Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Jangan Panik! Ini Langkah yang Bisa Dilakukan saat Ada Ibu Hamil Melahirkan di Tempat Umum

Melly Febrida   |   HaiBunda

Selasa, 13 Oct 2026 07:30 WIB

a pregnant asian chinese businesswoman on the move taking public transportation commuter monorail in kuala lumpur to work with her digital tablet
Langkah yang Bisa Dilakukan saat Ada Ibu Hamil Melahirkan di Tempat Umum/Foto: Getty Images/Edwin Tan
Daftar Isi
Jakarta -

Apa yang akan Bunda lakukan jika melihat ibu hamil tiba-tiba melahirkan di jalan, pusat perbelanjaan, kendaraan, atau tempat umum lainnya? Situasi seperti ini tentunya bisa bikin panik. Apalagi kalau Bunda belum pernah melihat persalinan secara langsung.

Saat itu terjadi, Bunda termasuk yang panik atau berusaha membantu? Orang yang berada di sekitar ibu hamil sebenarnya bisa membantu. Tentunya bukan menjadi tenaga kesehatan, melainkan menjaga ibu dan bayi tetap aman sambil segera meminta pertolongan medis.

Melansir PubMed, persalinan yang berlangsung sangat cepat dikenal sebagai precipitous labor, yaitu ketika bayi lahir dalam waktu kurang dari tiga jam sejak kontraksi teratur dimulai. Kondisi ini relatif jarang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Sebuah tinjauan penelitian menyebut angka kejadian precipitous labor yang dilaporkan di Amerika Serikat dan beberapa negara lain berkisar 0,1–3 persen, namun angka tersebut dapat berbeda antarpenelitian karena perbedaan definisi dan karakteristik populasi yang diteliti.

Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan jika menghadapi ibu hamil yang tiba-tiba melahirkan di tempat umum?

Kenali tanda ibu mungkin segera melahirkan

Salah satu hal penting adalah mengenali bahwa persalinan sudah sangat dekat dan ibu mungkin tidak sempat mencapai fasilitas kesehatan.

Tanda-tandanya antara lain:

  • Kontraksi terasa kuat dan semakin sering.
  • Jeda antarkontraksi sangat pendek.
  • Ibu merasakan dorongan kuat untuk mengejan.
  • Kepala bayi mulai terlihat di jalan lahir.
  • Ketuban pecah.
  • Ibu mengatakan bayi terasa akan segera keluar.

Jika kepala bayi sudah terlihat, jangan mencoba membawa ibu pergi dengan kendaraan sendiri. Segera minta bantuan medis.

Segera hubungi layanan darurat

Jika Bunda menghadapi situasi tersebut di Indonesia, hubungi 119, layanan darurat medis Kementerian Kesehatan, dan jelaskan bahwa ada ibu yang sedang mengalami persalinan dan bayi kemungkinan segera lahir.

Public Safety Center (PSC) 119 merupakan layanan kegawatdaruratan medis Kementerian Kesehatan yang dapat dihubungi untuk mendapatkan bantuan dalam situasi darurat kesehatan. Layanan ini juga dapat membantu mengoordinasikan penanganan kegawatdaruratan sesuai kondisi dan lokasi kejadian.

Sampaikan lokasi sejelas mungkin, termasuk nama gedung, jalan, lantai, pintu masuk, atau penanda lain yang mudah ditemukan petugas.

Jika ada orang lain di sekitar, minta satu orang khusus untuk menghubungi 119. Tetap ikuti instruksi petugas melalui telepon sampai bantuan datang.

Jangan mencoba menghentikan atau memperlambat persalinan

Ketika bayi sudah akan lahir, Bunda atau siapapun yang berusaha membantu, jangan mencoba menahan bayi atau menghentikan proses persalinan. Peran orang di sekitar adalah membantu ibu berada di tempat yang aman, menjaga privasi dan kebersihan sebisa mungkin, serta mendampingi ibu sampai bantuan medis datang.

Jika tersedia, gunakan handuk, kain, atau selimut yang bersih sebagai alas dan untuk menjaga ibu tetap nyaman.

Bantu ibu mencari posisi yang nyaman

Tidak ada keharusan untuk memaksa ibu berbaring telentang. Biarkan ibu mengambil posisi yang terasa paling nyaman dan aman sesuai kondisi, selama tidak ada instruksi berbeda dari petugas medis melalui telepon.

Jika ibu masih dapat bergerak dan persalinan belum benar-benar terjadi, bantu ia berada di tempat yang aman dan tidak mudah terjatuh.

Jika kepala bayi mulai keluar, jangan menarik bayi

Ketika kepala bayi mulai terlihat, jangan menarik kepala atau tubuh bayi. Jika diperlukan, sangga kepala bayi dengan lembut ketika keluar, tetapi jangan mendorong, menarik, atau mencoba mempercepat kelahiran. Biarkan proses kelahiran berlangsung mengikuti kontraksi dan dorongan ibu.

Jika terlihat tali pusat melilit leher bayi, jangan panik dan jangan menarik tali pusat. Jangan mencoba melakukan tindakan sendiri. Ikuti instruksi operator layanan darurat atau tenaga medis yang sedang menuju lokasi.

Jika bahu bayi tampak sulit keluar setelah kepala lahir, jangan menarik bayi. Segera beri tahu petugas medis karena kondisi tersebut membutuhkan penanganan khusus.

Setelah bayi lahir, segera pastikan bayi tetap hangat

Begitu bayi lahir, hal yang sangat penting adalah memastikan bayi tetap hangat dan bernapas. Segera keringkan tubuh bayi dengan kain atau handuk yang bersih dan kering.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pengeringan segera, penilaian pernapasan, menjaga kehangatan, dan kontak kulit-ke-kulit sebagai bagian dari perawatan esensial bayi baru lahir.

Jika bayi bernapas dan kondisinya memungkinkan, letakkan bayi di dada ibu untuk kontak kulit-ke-kulit dan selimuti keduanya agar tetap hangat.

Kontak kulit-ke-kulit segera setelah lahir membantu menjaga suhu tubuh bayi dan mendukung proses menyusu.

WHO juga merekomendasikan kontak kulit-ke-kulit segera setelah kelahiran bagi bayi yang tidak mengalami komplikasi.

Bagaimana jika bayi tidak langsung menangis?

Jangan langsung menyimpulkan bahwa bayi dalam kondisi buruk hanya karena tidak menangis. Yang lebih penting adalah apakah bayi bernapas dan memberikan respons.

Keringkan bayi dan berikan stimulasi lembut sesuai arahan petugas layanan darurat. Jika bayi tidak bernapas atau tampak tidak responsif, segera sampaikan kepada operator 119.

Jika orang yang berada di lokasi memiliki pelatihan CPR bayi dan operator memberikan instruksi untuk melakukannya, ikuti panduan tersebut sampai bantuan medis tiba. Jangan melakukan tindakan resusitasi berdasarkan perkiraan sendiri jika tidak terlatih.

Jangan buru-buru memotong tali pusat

Melahirkan di tempat umum tentu membuat semuanya serba dadakan. Alat-alat yang tersedia pun mungkin tidak lengkap. Lantas, bagaimana dengan tali pusat? Tali pusat tidak perlu langsung dipotong oleh orang yang kebetulan berada di lokasi.

Jika ibu dan bayi dalam kondisi stabil, tali pusat dapat dibiarkan tetap utuh sambil menunggu petugas medis.

WHO merekomendasikan penundaan penjepitan tali pusat, yaitu tidak lebih awal dari satu menit setelah kelahiran.  Penundaan penjepitan memberikan waktu bagi darah dari plasenta untuk terus mengalir ke bayi dan memberikan sejumlah manfaat untuk bayi.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga merekomendasikan penundaan penjepitan tali pusat setidaknya 30–60 detik pada sebagian besar bayi yang lahir cukup bulan maupun prematur dan dalam kondisi bugar.

Namun, jika bayi membutuhkan resusitasi segera atau terdapat kondisi tertentu pada ibu maupun bayi, tenaga kesehatan dapat mengambil keputusan berbeda.

Karena itu, orang awam tidak perlu mencoba memotong atau mengikat tali pusat sendiri. Prioritaskan keselamatan ibu dan bayi, kemudian biarkan petugas medis yang menangani ketika sudah tersedia.

Jangan menarik tali pusat untuk mengeluarkan plasenta

Setelah bayi lahir, plasenta tidak perlu ditarik keluar.Jangan menarik tali pusat atau mencoba mengeluarkan plasenta dengan tangan.

Penanganan plasenta merupakan bagian dari tahap ketiga persalinan dan dapat dilakukan dengan pendekatan yang berbeda sesuai kondisi ibu. Jika plasenta belum keluar, biarkan tenaga kesehatan yang menangani.

Jika ibu mengalami perdarahan yang banyak, segera laporkan kepada petugas darurat karena perdarahan setelah melahirkan dapat menjadi kondisi serius.

Jika persalinan terjadi di dalam mobil

Jika ibu berada di dalam mobil dan bayi sudah akan lahir, jangan memaksakan perjalanan menuju rumah sakit. Segera menepi di tempat yang aman, nyalakan lampu hazard, dan hubungi 119.

Beri tahu lokasi kendaraan secara jelas agar petugas dapat menemukan ibu dengan cepat.

Jika memungkinkan dan aman, pindahkan ibu ke posisi yang memberikan ruang lebih untuk persalinan. Setelah bayi lahir, segera keringkan dan jaga bayi tetap hangat.

Jangan melanjutkan perjalanan sendiri apabila kondisi ibu atau bayi membutuhkan pertolongan medis.

Waspadai tanda bahaya pada ibu dan bayi

Meskipun persalinan sudah selesai, keadaan darurat belum tentu berakhir.

Segera beri tahu petugas medis jika ibu mengalami:

  • Perdarahan banyak atau terus bertambah.
  • Tampak sangat lemas, pucat, bingung, atau mengalami tanda-tanda syok.
  • Nyeri hebat atau kondisi memburuk.

Sementara pada bayi, segera laporkan jika:

  • Tidak bernapas atau mengalami kesulitan bernapas.
  • Tidak memberikan respons.
  • Tampak sangat lemas.
  • Warna kulit tetap kebiruan atau keabu-abuan.
  • Kondisinya tampak memburuk.

WHO menekankan pentingnya menilai pernapasan, menjaga kehangatan, mengenali tanda bahaya, dan segera melakukan rujukan bila bayi membutuhkan perawatan lebih lanjut.

Pada akhirnya, orang yang berada di sekitar ibu melahirkan bukan dituntut untuk "menolong persalinan" seperti tenaga kesehatan. Yang paling berarti justru memastikan ibu dan bayi tetap aman, tidak melakukan tindakan yang berisiko, dan segera menghubungi bantuan profesional.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda