KEHAMILAN
Pertama Kali ke Obgyn setelah Tes Kehamilan Positif? Siapkan 9 Pertanyaan Ini Bun
Melly Febrida | HaiBunda
Senin, 24 Aug 2026 08:10 WIBPertama kali melihat hasil tes kehamilan positif bisa membuat perasaan campur aduk. Senang, deg-degan, sekaligus muncul banyak pertanyaan, seperti kapan harus ke dokter kandungan atau obgyn dan apa saja yang perlu ditanyakan saat konsultasi pertama.
Kunjungan pertama ke dokter kandungan menjadi kesempatan penting bagi Bunda untuk mengetahui kondisi kesehatan diri sendiri maupun perkembangan kehamilan.
Pada momen ini, Bunda dapat menyampaikan riwayat penyakit, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, hingga berbagai kekhawatiran yang muncul sejak mengetahui kehamilan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar ibu hamil menjalani pemeriksaan antenatal pertama pada trimester pertama, yaitu sebelum usia kehamilan 12 minggu.
Pemeriksaan sejak awal membantu tenaga kesehatan mendeteksi dan menangani faktor risiko, sekaligus memberikan edukasi mengenai nutrisi, aktivitas fisik, pemeriksaan laboratorium, vaksinasi, serta kesehatan ibu selama kehamilan.
9 Pertanyaan saat pertama kali ke obgyn setelah tes kehamilan positif
Agar konsultasi lebih maksimal, berikut 9 pertanyaan yang bisa Bunda siapkan saat pertama kali bertemu dokter kandungan setelah hasil tes kehamilan positif melansir Motherly.
1. Kapan saya perlu melakukan pemeriksaan dan USG berikutnya?
Bunda dapat menanyakan kepada dokter obgyn kapan pemeriksaan berikutnya perlu dilakukan serta pemeriksaan apa saja yang mungkin dibutuhkan sesuai usia kehamilan.
Pada kunjungan awal, dokter biasanya akan memperkirakan usia kehamilan berdasarkan hari pertama haid terakhir dan, bila diperlukan, melakukan pemeriksaan USG.
WHO juga merekomendasikan pemeriksaan USG sebelum usia kehamilan 24 minggu untuk membantu memperkirakan usia kehamilan, mendeteksi kehamilan kembar, serta mengidentifikasi kondisi tertentu pada janin.
Selain itu, Bunda juga bisa menanyakan kapan waktu yang tepat untuk melakukan USG berikutnya sesuai kondisi kehamilan masing-masing.
2. Apakah saya boleh tetap berolahraga?
Jika sebelum hamil Bunda sudah rutin berolahraga, jangan ragu menanyakan apakah aktivitas tersebut masih aman dilakukan selama kehamilan.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyebutkan bahwa pada kehamilan tanpa komplikasi tertentu, aktivitas aerobik intensitas sedang selama sekitar 150 menit per minggu umumnya dianjurkan. Durasi tersebut dapat dibagi ke dalam beberapa sesi sepanjang minggu.
Olahraga membantu menjaga kenaikan berat badan yang ideal selama kehamilan, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa olahraga dapat menurunkan risiko diabetes gestasional, preeklamsia, serta persalinan melalui operasi caesar.
Namun, kebutuhan setiap ibu hamil berbeda-beda. Karena itu, tanyakan kepada dokter apakah jenis olahraga, intensitas, atau durasi aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan usia kehamilan Bunda.
3. Bagaimana dengan riwayat penyakit yang saya miliki?
Bunda jangan lupa untuk memberi tahu dokter mengenai penyakit atau kondisi kesehatan yang pernah atau sedang dialami. Misalnya, diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan tiroid, epilepsi, penyakit autoimun, gangguan kesehatan mental, alergi, maupun kondisi kesehatan lainnya.
Informasikan juga jika Bunda pernah menjalani operasi, mengalami komplikasi pada kehamilan sebelumnya, keguguran, persalinan prematur, preeklamsia, atau diabetes gestasional.
Riwayat kesehatan tersebut dapat membantu dokter menentukan apakah Bunda membutuhkan pemantauan atau penanganan khusus selama kehamilan.
ACOG juga menyarankan ibu yang baru mengetahui dirinya hamil menyiapkan informasi mengenai riwayat kehamilan sebelumnya, operasi, vaksinasi, dan hari pertama menstruasi terakhir sebelum kunjungan prenatal.
4. Apakah obat dan suplemen yang saya konsumsi aman untuk kehamilan?
Ini salah satu pertanyaan penting, terutama jika Bunda rutin mengonsumsi obat tertentu. Bawalah daftar semua obat, vitamin, suplemen, obat herbal, atau produk lain yang sedang dikonsumsi. Bila memungkinkan, bawa juga kemasan atau foto label produknya.
Bunda jangan menghentikan obat resep secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter. ACOG mengingatkan bahwa menghentikan obat tertentu tanpa pengawasan justru dapat lebih berisiko untuk ibu atau kehamilan dibandingkan melanjutkan pengobatan tersebut.
Dokter dapat menentukan apakah obat perlu diteruskan, disesuaikan dosisnya, atau diganti dengan alternatif yang lebih sesuai.
5. Apakah saya perlu mengonsumsi vitamin prenatal?
Bunda juga dapat menanyakan kepada dokter apakah perlu mengonsumsi vitamin prenatal dan kandungan apa yang dibutuhkan sesuai kondisi.
Asam folat merupakan salah satu nutrisi penting pada awal kehamilan karena membantu mencegah cacat tabung saraf pada janin.
ACOG menyebutkan bahwa ibu hamil membutuhkan sekitar 600 mikrogram asam folat per hari, sementara vitamin prenatal umumnya mengandung asam folat bersama sejumlah vitamin dan mineral lain.
Bunda juga sebaiknya memberi tahu dokter jika sudah mengonsumsi vitamin atau suplemen tertentu agar tidak terjadi kelebihan asupan beberapa zat gizi.
6. Pemeriksaan genetik apa yang perlu saya pertimbangkan?
Bunda dapat menanyakan pemeriksaan skrining genetik apa yang tersedia dan apakah pemeriksaan tersebut sesuai dengan kondisi serta pilihan keluarga.
ACOG menyebutkan bahwa pilihan skrining prenatal, termasuk skrining berbasis darah dan pemeriksaan cell-free DNA (cfDNA), perlu ditawarkan kepada semua ibu hamil, terlepas dari usia atau faktor risiko. Namun, keputusan untuk menjalani atau menolak pemeriksaan tetap berada pada pasien setelah mendapatkan informasi yang memadai.
Bunda juga perlu memahami bahwa skrining bukan diagnosis. Hasil skrining yang menunjukkan risiko lebih tinggi tidak otomatis berarti janin mengalami kelainan. Pemeriksaan diagnostik seperti amniosentesis atau chorionic villus sampling (CVS) dapat memberikan informasi yang lebih pasti pada kondisi tertentu.
7. Vaksin apa yang saya perlukan selama kehamilan?
Status vaksinasi dapat Bunda tanyakan kepada dokter serta vaksin yang direkomendasikan selama kehamilan.
Panduan ACOG 2026 mencantumkan vaksin influenza dan COVID-19 sebagai vaksin yang direkomendasikan selama kehamilan, sementara vaksin Tdap diberikan pada setiap kehamilan pada usia kehamilan 27–36 minggu. Vaksin RSV juga dapat direkomendasikan pada kelompok dan waktu tertentu sesuai kriteria.
Untuk COVID-19, ACOG menyatakan vaksinasi dapat dilakukan pada trimester mana pun dan merekomendasikan ibu hamil mendapatkan vaksin COVID-19 yang sesuai dengan rekomendasi terbaru.
Namun, jenis dan waktu vaksin tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, riwayat vaksinasi, ketersediaan vaksin, serta pertimbangan dokter yang merawat.
8. Berapa kenaikan berat badan yang ideal selama kehamilan?
Kenaikan berat badan selama hamil merupakan bagian normal dari kehamilan. Namun, jumlah yang dianjurkan tidak sama untuk setiap ibu. Kenaikan berat badan yang sehat merupakan bagian penting dari kehamilan yang sehat.
Salah satu faktor yang diperhitungkan adalah indeks massa tubuh (IMT) sebelum hamil. Karena itu, tanyakan kepada dokter berapa target kenaikan berat badan yang sesuai dengan kondisi Bunda.
ACOG menyebutkan bahwa pada trimester pertama, sebagian ibu mungkin hanya mengalami sedikit kenaikan berat badan atau bahkan belum mengalami kenaikan. Target selanjutnya akan bergantung antara lain pada IMT sebelum hamil dan kondisi kehamilan.
Jadi, jangan menjadikan kenaikan berat badan teman atau keluarga sebagai patokan. Kehamilan setiap ibu berbeda.
9. Siapa yang harus saya hubungi jika mengalami keluhan atau keadaan darurat?
Sebelum meninggalkan tempat praktik dokter, Bunda dapat menanyakan nomor yang bisa dihubungi jika muncul keluhan di luar jadwal konsultasi.
Tanyakan juga gejala apa yang mengharuskan Bunda segera datang ke fasilitas kesehatan. Misalnya perdarahan, nyeri perut hebat, demam tinggi, atau keluhan lain yang dianggap perlu mendapatkan pertolongan segera.
WHO menyarankan ibu hamil mengetahui kapan dan ke mana harus mencari pertolongan ketika mengalami tanda bahaya selama kehamilan.
Apa yang perlu dibawa saat pertama kali ke obgyn setelah tes kehamilan positif?
Bunda tentu ingin konsultasi pertama dengan obgyn lebih efektif. Karena itu, Bunda bisa menyiapkan beberapa informasi sebelum berangkat, seperti:
- Hari pertama menstruasi terakhir.
- Hasil tes kehamilan jika ada.
- Daftar obat, vitamin, dan suplemen yang sedang dikonsumsi.
- Riwayat penyakit dan operasi.
- Riwayat kehamilan sebelumnya, termasuk keguguran atau komplikasi kehamilan.
- Riwayat vaksinasi jika tersedia.
- Hasil pemeriksaan laboratorium atau kesehatan sebelumnya.
- Daftar pertanyaan dan kekhawatiran yang ingin disampaikan kepada dokter.
ACOG juga menyarankan ibu yang baru mengetahui kehamilannya membawa informasi mengenai menstruasi terakhir, riwayat kehamilan, operasi, vaksinasi, serta obat yang sedang digunakan.
Kapan harus ke obgyn setelah tes kehamilan positif?
Setelah mengetahui hasil tes kehamilan positif, sebaiknya Bunda segera menghubungi dokter atau tenaga kesehatan untuk mengatur pemeriksaan kehamilan.
Waktu pemeriksaan dapat berbeda pada setiap ibu, tergantung kondisi kesehatan, riwayat kehamilan, usia kehamilan, dan ada tidaknya keluhan tertentu.
Jadi, Bunda tidak perlu menunggu sampai perut terlihat membesar untuk mulai mendapatkan perawatan kehamilan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Perut Bumil Terlihat Kecil, Apa Janinnya Kurang Berkembang?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Ternyata Ini Alasan Mengapa Dokter Kandungan Lebih Banyak Pria
Memilih Dokter Kandungan, Sebaiknya Perempuan atau Laki-laki?
Mengenal Poli Obgyn dan Bedanya dengan Obstetri & Ginekologi
Dokter Obgyn Ungkap Faktor yang Lebih Picu Endometriosis, Ternyata Bukan Seblak
TERPOPULER
Kenapa Ada Orang yang Lebih Sering Digigit Nyamuk? Ini Penjelasannya
11 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Bawa Barang Berlebihan saat Traveling
150 Nama Bayi Terinspirasi Air dan Artinya untuk Anak Laki-laki dan Perempuan
6 Mitos soal Merawat Bayi yang Sering Memicu Kecemasan Orang Tua Baru
Ada 'Gula' dalam ASI, Ternyata Berkaitan dengan Perkembangan Otak Bayi
REKOMENDASI PRODUK
5 Panci Stainless Steel Tebal Serbaguna Terbaik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Minyak Kemiri untuk Bayi yang Bagus dan Aman, Ada Pilihan Bunda?
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Merek Panci Anti Lengket Keramik Bebas PFOA dan PTFE
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Glossy Balm, Bikin Bibir Plumpy dan Tampak Sehat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Panci 3 Susun Stainless Steel yang Bagus dan Berkualitas
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Apakah Hamil 1 Minggu Sudah Bisa Terdeteksi Test Pack secara Akurat? Ini Penjelasannya
Kenapa Ada Orang yang Lebih Sering Digigit Nyamuk? Ini Penjelasannya
150 Nama Bayi Terinspirasi Air dan Artinya untuk Anak Laki-laki dan Perempuan
11 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Bawa Barang Berlebihan saat Traveling
Ada 'Gula' dalam ASI, Ternyata Berkaitan dengan Perkembangan Otak Bayi
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Baru Mau Coba Badminton? Kenali Kode Berat Raket Sebelum Kamu Beli
-
Beautynesia
Lewat Single 'KAN, Mawar de Jongh Cerita soal Teman yang 'Bucin' & Ingatkan Pentingnya Mencintai Secara Bijak
-
Female Daily
LEGO® Editions Olivia Rodrigo Hadir, Ada Vinyl hingga Set LEGO yang Bisa Dipajang di Kamar!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Balik ke Inggris, Meghan Markle Disebut Bakal Bintangi Serial Netflix
-
Mommies Daily
Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya