Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Dismatur: Kenali Penyebab, Ciri-ciri, Cara Mencegah & Mengatasinya

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Kamis, 30 Jul 2026 11:05 WIB

A photo with the focus on the unrecognizable pregnant woman in the foreground as the unrecognizable doctor shows her an ultrasound on a digital tablet in the background.
Dismatur: Kenali Penyebab, Ciri-ciri, Cara Mencegah & Mengatasinya/Foto: Getty Images/SDI Productions
Daftar Isi
Jakarta -

Istilah prematur dan dismatur biasanya digunakan untuk menggambarkan karakteristik fisik dan fisiologis yang belum matang pada bayi baru lahir dalam kaitannya dengan lamanya kehamilan. Simak dismatur, kenali penyebab, ciri-ciri, cara mencegah & mengatasinya.

Prematur dan dismatur memang berbeda tipis karena ciri fisiknya serupa. Perbedaannya ialah pada kondisi prematur, bayi lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu dengan organ yang belum matang. Sementara pada bayi dismatur, kelahirannya cukup bulan namun berat badannya lebih rendah daripada usianya.

Mengenal bayi dismatur

Dismaturitas ialah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk masa kehamilannya, yaitu berat badan di bawah persentil 10 pada kurva pertumbuhan intra uterin, dan biasa disebut dengan bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK/SGA). 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Bayi dismatur juga lahir dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa kehamilan yang menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauteri. Keadaan ini berhubungan dengan gangguan sirkulasi dan efisiensi plasenta.

Kenali penyebab bayi dismatur

Ada berbagai faktor yang bisa memengaruhi gangguan pertumbuhan intra uterin pada bayi. Berikut ini beberapa di antaranya ya, Bunda:

1. Faktor janin

Kelainan kromosom, infeksi janin kronik, disotonomia familial, retardasi, kehamilan ganda, aplasia pankreas bisa menjadi penyebabnya.

2. Faktor plasenta

Berat plasenta kurang, plasenta berongga atau keduanya, luas permukaan berkurang, plasentitis vilus, infark tumor (korio angiona), plasenta yang lepas, sindrom transfusi bayi kembar juga bisa membuat kelahiran dismatur.

3. Faktor ibu

Pengaruh dari ibu hamil juga memiliki peran terjadinya gangguan ini seperti toksemia, hipertensi, penyakit ginjal, hipoksemi, penyakit jantung sionatik, penyakit paru), malnutrisi, anemia sel sabit, ketergantungan (obat narkotik, alkohol, rokok).

Gejala klinis bayi dismatur

Biasanya, bayi dismatur menunjukkan gejala klinis tertentu yang bisa ditandai. Gejala klinis dari bayi dismatur sendiri sangatlah bervariasi karena dismatur dapat terjadi preterm, term, dan post-term. Bayi dismatur preterm akan terlihat gejala fisik bayi prematur ditambah dengan gejala retardasi pertumbuhan.

Pada bayi cukup bulan dan post-term dengan dismaturitas, gejala yang menonjol ialah pelisutan. Gejala insufisiensi plasenta bergantung pada berat dan lamanya bayi menderita defisit, retardasi pertumbuhan akan terjadi bila defisit berlangsung lama (kronis).

Defisit in uteri mengakibatkan gawat janin, dalam arti luas gawat janin dibagi menjadi 3 golongan yakni sebagai berikut:

1. Gawat janin akut

Defisit mengakibatkan adanya gawat perinatal tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan dan pelisutan.

2. Gawat janin subakut

Terjadi bila defisit tersebut menunjukkan tanda pelisutan tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan.

3. Gawat janin kronik

Gawat janin kronik terjadi apabila bayi jelas menunjukkan retardasi pertumbuhan.

Stadium bayi dismatur

Ada jenjang stadium bayi dismatur yang perlu Bunda ketahui. Berikut ini level stadium bayi dismatur, Bunda:

1. Stadium pertama

Bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulitnya longgar, kering seperti perkamen, tetapi belum terdapat noda mekonium.

2. Stadium kedua

Terdapat tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit, umbilikus dan plasenta sebagai akibat dari anoksia intrauteri.

3. Stadium ketiga

Terdapat tanda stadium kedua ditambah dengan kulit yang berwarna kuning, begitu pula dengan kuku dan tali pusat, ditemukan juga tanda anoksia intra uterin yang lama seperti dikutip dari Buku Perawatan Bayi Risiko Tinggi yang ditulis Asrining Surasimi, Siti Handayani, Heni Nur Kusuma, dan diterbitkan EGC.

Cara merawat bayi dismatur

Perawatan bayi dismatur atau bayi dengan berat badan lahir rendah yang direkomendasikan WHO ialah dengan menjaga suhu BBLR. Menurut WHO, Perawatan Metode Kangguru (PMK) yang terdiri dari kontak kulit ke kulit secara terus menerus antara ibu dan bayi, frekuensi menyusui lebih sering dan perencanaan pulang dari rumah sakit lebih awal seperti dikutip dari laman Keslan.kemkes.

Posisi PMK yang bisa dilakukan yakni dengan menempatkan bayi di antara kedua payudara ibu, dengan posisi tegak serta dada bayi menempel kedada ibu. Kepala bayi dimiringkan ke salah satu sisi dengan posisi sedikit ekstensi. Pertahankan posisi kepala bayi ekstensi untuk memastikan jalan napas terbuka dan terjadi kontak mata ibu dan bayi. Hindari kepala bayi menekuk dan menghadapkan muka ke atas.

Kemudian, bayi diberikan posisi 'kodok' dengan pinggul bayi posisi fleksi. Pertahankan pelekatan dengan optimal. Lakukan PMK minimal 1 jam ya, Bunda. Praktik PMK tersebut bisa dilakukan ibu, ayah atau anggota keluarga lainnya.

Selain itu, merawat bayi dismatur sebaiknya di bawah pengawasan dokter. Dan, Bunda bisa melakukan perawatan lanjutan setelah perawatan intensif dijalani, seperti berikut:

1. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan ASI sesuai jadwal
2. Cukupi waktu istirahat bayi 
3. Tidak melewatkan jadwal imunisasi
4. Memantau dengan cermat tumbuh kembang Si Kecil
5. Memberikan oksigen bila diperlukan untuk mengurangi bahaya hipoksia.
6. Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan sebelum memegang bayi

Pencegahan agar bayi tidak dismatur

Setiap kehamilan tentunya melambungkan harapan agar bayi yang dilahirkan sehat selalu dengan berat badan yang normal sesuai tahapan usianya ya, Bunda. Untuk itu, pencegahan agar terhindari dari risiko bayi dismatur memang perlu dilakukan. Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan, Bun:

1. Rutin memeriksakan diri ke dokter selama kehamilan

Pemeriksaan selama kehamilan secara rutin penting dilakukan ibu hamil. Di fase ini, dokter dapat memeriksa berat janin secara rutin untuk melihat apakah BB mereka sudah sesuai dengan usia kehamilan atau belum. Selain itu, pemeriksaan melalui USG juga menjadi kebutuhan untuk memantau kondisi janin, seperti dikutip dari laman Stanfordchildren.

2. Konsumsi makanan bergizi

Melakukan pola hidup sehat selama kehamilan menjadi prioritas ya, Bunda. Selain memasukkan makanan bergizi seimbang, pastikan juga asupan yang dikonsumsi dalam keseharian tepat sehingga berat badan Bunda selama kehamilan sesuai usia kehamilan serta janin yang ada di dalam kandungan bertumbuh sehat.

3. Tidak merokok dan minum alkohol

Kebiasaan buruk seperti merokok dan minum alkohol sebaiknya tidak dilakukan ya, Bunda. Sebab, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah serta berisiko terkena masalah kesehatan. 

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda