darah lebih baik,
  • Kontrol berat badan,
  • Kesehatan metabolik ibu.

Kondisi kesehatan ibu selama hamil juga menjadi salah satu faktor yang diteliti dalam kaitannya dengan perkembangan otak anak.

3. Menjaga pola makan seimbang

Nutrisi selama kehamilan menjadi 'bahan bakar' bagi perkembangan otak bayi.

Bunda bisa memperhatikan asupan:

  • Protein,
  • Omega-3,
  • Zat besi,
  • Vitamin dan mineral.

Beberapa studi mengamati bahwa pola makan ibu yang lebih sehat selama kehamilan berkaitan dengan perkembangan saraf anak yang lebih baik.

4. Menghindari rokok dan alkohol

Paparan zat tertentu selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan janin. Rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kehamilan dan perkembangan bayi.

5. Mengelola stres selama hamil

Kehamilan memang membawa banyak perubahan fisik dan emosional. Stres berat yang berlangsung lama menjadi salah satu faktor yang terus diteliti terkait perkembangan janin.

Bunda bisa mencoba tidur cukup, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta mendapat dukungan dari pasangan dan keluarga.

Benarkah bisa mengurangi risiko autisme hingga 30 persen?

Beberapa penelitian observasional memang menemukan hubungan antara kombinasi gaya hidup sehat ibu hamil dengan penurunan risiko gangguan perkembangan tertentu. Namun angka seperti '30 persen' biasanya berasal dari hasil penelitian tertentu dan tidak berarti setiap ibu yang melakukan kebiasaan tersebut pasti memiliki risiko lebih rendah sebesar itu.

Sebuah umbrella review (penelitian yang menggabungkan hasil dari banyak penelitian sebelumnya) yang melibatkan 101 studi dengan lebih dari 3 juta partisipan menemukan bahwa konsumsi asam folat selama kehamilan dikaitkan dengan penurunan risiko ASD sekitar 30 persen. Sementara konsumsi multivitamin prenatal dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 34 persen. 

Sementara itu, Autisme terjadi karena kombinasi banyak faktor, termasuk:

  • Faktor genetik,
  • Kondisi biologis,
  • Lingkungan selama perkembangan janin.

Jadi, kabar tentang mengurangi risiko autisme hingga 30 persen memiliki dasar penelitian, tetapi perlu dipahami sebagai hubungan antara nutrisi kehamilan dan perkembangan saraf, bukan sebagai cara pasti mencegah autisme, ya Bunda.



Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Lebih Sensitif, Ini Penyebab Bumil Mudah Menangis

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

6 Cara Mengenali Orang dengan IQ Tinggi yang Sering Disalahartikan sebagai Kekurangan

Mom's Life Amira Salsabila

5 Potret Chloe Anak Asmirandah Pakai Hanbok di Korea, Seperti Princess Negeri Dongeng

Parenting Nadhifa Fitrina

Kebiasaan Sederhana saat Hamil Ini Disebut Bisa Turunkan Risiko Autisme pada Bayi hingga 30%

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Ungkapan Hati Shireen Sungkar Besarkan Putrinya Penyandang Autisme

Parenting Nadhifa Fitrina

Kapan Bayi Mulai Bisa Mengenali Wajah Seseorang yang Familiar?

Parenting Kinan

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

6 Cara Mengenali Orang dengan IQ Tinggi yang Sering Disalahartikan sebagai Kekurangan

5 Potret Chloe Anak Asmirandah Pakai Hanbok di Korea, Seperti Princess Negeri Dongeng

Kebiasaan Sederhana saat Hamil Ini Disebut Bisa Turunkan Risiko Autisme pada Bayi hingga 30%

Kapan Bayi Mulai Bisa Mengenali Wajah Seseorang yang Familiar?

Cara Mengenali Orang dengan EQ Tinggi dari Kalimat yang Diucapkan saat Ngobrol

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK