KEHAMILAN
Waspada, Stres saat Hamil Bisa Sebabkan Anak Kelak Sulit Bersosialisasi
Annisa Aulia Rahim | HaiBunda
Minggu, 30 Aug 2026 14:00 WIBMenjalani kehamilan tidak selalu terasa mudah. Selain perubahan fisik, Bunda juga bisa menghadapi berbagai tekanan, mulai dari masalah pekerjaan, kondisi finansial, konflik keluarga, hingga kekhawatiran mengenai persalinan.
Stres sesekali saat hamil sebenarnya merupakan hal yang umum. Namun, stres psikologis yang berat atau berlangsung dalam waktu lama perlu mendapat perhatian karena sejumlah penelitian menemukan adanya kaitan antara stres selama kehamilan dan perkembangan emosi serta perilaku anak di kemudian hari.
Salah satunya berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengatur emosi, beradaptasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Stres saat hamil bisa pengaruhi perkembangan sosial-emosional anak
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi psikologis Bunda selama kehamilan dapat berhubungan dengan perkembangan anak. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menganalisis 71 penelitian dan menemukan adanya hubungan antara depresi maupun kecemasan selama kehamilan dengan masalah perkembangan sosial-emosional anak.
Dalam penelitian tersebut, anak yang terpapar depresi maternal selama kehamilan memiliki risiko masalah sosial-emosional yang lebih tinggi. Namun, penting dicatat bahwa penelitian ini menunjukkan hubungan (asosiasi), bukan berarti stres selama hamil secara langsung menyebabkan seorang anak pasti mengalami kesulitan bersosialisasi.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Developmental Psychobiology juga menemukan bahwa stres maternal selama kehamilan, terutama yang berkaitan dengan peristiwa traumatis, berhubungan dengan perubahan temperamen anak, seperti meningkatnya respons emosi negatif dan kemampuan regulasi diri yang lebih rendah. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap bagaimana anak mengelola emosi dan merespons lingkungan sosial.
Mengapa stres Bunda bisa berpengaruh pada janin?
Para peneliti masih terus mempelajari mekanisme pastinya. Salah satu dugaan berkaitan dengan sistem respons stres tubuh atau hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis.
Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan meningkatkan produksi hormon seperti kortisol. Selama kehamilan, perubahan pada sistem stres maternal dapat memengaruhi lingkungan biologis yang dialami janin.
Sebuah tinjauan sistematis pada 2024 yang menganalisis 71 penelitian menggunakan pencitraan otak menemukan adanya kaitan antara distress maternal selama kehamilan dengan perubahan struktur dan fungsi beberapa bagian otak janin atau bayi, termasuk sistem limbik, korteks prefrontal, dan insula. Bagian-bagian tersebut memiliki peran dalam regulasi emosi dan respons terhadap stres.
Meski begitu, mekanisme hubungan tersebut belum sepenuhnya dipahami dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Anak bisa lebih sulit mengatur emosi
Salah satu hal yang cukup konsisten ditemukan dalam penelitian adalah kaitan antara stres prenatal dan kemampuan regulasi emosi anak.
Tinjauan sistematis terhadap 32 penelitian menemukan bahwa sebagian besar penelitian yang dianalisis menunjukkan hubungan antara stres atau kecemasan selama kehamilan dengan reaktivitas negatif dan kemampuan regulasi diri anak pada dua tahun pertama kehidupan. Efek yang ditemukan umumnya berada pada tingkat rendah hingga sedang.
Kemampuan mengatur emosi merupakan salah satu dasar penting dalam hubungan sosial. Anak yang lebih mudah frustrasi, sulit menenangkan diri, atau memiliki respons emosi yang lebih kuat mungkin membutuhkan dukungan lebih ketika belajar berinteraksi dengan orang lain.
Bukan berarti anak pasti sulit bersosialisasi
Bunda tidak perlu langsung merasa bersalah atau takut jika pernah mengalami stres selama kehamilan.
Penelitian mengenai stres prenatal umumnya menemukan hubungan statistik, bukan kepastian bahwa setiap anak yang ibunya mengalami stres saat hamil akan memiliki masalah sosial atau perilaku.
Perkembangan anak dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, lingkungan setelah lahir, pola pengasuhan, kondisi keluarga, pengalaman sosial, kualitas tidur, kesehatan, hingga hubungan anak dengan orang-orang di sekitarnya.
Tinjauan sistematis terbaru yang diterbitkan di BMJ Open dan mencakup 44 penelitian juga menemukan bahwa distress psikologis selama kehamilan berkaitan dengan perbedaan kecil pada perkembangan kognitif, bahasa, perilaku, dan sosial-emosional anak. Para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian memiliki variasi dan hubungan yang ditemukan tidak berarti stres prenatal menjadi satu-satunya penyebab masalah perkembangan.
Bagaimana Bunda bisa mengelola stres saat hamil?
Bunda tidak harus menjalani kehamilan tanpa stres sama sekali. Yang lebih penting adalah mengenali ketika tekanan mulai terasa berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Bunda bisa mencoba bercerita kepada pasangan atau orang yang dipercaya, melakukan aktivitas ringan yang menyenangkan, menjaga waktu tidur dan makan, melakukan relaksasi atau latihan pernapasan, serta tetap melakukan aktivitas fisik yang aman sesuai kondisi kehamilan.
Jika rasa cemas, sedih, tertekan, atau kewalahan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter kandungan, psikolog, atau tenaga kesehatan mental.
Mencari bantuan bukan berarti Bunda lemah. Justru, menjaga kesehatan mental selama kehamilan merupakan bagian dari menjaga kesehatan Bunda sekaligus mendukung tumbuh kembang Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Bumil Tiba-tiba Nggak Suka Bau Suami, Kok Bisa?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Stres Saat Hamil Bisa Pengaruhi Perkembangan Otak Janin? Ini Kata Peneliti
7 Cara Sederhana Mengatasi Stres pada Ibu Hamil, Bunda Perlu Tahu
Awas! Stres Saat Hamil Sebabkan Gangguan Kepribadian Anak
Bunda, Waspadai Dampak Stres Selama Kehamilan
TERPOPULER
7 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Mengucapkan "Tolong" dan "Terima Kasih", Bunda Perlu Tahu
Curhat Haldy Sabri Temani Irish Bella Cek Kandungan ke Dokter, Penuh Rasa Syukur
15 Soal Mengurutkan Pecahan Kelas 4 dan Kunci Jawabannya
7 Ide Stimulasi Bayi 3 Bulan agar Cerdas & Perkembangannya Optimal
Intip Kontrakan Rp20 Ribu di Jakarta, Begini Kondisinya
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Stick Foundation Terbaik untuk Makeup Flawless dan Tahan Lama
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Wadah Beras Terbaik, Kedap Udara dan Anti Beras Apek
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kipas Portable dengan Angin Kencang, Praktis Dibawa ke Mana Saja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Eye Patch untuk Mata Lelah dan Panda, Bikin Tampilan Lebih Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Harga Kulkas Termahal dan Fitur di Baliknya
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
15 Soal Mengurutkan Pecahan Kelas 4 dan Kunci Jawabannya
5 Potret Rumah Baru Fajar Sadboy, Intip Hunian Terbarunya
7 Ide Stimulasi Bayi 3 Bulan agar Cerdas & Perkembangannya Optimal
Penyebab Munculnya Lubang Api Bawah Tanah di Kalimantan yang Merah Membara saat Karhutla
Bunda Main This Or That: Mana Yang Paling Relate?
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Headphone Wireless Bisa Dengar Audio Lossless Lewat Kabel USB-C? Ini Cara Kerjanya
-
Beautynesia
5 Drakor Terbaik yang Dibintangi Choo Young Woo Selain Between Steps
-
Female Daily
Rekomendasi 5 Drama China Terbaru Oktober 2026 untuk Masuk Watchlist Kamu!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Sinopsis Beyond Skyline di Bioskop Trans TV Hari Ini
-
Mommies Daily
9 Tempat Belajar Membuat Keramik untuk Anak di Jabodetabek Beserta Manfaatnya