HaiBunda

KEHAMILAN

Bunda Jalani Kehamilan Berisiko? Ini 7 Tips agar Tetap Tenang dan Minim Stres

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Kamis, 13 Aug 2026 17:45 WIB
Bunda Jalani Kehamilan Berisiko? Ini 7 Tips agar Tetap Tenang dan Minim Stres/Foto: Getty Images/iStockphoto/Dacharlie
Jakarta -

Menjalani kehamilan tentu menjadi pengalaman yang penuh cerita. Namun, bagi Bunda yang mengalami kehamilan berisiko, perjalanan ini mungkin terasa sedikit berbeda. Ada lebih banyak pemeriksaan, lebih banyak hal yang perlu diperhatikan, dan mungkin muncul kekhawatiran tentang kondisi Bunda maupun Si Kecil.

Rasa cemas atau takut dalam kondisi seperti ini sebenarnya wajar. Apalagi kalau Bunda harus lebih sering kontrol ke dokter atau menjalani pemeriksaan tertentu.

Meski begitu, stres yang terus-menerus tentu bisa membuat Bunda merasa semakin lelah secara fisik maupun emosional. Karena itu, penting untuk mencari cara agar pikiran tetap tenang selama menjalani kehamilan.


Apa itu kehamilan berisiko?

Kehamilan berisiko adalah kehamilan yang memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami komplikasi dibandingkan kehamilan pada umumnya. Kondisinya bisa berkaitan dengan kesehatan Bunda, kondisi janin, usia kehamilan, maupun riwayat kehamilan sebelumnya.

Beberapa kondisi yang dapat membuat kehamilan membutuhkan pemantauan lebih ketat antara lain kehamilan pada usia tertentu, tekanan darah tinggi, diabetes selama kehamilan, kehamilan kembar, riwayat keguguran, atau adanya masalah kesehatan tertentu.

Kehamilan berisiko bukan berarti pasti akan mengalami komplikasi, ya, Bunda. Justru dengan pemantauan yang tepat dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan, banyak Bunda dengan kehamilan berisiko yang dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan baik.

Kenapa kehamilan berisiko bisa membuat Bunda lebih stres?

Rasa stres selama kehamilan bisa muncul karena banyak hal. Misalnya, Bunda khawatir dengan hasil pemeriksaan, takut terjadi sesuatu pada janin, memikirkan proses persalinan, atau merasa terbebani karena harus lebih sering ke rumah sakit. Belum lagi jika Bunda mendapatkan banyak informasi dari internet atau mendengar pengalaman orang lain yang justru membuat pikiran semakin ke mana-mana.

Bunda yang menjalani kehamilan berisiko tidak hanya perlu memperhatikan kesehatan fisik, tetapi juga kondisi emosional. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan agar ibu hamil mendapatkan skrining depresi dan kecemasan selama kehamilan. Artinya, rasa cemas yang dirasakan Bunda bukan sesuatu yang harus dipendam sendiri. Jika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Yang penting adalah mengenali ketika stres mulai terasa berlebihan dan mencari bantuan yang tepat.

Tips meminimalkan stres saat menjalani kehamilan berisiko

Berikut beberapa tipsnya:

1. Fokus pada hal yang bisa Bunda kendalikan

Ketika dokter mengatakan kehamilan Bunda membutuhkan pemantauan lebih ketat, mungkin muncul banyak pertanyaan di kepala.

"Bagaimana kondisi bayiku?"

"Apakah nanti bisa lahir dengan sehat?"

"Bagaimana proses persalinannya?"

Daripada terus memikirkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, coba arahkan perhatian pada hal-hal yang memang bisa Bunda lakukan saat ini.

Misalnya, datang kontrol sesuai jadwal, mengonsumsi obat atau suplemen sesuai anjuran dokter, menjaga pola makan, cukup tidur, dan mengikuti rekomendasi aktivitas dari tenaga kesehatan.

Satu per satu saja, Bunda. Tidak perlu memikirkan seluruh perjalanan kehamilan sekaligus.

2. Batasi mencari informasi secara berlebihan

Internet memang bisa menjadi tempat mencari informasi. Namun, terlalu sering mencari informasi mengenai komplikasi kehamilan justru bisa membuat Bunda semakin cemas. Apalagi ketika Bunda membaca pengalaman orang lain yang kondisinya sebenarnya berbeda.

Bukan berarti Bunda tidak boleh mencari informasi. Sebaiknya pilih sumber yang terpercaya dan gunakan informasi tersebut sebagai bahan diskusi dengan dokter. Kalau sudah mulai merasa setiap gejala kecil membuat Bunda panik karena membaca berbagai kemungkinan di internet, mungkin sudah waktunya berhenti scrolling sejenak.

3. Jangan ragu bertanya kepada dokter

Salah satu penyebab kecemasan adalah ketidakpastian. Bunda mungkin merasa takut karena belum memahami kondisi yang sedang dialami. Karena itu, jangan sungkan bertanya kepada dokter saat pemeriksaan.

Bunda bisa mencatat pertanyaan sebelum jadwal kontrol agar tidak ada yang terlupakan.

Misalnya:

Apa kondisi yang sedang saya alami?Apa yang perlu saya perhatikan di rumah?

Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan?

Kapan saya perlu segera datang ke rumah sakit?

Aktivitas apa yang masih boleh saya lakukan?

Mendapatkan penjelasan dari tenaga kesehatan yang menangani Bunda secara langsung biasanya jauh lebih membantu dibandingkan membuat kesimpulan sendiri dari internet.

4. Ceritakan kekhawatiran kepada orang terdekat

Bunda tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Cobalah ceritakan apa yang sedang dirasakan kepada suami, keluarga, atau teman yang dipercaya. Kadang-kadang, mengeluarkan isi pikiran saja sudah membuat perasaan sedikit lebih lega.

Bunda juga bisa meminta pasangan untuk menemani saat kontrol jika memungkinkan. Kehadiran orang terdekat dapat memberikan rasa aman, terutama ketika Bunda sedang menghadapi pemeriksaan atau keputusan medis tertentu.

5. Lakukan teknik relaksasi sederhana

Tidak harus melakukan meditasi dalam waktu lama. Bunda bisa mencoba aktivitas sederhana yang membuat tubuh lebih rileks.

Misalnya, mengambil napas secara perlahan, melakukan latihan relaksasi, mendengarkan musik yang menenangkan, membaca buku, atau melakukan aktivitas ringan yang memang diperbolehkan oleh dokter.

Latihan pernapasan juga bisa menjadi pilihan ketika Bunda mulai merasa cemas. Tarik napas perlahan melalui hidung, tahan sebentar, kemudian keluarkan secara perlahan. Ulangi beberapa kali sambil mencoba memusatkan perhatian pada napas.

6. Tetap bergerak jika dokter mengizinkan

Aktivitas fisik selama kehamilan dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Namun, pada kehamilan berisiko, jenis dan intensitas aktivitas tentu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing Bunda.

Jadi, jangan langsung mengikuti olahraga yang dilakukan ibu hamil lain. Tanyakan kepada dokter apakah Bunda diperbolehkan berjalan santai, melakukan peregangan, atau aktivitas fisik tertentu.

Jika dokter meminta Bunda membatasi aktivitas atau banyak beristirahat, ikuti anjuran tersebut.

7. Prioritaskan tidur dan istirahat

Kurang tidur dapat membuat tubuh terasa lebih lelah dan emosi lebih sulit dikendalikan. Karena itu, usahakan Bunda mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Buat rutinitas sebelum tidur yang sederhana, seperti mengurangi penggunaan gawai, membuat kamar lebih nyaman, atau melakukan aktivitas yang menenangkan.

Kalau Bunda sulit tidur karena terus memikirkan kondisi kehamilan, jangan dipendam sendiri. Ceritakan kepada dokter saat kontrol, terutama jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus.

8. Kurangi beban yang tidak perlu

Kehamilan bukan waktunya Bunda memaksakan diri untuk melakukan semuanya sendirian.

Kalau ada pekerjaan rumah yang bisa dibantu suami atau keluarga, tidak ada salahnya meminta bantuan. Bunda juga tidak harus memenuhi semua ekspektasi orang lain selama kehamilan. Prioritaskan kesehatan Bunda dan Si Kecil.

Kalau hari ini hanya mampu melakukan beberapa hal penting, itu sudah cukup.

9. Buat catatan perjalanan kehamilan

Untuk sebagian Bunda, mencatat kondisi kehamilan justru bisa membantu mengurangi kecemasan.

Bunda dapat mencatat jadwal kontrol, pertanyaan untuk dokter, hasil pemeriksaan yang perlu diketahui, obat atau vitamin yang sedang dikonsumsi, serta hal-hal yang dirasakan. Dengan begitu, Bunda tidak perlu mengingat semuanya sendiri.

Namun, hindari menjadikan catatan tersebut sebagai sumber kecemasan baru. Tidak perlu terus-menerus memeriksa atau membandingkan kondisi Bunda dengan ibu hamil lainnya.

10. Jangan takut meminta bantuan profesional

Ada kalanya stres dan kecemasan terasa terlalu berat untuk ditangani sendiri.

Bunda sebaiknya membicarakannya dengan dokter atau tenaga kesehatan jika terus-menerus merasa cemas, sulit tidur, kehilangan minat melakukan aktivitas, sulit berkonsentrasi, atau merasa kekhawatiran mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Dokter dapat membantu menentukan apakah Bunda membutuhkan dukungan psikologis atau layanan kesehatan mental selama kehamilan.

Mencari bantuan bukan berarti Bunda lemah. Justru, meminta pertolongan ketika membutuhkannya merupakan bagian dari menjaga kesehatan Bunda dan Si Kecil.

Kapan Bunda perlu segera mencari bantuan?

Rasa khawatir sesekali selama kehamilan merupakan hal yang manusiawi. Namun, Bunda perlu lebih memperhatikan kondisi ketika stres atau kecemasan terasa terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Terlebih jika Bunda merasa sangat takut, mengalami gangguan tidur yang berat, sulit menjalankan aktivitas sehari-hari, atau merasa tidak mampu menghadapi kehamilan. Jangan menunggu sampai merasa benar-benar kewalahan. Sampaikan kondisi tersebut kepada dokter atau bidan yang menangani Bunda.

Kehamilan berisiko memang membutuhkan perhatian lebih. Namun, kehamilan berisiko bukan berarti Bunda harus menjalani setiap harinya dengan rasa takut.

Ikuti pemeriksaan dan anjuran dokter, cari informasi dari sumber yang terpercaya, cukup beristirahat, dan jangan ragu meminta dukungan dari orang-orang terdekat.

Yang paling penting, Bunda tidak perlu memikirkan seluruh perjalanan kehamilan dalam satu waktu. Jalani satu hari demi satu hari.

Kalau hari ini Bunda sudah makan dengan baik, beristirahat, mengikuti anjuran dokter, dan melakukan yang terbaik untuk diri sendiri serta Si Kecil, itu sudah merupakan bentuk perjuangan yang luar biasa.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Kenapa Operasi Caesar Semakin Sering Dipilih dalam Persalinan?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

7 Tanda Seseorang Tidak Suka Jadi Pusat Perhatian, Bisa Dilihat dari Kebiasaannya

Mom's Life Annisa Karnesyia

Cara Membuat Risol Mayo Sederhana yang Renyah, Gurih, dan Lumer di Mulut

Mom's Life Amira Salsabila

Perayaan Ulang Tahun Sederhana Istri Bule Randy Pangalila, Penuh Senyum Bareng Anak

Mom's Life Annisa Karnesyia

Kelas 3 SD Disebut Jadi Masa Sulit bagi Anak, Ternyata Ini Perubahan yang Terjadi

Parenting Annisa Karnesyia

Chef Firhan Hidupkan Kembali Kenangan Masakan Nenek Lewat Perpaduan Ayam Goreng & Kari Medan

Mom's Life Tim HaiBunda

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Tanda Seseorang Tidak Suka Jadi Pusat Perhatian, Bisa Dilihat dari Kebiasaannya

Cara Membuat Risol Mayo Sederhana yang Renyah, Gurih, dan Lumer di Mulut

Chef Firhan Hidupkan Kembali Kenangan Masakan Nenek Lewat Perpaduan Ayam Goreng & Kari Medan

Kelas 3 SD Disebut Jadi Masa Sulit bagi Anak, Ternyata Ini Perubahan yang Terjadi

Bunda Jalani Kehamilan Berisiko? Ini 7 Tips agar Tetap Tenang dan Minim Stres

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK