Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Autisme Lebih Banyak Dialami Anak Laki-Laki, Ternyata Bisa Berawal dari Plasenta Ibu

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Rabu, 23 Sep 2026 14:00 WIB

ibu hamil dan dokter
Autisme Lebih Banyak Dialami Anak Laki-Laki, Ternyata Bisa Berawal dari Plasenta Ibu/Foto: Getty Images/DragonImages
Daftar Isi
Jakarta -

Risiko autisme pada bayi bisa mengintai selama kehamilan. Namun katanya, autisme lebih banyak dialami anak laki-laki, ternyata bisa berawal dari plasenta ibu.

Autisme merupakan kondisi perkembangan yang kompleks yang memengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Meskipun penyebab autisme sebagian besar masih belum diketahui, para ilmuwan telah membuat kemajuan signifikan dalam memahami faktor-faktor yang dapat berkontribusi pada perkembangannya. Salah satu bidang penelitian yang sedang berlangsung adalah peran kehamilan dalam perkembangan autisme.

Dari berbagai faktor yang menjadi penyebabnya, salah satu faktor yang paling umum dalam perkembangan autisme ialah genetika.  Penelitian menunjukkan bahwa autisme cenderung menurun dalam keluarga, dan ada komponen keturunan yang kuat dalam kemunculannya. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Selain faktor keturunan, penyebab lainnya yakni disebabkan faktor lingkungan. Penting diketahui bahwa, faktor lingkungan yang terjadi selama kehamilan juga dapat berkontribusi pada risiko anak. Faktor-faktor ini, yang memengaruhi lingkungan prenatal, dapat memengaruhi bagaimana otak bayi berkembang. 

Faktor penyebab autisme

Berikut ini beberapa faktor lingkungan utama yang mungkin terkait dengan autisme selama kehamilan:

1. Kondisi kesehatan ibu

Kesehatan ibu memainkan peran penting dalam perkembangan janin. Beberapa kondisi medis selama kehamilan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko autisme termasuk diabetes gestasional, obesitas, gangguan autoimun, dan infeksi.

2. Usia ibu dan komplikasi kehamilan

Usia ibu telah diidentifikasi sebagai faktor risiko potensial untuk autisme. Studi menunjukkan bahwa ibu yang lebih tua, yaitu mereka yang berusia 35 tahun ke atas, lebih mungkin memiliki anak dengan autisme. Meskipun alasan pasti dari hubungan ini belum sepenuhnya dipahami, hal ini mungkin terkait dengan perubahan pada sel telur seiring waktu, yang dapat meningkatkan risiko mutasi genetik.

Komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia (tekanan darah tinggi) dan perdarahan, juga dapat meningkatkan risiko autisme. Komplikasi ini dapat memengaruhi aliran oksigen dan nutrisi ke janin yang sedang berkembang, berpotensi mengganggu perkembangan otak.

3. Paparan racun dan polutan

Paparan racun dan polutan lingkungan selama kehamilan adalah faktor lain yang dapat berkontribusi pada perkembangan autisme. Studi menunjukkan bahwa paparan bahan kimia tertentu selama kehamilan dapat berdampak negatif pada perkembangan otak janin. Beberapa racun lingkungan yang terkait peningkatan risiko autisme ialah pestisida, logam berat, polusi udara, dan lainnya seperti dikutip dari laman Bluejayaba.

4. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan

Beberapa obat yang diminum selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko autisme pada anak-anak. Beberapa obat, terutama yang memengaruhi sistem saraf pusat, dapat mengganggu perkembangan otak. Misalnya saja obat anti kejang, obat psikiatri, dan lainnya. 

Benarkah autisme lebih banyak menyerang anak laki-laki?

Kehamilan yang berjalan mulus tak berarti aman dari risiko kesehatan. Sering kali, gangguan kesehatan seperti ancaman autisme juga mengintai pada kehamilan seseorang. Bahkan katanya, terkena infeksi tertentu saat hamil juga dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi bahwa anak tersebut nantinya akan didiagnosis menderita autisme.

Namun, sebagian besar janin yang terpapar peradangan tersebut berkembang secara normal, sehingga peningkatan risiko itu sendiri tidak pernah bisa menjelaskan mengapa satu janin terdampak sementara yang lain tidak.

Para peneliti di Cold Spring Harbor Laboratory melaporkan bahwa pada tikus, perbedaan tersebut muncul dalam waktu satu hari, dan hanya terjadi pada tikus jantan.

Tim peneliti memberikan senyawa peniru infeksi virus kepada tikus hamil, lalu memeriksa setiap janin 24 jam kemudian. Sekira 30 persen di antaranya sudah menunjukkan perkembangan yang tidak normal. Tidak ada satu pun dari janin tersebut yang berjenis kelamin betina.

Ternyata, faktor pembedanya ialah plasenta. Pada janin yang mengalami gangguan perkembangan, batas pertemuan antara jaringan induk dan jaringan janin itu sendiri telah mulai rusak.

"Untuk benar-benar memahami gangguan spektrum autisme, kita harus melihat lebih jauh dari sekadar otak," ujar Lucas Cheadle, seorang profesor madya di laboratorium tersebut.

Dilanjutkan Cheadle bahwa penelitiannya menunjukkan bahwa aktivasi sistem kekebalan tubuh ibu dan perubahan di dalam plasenta merupakan pintu masuk menuju autisme bagi individu-individu tertentu. Tetapi sebenarnya, tidak ada infeksi yag menyerang tikus-tikus tersebut. Kenyataannya ialah bahwa sistem kekebalan tubuh mereka bereaksi seolah-olah ada infeksi yang terjadi.

Dalam praktiknya, penyuntikan dilakukan pada hari ke-12.5 masa kehamilan seperti dikatakan para penulis. Waktu ini setara dengan akhir trimester kedua pada manusia. Sehari kemudian, Rene Sanchez Martin, seorang peneliti pascadoktoral di laboratorium Cheadle beserta rekan-rekannya menimbang dan mengukur setiap janin dari setiap kelompok kelahiran.

Sekira 30 persen janin menunjukkan setidaknya satu kelainan, sementara tidak ada satu pun janin pada kelompok kontrol (yang disuntik larutan garam/saline) yang mengalaminya. Beberapa janin memiliki berat badan di bawah angka normal.

Sementara itu, janin lainnya mengalami kelainan bentuk tengkorak, tidak memiliki daun telinga luar atau bantalan kumis, memiliki tulang belakang dan ekor yang bengkok, atau mengalami perdarahan di bawah kulit. Waktu pemberian suntikan sama pentingnya dengan kandungan zat di dalamnya.

Dari praktik tersebut, peradangan yang terjadi pada hari ke-14.5 tidak banyak memengaruhi janin, sedangkan peradangan pada hari ke-9,5 berdampak buruk baik pada janin jantan maupun betina. Hanya rentang waktu di sekitar hari ke-12,5 yang menghasilkan pola dampak khusus pada janin jantan.

Hanya janin jantan yang berdampak

Para peneliti mengelompokkan janin yang terdampak berdasarkan tingkat keparahannya, lalu memeriksa jenis kelamin masing-masing. Namun faktanya, tidak ditemukan janin betina dalam kedua kelompok tersebut.

Jika dihitung dengan cara lain, sekitar 60 persen janin jantan dari induk yang mengalami peradangan menunjukkan masalah perkembangan tertentu, sementara tidak ada satu pun janin betina yang mengalaminya.

Tim peneliti mengulangi percobaan ini pada galur tikus laboratorium yang berbeda dan memperoleh hasil yang sama.

Autisme didiagnosis pada anak laki-laki sekitar empat kali lebih sering dibandingkan pada anak perempuan, namun belum ada yang bisa memastikan penyebab pastinya.Terkait hal tersebut, Cheadle mengatakan bahwa waktu terjadinya perbedaan pada tikus-tikus ini adalah hal yang paling menarik perhatiannya.

"Ini sungguh menarik, karena kita mengamati tahapan usia sebelum terjadinya lonjakan hormon. Tahapan ini mendahului diferensiasi seksual di otak dan berbagai wilayah tubuh lainnya. Jadi, mengejutkan bahwa perbedaan berbasis jenis kelamin sudah muncul sedini itu," ujarnya.

Kerusakan ditemukan pada plasenta

Berbicara mengenai plasenta, sebenarnya plasenta tikus terdiri dari tiga lapisan. Satu lapisan berasal dari rahim induk, dan satu lapisan lainnya memuat jaringan tempat pertukaran nutrisi serta gas antara darah induk dan darah janin. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat zona perbatasan yang terbentuk dari sel-sel janin itu sendiri.

Melalui analisis aktivitas gen pada 197.237 inti sel, tim peneliti menemukan adanya aktivasi mekanisme peradangan di seluruh plasenta janin jantan yang terdampak. Perubahan paling mencolok terjadi pada sel-sel di zona perbatasan.

Sel-sel tersebut menurunkan aktivitas gen yang mengodekan kolagen dan laminin, yaitu protein yang berfungsi menyatukan jaringan. Selain itu, sel-sel tersebut juga menurunkan produksi hormon, yang merupakan bagian dari mekanisme plasenta dalam menjaga sistem kekebalan tubuh induk agar tetap tenang.

Hasil pengamatan pada irisan jaringan yang diberi pewarna selaras dengan data genetik tersebut. Plasenta dari janin jantan yang terdampak menunjukkan adanya perdarahan, kongesti (penumpukan darah), dan jaringan mati di zona perbatasan serta lapisan induk yang bersebelahan dengannya.

Kondisi ini tidak ditemukan pada saudara jantan yang berkembang normal maupun pada janin betina. Selain itu, tikus jantan dan betina yang tidak diberi perlakuan tampak serupa sebelum penyuntikan dilakukan.

Diperlukan satu sinyal peradangan

Cairan di dalam kantung ketuban dipenuhi oleh sel-sel kekebalan tubuh dan molekul pembawa sinyal peradangan. Empat belas dari molekul pembawa pesan tersebut muncul hanya pada individu jantan yang mengalami perkembangan tidak normal, bukan pada saudara jantan yang sehat maupun pada individu betina mana pun.

Salah satunya ialah interleukin-6 yakni sinyal yang digunakan tubuh untuk memicu respons peringatan saat terjadi infeksi dan molekul ini termasuk yang produksinya paling kuat terpicu.

Karenanya, tim peneliti mengulang seluruh prosedur tersebut dengan memberikan antibodi penetral interleukin-6 kepada induk hewan satu jam sebelum pemberian poly(I:C).

Hasilnya, peradangan tetap terjadi, namun kelainan pada janin dan kerusakan plasenta tidak terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa interleukin-6 berperan penting dalam memunculkan kelainan pada eksperimen ini, dan bukan sekadar merupakan produk sampingan.

Plasenta manusia menunjukkan perubahan serupa

Tim peneliti juga menganalisis ulang data yang telah dipublikasikan mengenai plasenta yang disumbangkan oleh perempuanyang pernah menderita COVID-19 saat hamil. 

Beberapa gen yang aktivitasnya meningkat pada sel-sel zona perbatasan plasenta tikus juga meningkat pada sel-sel manusia, dan kedua kelompok sel tersebut sama-sama menurunkan aktivitas gen kolagen.

Penjelasan awal Cheadle bermula dari apa yang dibawa janin laki-laki

Embrio laki-laki memproduksi protein spesifik laki-laki yang dapat dikenali sebagai benda asing oleh sistem kekebalan tubuh ibu, dan plasenta yang sehat menahan reaksi tersebut seperti dikutip dari laman Earth.

Menurut pandangan ini, peradangan menghilangkan hambatan tersebut, sehingga sel-sel kekebalan tubuh ibu dapat menjangkau janin yang sebelumnya mereka toleransi.

Sementara itu, pada janin perempuan tidak memproduksi protein spesifik laki-laki yang sama, hal ini mungkin membantu plasenta mereka dalam meredam reaksi kekebalan tubuh.

"Mungkin ada mekanisme perlindungan pada janin perempuan yang bisa dimanfaatkan untuk membantu janin laki-laki. Kami sedang berupaya memahami bagaimana autisme muncul pada kedua jenis kelamin," ujar Cheadle.

"Bukti yang ada menunjukkan bahwa kemungkinan terdapat mekanisme yang berbeda. Slain itu, kesenjangan lainnya terletak pada faktor waktu. Setiap janin dalam penelitian ini diperiksa satu hari setelah penyuntikan, sehingga tidak ada hewan yang dipelihara hingga dewasa ataupun diuji perilakunya."

Laboratorium lain telah mengaitkan interleukin-6 dengan perilaku menyerupai autisme pada tikus dewasa, namun penelitian ini tidak memantau dampak kerusakan plasenta terhadap perkembangan otak di tahap selanjutnya.

Terkait perbedaan cara kerja plasenta janin perempuan masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab, dan laboratorium Cheadle berencana untuk terus meneliti anak tikus jantan maupun betina.

Guna menjawab pertanyaan ini berarti perlu menemukan mekanisme perlindungan pada janin perempuan, lalu menguji apakah mekanisme tersebut dapat diaktifkan pada janin laki-laki.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

 

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda