kehamilan
Studi Ungkap Kondisi Mental Remaja yang Lahir dari Program Bayi Tabung
HaiBunda
Rabu, 04 Nov 2026 20:00 WIB
Daftar Isi
Banyak pasangan suami istri (pasutri) terbantu mendapatkan keturunan melalui program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Namun, bagaimana kondisi kesehatan mental anak yang lahir melalui program ini saat beranjak remaja?
Sebuah penelitian dari The University of Western Australia (UWA) bersama Raine Study mengungkap kondisi mental remaja yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu. Hasilnya, ada perbedaan pada beberapa aspek kesehatan mental dan perilaku, termasuk gejala depresi pada usia tertentu.
Lantas, apa saja temuan penelitiannya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi ungkap kondisi mental remaja yang lahir dari program bayi tabung
Penelitian dari UWA bersama Raine Study ini diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction pada 2022.
Peneliti mengamati kesehatan mental remaja yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu (assisted reproductive technology atau ART), termasuk IVF. Kemudian membandingkannya dengan remaja yang dikandung tanpa teknologi tersebut.
Dalam penelitian ini, tim mengamati kondisi mental peserta saat berusia 14 dan 17 tahun. Peneliti juga mengumpulkan informasi dari orang tua atau pengasuh untuk mendapatkan gambaran perilaku para remaja.
Hasilnya menunjukkan adanya beberapa perbedaan dalam kesehatan mental dan perilaku kedua kelompok. Meski begitu, temuan ini tidak serta-merta membuktikan bahwa prosedur bayi tabung menjadi penyebab perbedaan tersebut.
Remaja usia 14 tahun yang lahir dari IVF mengalami gejala depresi
Salah satu temuan utama penelitian ini berkaitan dengan gejala depresi pada remaja usia 14 tahun. Penelitian ini menemukan bahwa pada usia 14 tahun, remaja yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu lebih banyak menunjukkan gejala depresi dibandingkan remaja yang dikandung secara alami.
Angkanya sekitar 12,6 persen, sedangkan pada kelompok pembanding sekitar 8,5 persen.
Namun, saat berusia 17 tahun, perbedaan tersebut tidak lagi ditemukan. Ini artinya, penelitian tersebut belum menunjukkan bahwa remaja yang lahir melalui program bayi tabung akan terus lebih berisiko depresi hingga usia tersebut.
Profesor Roger Hart dari UWA Medical School, yang menjadi salah satu peneliti dalam studi ini, menjelaskan bahwa temuan pada usia 14 tahun tersebut perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah pola serupa juga ditemukan pada kelompok remaja lainnya.
Menurut Profesor Hart, informasi mengenai kesehatan mental anak yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu penting bagi orang tua dan tenaga kesehatan, terutama karena penggunaan teknologi ini semakin umum.
"Mengingat penggunaan teknologi reproduksi berbantu kini semakin umum dan gangguan kesehatan mental juga kian meningkat, pemahaman mengenai potensi keterkaitan ini menjadi penting bagi para orang tua maupun penyedia layanan kesehatan," kata Profesor Hart melansir laman resmi Uwa.edu.au.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut bukan berarti semua anak yang lahir melalui program bayi tabung berisiko mengalami depresi. Kondisi kesehatan mental setiap anak tetap perlu dilihat secara menyeluruh.
Remaja yang lahir dari program bayi tabung cenderung lebih jarang berperilaku agresif
Selain menemukan perbedaan gejala depresi, penelitian ini juga mengamati perilaku para remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa remaja yang dikandung melalui teknologi reproduksi berbantu cenderung lebih jarang menunjukkan perilaku eksternalisasi, seperti perilaku agresif dan kenakalan, dibandingkan kelompok pembanding.
Di sisi lain, laporan orang tua menunjukkan adanya kecenderungan perilaku internalisasi yang lebih tinggi pada kelompok remaja tersebut. Perilaku internalisasi merupakan masalah emosional yang lebih banyak dirasakan atau dipendam, misalnya kecemasan dan kesedihan, sehingga tidak selalu terlihat dari luar.
Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan perilaku yang mudah diamati. Kondisi emosional anak juga perlu mendapat perhatian, meskipun anak tidak menunjukkan masalah perilaku yang mencolok.
Namun, perbedaan yang ditemukan dalam penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua remaja yang lahir melalui IVF memiliki pola perilaku yang sama.
Apakah program bayi tabung memengaruhi kesehatan mental anak?
Hasil penelitian tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa program bayi tabung menyebabkan masalah kesehatan mental pada anak. Ada banyak hal yang dapat berkaitan dengan kesehatan mental seseorang, termasuk faktor keluarga, lingkungan, pengalaman hidup, dan kondisi sosial ekonomi.
Penelitian ini juga memiliki keterbatasan, sehingga hasilnya masih perlu dikonfirmasi melalui studi lain dengan jumlah peserta yang lebih besar.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Psychiatry pada 2022, mengikuti lebih dari 1,2 juta anak dan remaja di Swedia untuk mengamati risiko gangguan kejiwaan pada mereka yang dikandung melalui teknologi reproduksi berbantu.
Hasil penelitian tersebut tidak menemukan peningkatan risiko depresi atau perilaku bunuh diri pada remaja yang dikandung melalui teknologi reproduksi berbantu dibandingkan kelompok pembanding. Peneliti juga menyoroti bahwa faktor karakteristik orang tua dapat membantu menjelaskan sebagian perbedaan risiko yang ditemukan.
Sementara itu, penelitian dari Australia yang diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction pada 2022 menekankan bahwa hasil mengenai kesehatan mental remaja yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu masih membutuhkan penelitian lanjutan.
Perbedaan hasil antarpenelitian ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara program bayi tabung dan kesehatan mental anak bukanlah persoalan sederhana. Hasil satu studi tidak bisa langsung digeneralisasi untuk semua anak yang lahir melalui IVF.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Haru, Perjuangan Pasangan Jalani 15 Kali Bayi Tabung demi Punya Anak
Kehamilan
5 Tips agar Proses Transfer Embrio pada IVF Dapat Berjalan Lancar
Kehamilan
Bunda, Begini lho Proses Transfer Embrio ke Rahim pada Program IVF
Kehamilan
Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memutuskan Program Bayi Tabung
Kehamilan
3 Kisah Haru Bunda Sukses Bayi Tabung, Melahirkan Pertama Kali di Usia 73 Tahun
7 Foto
Kehamilan
7 Potret Dea Ananda Jalani Kehamilan Trimester 3, Bahagia Nantikan Kelahiran Baby S
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Fakta Menarik, Ternyata Bayi IVF Punya 'Jejak Genetik' yang Unik di DNA-nya
Benarkah IVF Bikin Subur? Ini Fakta di Balik Bunda yang Hamil Alami setelah Bayi Tabung
Kisah Haru Bunda Salahkan Diri 3 Th Belum Sukses IVF, Kini Berjuang Menata Hati