Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Mengenal Proses Oogenesis pada Proses Pembentukan Sel Telur Perempuan

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Sabtu, 08 Aug 2026 07:25 WIB

Organ reproduksi sel telur
Mengenal Proses Oogenesis pada Proses Pembentukan Sel Telur Perempuan/Foto: Getty Images/iStockphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Setiap perempuan terlahir dengan jutaan bakal sel telur yang akan menjadi bagian penting dalam proses reproduksi. Namun, tidak semua bakal sel telur tersebut akan berkembang hingga matang dan siap dibuahi. Di balik proses ini terdapat mekanisme biologis yang disebut oogenesis.

Meski terdengar rumit, memahami proses oogenesis dapat membantu Bunda mengenal bagaimana tubuh mempersiapkan kehamilan. Selain itu, Bunda juga bisa mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kualitas sel telur sehingga dapat menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.

Apa itu oogonium?

Oogonium adalah sel induk yang nantinya akan berkembang menjadi sel telur atau ovum. Sel ini sudah mulai terbentuk saat bayi perempuan masih berada di dalam kandungan ibunya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pada masa perkembangan janin, jumlah oogonium mencapai jutaan. Namun, sebagian besar akan mengalami kematian alami sebelum bayi lahir. Saat lahir, bayi perempuan diperkirakan memiliki sekitar 1-2 juta bakal sel telur. Jumlah tersebut terus berkurang hingga memasuki masa pubertas, menyisakan sekitar 300.000-500.000 sel.

Sepanjang usia reproduksi, hanya sekitar 400-500 sel telur yang benar-benar akan matang dan dilepaskan melalui proses ovulasi. Hal ini menunjukkan bahwa cadangan sel telur perempuan memang terbatas sejak lahir.

Mengenal proses oogenesis

Oogenesis adalah proses pembentukan, pertumbuhan, dan pematangan sel telur yang berlangsung di ovarium. Proses ini dimulai sejak masa janin, kemudian berhenti sementara selama bertahun-tahun, dan kembali berlanjut ketika perempuan memasuki masa pubertas.

Setiap bulan, hormon reproduksi akan merangsang beberapa sel telur untuk berkembang. Namun, biasanya hanya satu sel telur yang berhasil matang dan dilepaskan saat ovulasi. Jika bertemu dengan sperma, sel telur akan dibuahi dan berkembang menjadi embrio. Sebaliknya, jika tidak terjadi pembuahan, sel telur akan luruh bersama darah menstruasi.

Menurut buku Langman's Medical Embryology, proses oogenesis bertujuan menghasilkan sel telur dengan jumlah kromosom yang tepat agar nantinya dapat membentuk embrio yang sehat setelah bertemu dengan sperma.

Perbedaan spermatogenesis dan oogenesis

Meski sama-sama berfungsi menghasilkan sel reproduksi, proses pembentukan sperma dan sel telur memiliki beberapa perbedaan.

Spermatogenesis terjadi di testis dan baru dimulai saat laki-laki memasuki masa pubertas. Produksi sperma berlangsung terus-menerus setiap hari dan satu sel induk dapat menghasilkan empat sel sperma.

Sementara itu, oogenesis berlangsung di ovarium dan sudah dimulai sejak perempuan masih berada di dalam kandungan. Setiap siklus menstruasi umumnya hanya satu sel telur yang matang dan siap dilepaskan.

Tahapan proses oogenesis

Proses oogenesis berlangsung melalui beberapa tahapan penting berikut.

1. Fase penggandaan (proliferasi)

Tahap pertama terjadi ketika janin perempuan masih berkembang di dalam kandungan. Pada fase ini, sel induk atau oogonium membelah diri melalui proses mitosis sehingga jumlahnya bertambah sangat banyak.

Selanjutnya, oogonium mulai berkembang menjadi oosit primer yang nantinya akan melanjutkan proses pematangan.

2. Fase pertumbuhan (oosit primer)

Setelah terbentuk, oosit primer mengalami pertumbuhan dan mulai menyimpan berbagai nutrisi yang dibutuhkan apabila suatu saat terjadi kehamilan.

Pada tahap ini, proses pembelahan sel berhenti sementara dan dapat berlangsung hingga bertahun-tahun. Oosit primer baru akan kembali aktif setelah perempuan memasuki masa pubertas.

3. Fase pematangan (masa pubertas dan menstruasi)

Ketika Bunda memasuki usia reproduksi, hormon FSH dan LH mulai bekerja merangsang pematangan sel telur setiap bulan.

Beberapa oosit primer akan berkembang menjadi oosit sekunder. Namun, biasanya hanya satu folikel yang menjadi dominan dan menghasilkan sel telur matang.

Sel telur kemudian dilepaskan dari ovarium melalui proses ovulasi. Jika tidak dibuahi dalam waktu sekitar 12-24 jam, sel telur akan mengalami degenerasi dan keluar bersama darah menstruasi.

4. Fase fertilisasi (pembuahan)

Apabila sel telur bertemu dengan sperma di saluran tuba fallopi, proses pembelahan sel akan selesai dan terbentuk ovum matang.

Selanjutnya, inti sperma dan inti ovum akan bergabung membentuk zigot. Zigot inilah yang nantinya berkembang menjadi embrio dan kemudian menjadi janin selama kehamilan.

Faktor yang memengaruhi kualitas dan kuantitas sel telur

Selain usia, ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi jumlah maupun kualitas sel telur.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Bertambahnya usia, terutama setelah 35 tahun.
  • Gangguan hormon.
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Endometriosis.
  • Penyakit autoimun tertentu.
  • Kebiasaan merokok.
  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Obesitas.
  • Kurang tidur.
  • Stres berkepanjangan.
  • Paparan polusi atau zat kimia berbahaya.
  • Riwayat kemoterapi atau radioterapi.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kualitas sel telur akan menurun secara alami seiring bertambahnya usia. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan maupun kelainan kromosom pada janin.

Cara menjaga kesehatan reproduksi dan sel telur

Meski jumlah sel telur tidak dapat ditambah, Bunda tetap bisa menjaga kualitasnya dengan menerapkan pola hidup sehat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya antioksidan.
  • Memenuhi kebutuhan asam folat, vitamin D, zat besi, dan omega-3.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Menjaga berat badan tetap ideal.
  • Tidur yang cukup setiap malam.
  • Menghindari rokok dan alkohol.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala, terutama jika sedang merencanakan kehamilan.
  • Gaya hidup sehat juga membantu menjaga keseimbangan hormon reproduksi sehingga proses ovulasi dapat berlangsung secara optimal.

Hormon yang memengaruhi proses oogenesis

Keberhasilan proses oogenesis dipengaruhi oleh beberapa hormon yang saling bekerja sama.

  • Follicle Stimulating Hormone (FSH) berfungsi merangsang pertumbuhan folikel serta membantu pematangan sel telur.
  • Luteinizing Hormone (LH) berperan memicu ovulasi atau pelepasan sel telur dari ovarium.
  • Estrogen membantu menebalkan lapisan rahim agar siap menerima hasil pembuahan.
  • Progesteron mempertahankan kondisi rahim setelah ovulasi dan mendukung awal kehamilan apabila terjadi pembuahan.

Sementara itu, Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) yang diproduksi hipotalamus mengatur pelepasan hormon FSH dan LH dari kelenjar hipofisis.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda