HaiBunda

KEHAMILAN

Simak Beragam Faktor yang Sebabkan Bunda Alami Pregnancy Brain

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Minggu, 01 Nov 2026 13:35 WIB
Simak Beragam Faktor yang Sebabkan Bunda Alami Pregnancy Brain/Foto: Getty Images/svetikd
Jakarta -

Kehamilan dapat memengaruhi berbagai hal tidak saja fisik tapi juga psikis, dan memori ibu hamil. Simak beberapa faktor yang menyebabkan Bunda alami pregnancy brain.

Meskipun kelihatannya biasa-biasa saja, ternyata kehamilan bisa membuat perubahan pada perempuan. Salah satunya mereka jadi lebih cemas bahkan depresi. Ya, gejala kecemasan dan depresi memang dapat memengaruhi kehilangan ingatan ibu hamil dan ibu baru. Tetapi katanya, olahraga dapat mengubah hubungan tersebut, seperti dirilis sebuah studi baru.

Mengutip dari laman Psu.edu, gejala kecemasan dan depresi selama kehamilan dikaitkan dengan pregnancy brain yang lebih tinggi atau dikenal momnesia. Pregnancy brain sendiri bukanlah diagnosis medis, tetapi banyak orang sudah mengetahuinya secara alami. Bahwa sebenarnya perempuan hamil dan ibu baru memang dapat mengalami konsentrasi yang terganggu, lupa ingatan, dan menjadi pelupa. 


Memahami kondisi pregnancy brain

Tim peneliti dari Penn State dalam studinya ingin memahami apakah aktivitas fisik dapat mengurangi pregnancy brain pada ibu hamil. Dalam penelitiannya tersebut, mereka menemukan cara-cara tak terduga di mana keadaan emosional negatif, aktivitas fisik, dan pregnancy brain saling berinteraksi.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan di Psychology & Health tersebut, para peneliti menemukan bahwa, rata-rata, perempuan yang melaporkan lebih banyak aktivitas fisik tidak mengalami pregnancy brain yang lebih sedikit. Tetapi, perempuan yang mengalami lebih banyak gejala kecemasan atau depresi justru mengalami lebih banyak pregnancy brain.

Selain itu, meskipun olahraga membantu mengurangi pregnancy brain pada perempuan dengan tingkat gejala depresi tinggi, olahraga mungkin meningkatkan pregnancy brain pada ibu baru dengan tingkat kecemasan tinggi.

"Kami memperkirakan aktivitas fisik akan mengurangi pelupaan dan kehilangan ingatan, tetapi kenyataannya lebih rumit," kata Victoria Suhy, kandidat doktoral dalam kinesiologi di Penn State dan penulis pertama studi ini. 

Dikatakannya bahwa olahraga mungkin secara tidak langsung dapat mengurangi pregnancy brain pada perempuan dengan gejala depresi, tetapi dapat memperburuk kegagalan kognitif pada perempuan dengan gejala kecemasan.

"Ada konstelasi kompleks faktor yang mendorong fenomena ini. Jika kita ingin membantu ibu baru menghilangkan pregnancy brain, hal itu akan membutuhkan lebih dari sekadar aktivitas fisik sehingga perempuan harus mendorong perawatan diri yang kuat."

Dalam penelitiannya, tim merekrut 56 perempuan di Pennsylvania Tengah yang sedang hamil sekitar 30 minggu untuk mengisi kuesioner. Empat puluh enam dari perempuan itu menjawab pertanyaan yang sama lagi, enam minggu setelah mereka melahirkan.

Para peserta yang berusia rata-rata 30 tahun dan lebih mungkin berkulit putih serta memiliki gelar sarjana dibandingkan masyarakat umum menjawab pertanyaan tentang seberapa banyak mereka berolahraga, gejala mereka untuk depresi dan kecemasan, dan pengalaman mereka dengan kegagalan ingatan, dan bahasa. 

Sementara itu, tingkat aktivitas fisik dievaluasi berdasarkan apakah perempuan memenuhi pedoman dari The American College of Obstetricians and Gynecologists yaitu 150 menit aktivitas intensitas sedang per minggu.

Gejala kecemasan termasuk kekhawatiran berlebihan, kesulitan tidur, dan masalah konsentrasi, serta gejala depresi, termasuk keputusasaan, ketidakberhargaan, dan hilangnya nafsu makan, dikaitkan dengan tingkat pregnancy brain yang lebih tinggi dalam studi, kata Suhy.

Meskipun perempuan yang memenuhi pedoman aktivitas fisik cenderung mengalami pregnancy brain yang lebih sedikit dibandingkan perempuan lain dalam studi tersebut, perbaikan tersebut tidak signifikan secara statistik dan mungkin tidak dapat diulang, kata para peneliti. Namun, olahraga dikaitkan dengan tingkat otak kehamilan yang lebih rendah pada perempuan dengan tingkat gejala depresi yang tinggi.

"Hasil ini menunjukkan bahwa olahraga mungkin menjadi strategi yang baik bagi perempuan yang merasa down atau putus asa jika mereka ingin melawan pregnancy brain selama kehamilan," kata Danielle Symons Downs, profesor kinesiologi serta obstetri dan ginekologi serta penulis senior studi ini.

Namun, olahraga mungkin tidak bermanfaat bagi ibu baru yang mengalami tingkat kecemasan tinggi, kata tim tersebut. "Ada kemungkinan ibu baru yang lebih cemas dan memenuhi pedoman aktivitas mungkin terlalu membebani diri," kata Suhy.

Selain itu, sambung Suhy, mereka mungkin mencoba melakukan terlalu banyak, yang menjelaskan mengapa memenuhi pedoman bisa menjadi beban tambahan. Jika seorang perempuan merasa cemas dan melakukan aktivitas fisik karena rasa kewajiban atau keinginan menurunkan berat badan kehamilan, hal itu mungkin justru meningkatkan beban di otak.

Downs, yang merupakan wakil direktur Penn State Social Science Research Institute, menekankan bahwa ibu hamil dan ibu baru membutuhkan waktu dan ruang untuk melakukan perawatan diri yang direncanakan.

"Karena banyaknya kewajiban yang sering dimiliki perempuan, gagasan tentang perawatan diri kadang dianggap sebagai sesuatu yang egois daripada esensial, terutama selama kehamilan dan pasca melahirkan ketika perempuan lebih rentan terhadap kabut kognitif dan perubahan emosional," kata Downs.

"Perempuan juga perlu memahami bahwa perawatan diri adalah komponen penting dalam menjadi ibu, meskipun hanya dengan menyisihkan waktu lima menit di pagi hari dan lima menit sebelum tidur untuk mengurai perasaan diri sendiri dan melacak serta menjadi lebih sadar apakah diri sendiri telah mengalami perubahan suasana hati yang signifikan atau kegagalan kognitif yang lebih parah.

Para peneliti menambahkan bahwa perempuan sebaiknya meminta dukungan dari tim medis, keluarga, dan teman-teman saat mereka membutuhkannya. Mereka juga mengatakan bahwa keluarga dan teman harus mempertimbangkan kesejahteraan ibu hamil atau ibu baru.

"Jika kamu merupakan bagian dari support system seorang ibu, pikirkan apa yang bisa dilakukan untuk mendukung kesehatan fisik, mental, dan emosionalnya," kata Suhy.

Apalagi, kehamilan, persalinan, dan peran menjadi ibu adalah masa dinamis dalam hidup. Ketika perempuan mengalami banyak perubahan fisik, emosional, dan hormonal yang signifikan, maka mereka perlu meluangkan waktu untuk merawat dirinya sendiri.

 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Mengenal Postpartum Psychosis, Hal yang Perlu Diwaspadai Setelah Melahirkan

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Arti Mimpi Ketinggalan Pesawat dan Kereta, Benarkah Berkaitan dengan Kesempatan yang Terlewat?

Mom's Life Elia Amaliana

Selalu Jadi Anak Paling Dewasa dan Penurut Sejak Kecil, Psikolog Ungkap Dampaknya saat Besar

Parenting Azhar Hanifah

Potret Bunga Reyza Penyanyi yang Tengah Naik Daun Sekaligus Calon Dokter

Mom's Life Annisa Karnesyia

Simak Beragam Faktor yang Sebabkan Bunda Alami Pregnancy Brain

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Psikolog Ungkap 2 Hal yang Diduga Picu Krisis Kesehatan Mental Anak

Parenting Azhar Hanifah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Pentingnya Mengajarkan Anak Perempuan Jaga Kesehatan Payudara untuk Cegah Kanker

10 Restoran yang Kasih Birthday Treats

Arti Mimpi Ketinggalan Pesawat dan Kereta, Benarkah Berkaitan dengan Kesempatan yang Terlewat?

Simak Beragam Faktor yang Sebabkan Bunda Alami Pregnancy Brain

Selalu Jadi Anak Paling Dewasa dan Penurut Sejak Kecil, Psikolog Ungkap Dampaknya saat Besar

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK