HaiBunda

KEHAMILAN

Kasus Kematian akibat Kehamilan Ektopik Meningkat Hampir Dua Kali Lipat, Apa Penyebabnya?

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 30 Oct 2026 18:20 WIB
Kasus Kematian akibat Kehamilan Ektopik Meningkat Hampir Dua Kali Lipat, Apa Penyebabnya?/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Kehamilan ektopik merupakan kondisi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan berkembang di luar rahim, atau paling sering di tuba falopi. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena berisiko menyebabkan komplikasi, Bunda.

Baru-baru ini, analisis ProPublica terhadap data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan bahwa jumlah perempuan yang meninggal setelah kehamilan ektopik telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data, hampir 200 perempuan di Amerika Serikat (AS) dengan kondisi tersebut meninggal dari tahun 2020 hingga 2025, dibandingkan dengan sekitar 100 dalam enam tahun sebelumnya.

"Kematian yang terkait dengan kehamilan ektopik seharusnya benar-benar tidak pernah terjadi," kata dokter kandungan di Philadelphia, Dr. Alice Abernathy, dilansir laman ProPublica.


Kematian ektopik biasanya terjadi pada trimester pertama, setelah kehamilan sel telur yang telah dibuahi atau embrio gagal menempel di rahim dan mulai berkembang di tempat lain. Embrio yang tumbuh dapat menyebabkan organ tersebut pecah dan memicu pendarahan hebat.

Dalam laporan ini, ProPublica menganalisis data yang dikumpulkan dari setiap negara bagian oleh CDC untuk mencari pola. Analisis tersebut menunjukkan kesenjangan yang semakin besar bagi perempuan di negara bagian AS dengan larangan aborsi yang ketat dibandingkan dengan negara bagian tanpa larangan tersebut.

Meskipun peningkatan kematian akibat kehamilan ektopik terjadi di seluruh negeri, peningkatan tersebut jauh lebih tajam di negara bagian yang melarang aborsi.

Pada tahun 2025, regulator menemukan bahwa salah satu rumah sakit, Ascension Seton Williamson, gagal melakukan skrining yang tepat terhadap pasien untuk dugaan kehamilan ektopik dan tidak memanggil dokter kandungan. Pasien harus menjalani operasi pengangkatan tuba falopi setelah tuba tersebut pecah.

Pihak rumah sakit sendiri telah membantah tuduhan malpraktik dalam pengajuan pengadilan. Hal tersebut juga disampaikan oleh seorang juru bicara rumah sakit.

"Ketika seorang pasien mengalami kondisi serius atau mengancam jiwa selama kehamilan, dokter kami memberikan perawatan yang diindikasikan secara medis, termasuk perawatan untuk kehamilan ektopik," kata juru bicara tersebut.

Kehamilan ektopik telah lama diakui sebagai penyebab utama kematian ibu pada trimester pertama. Kondisi ini memengaruhi hingga 2 persen kehamilan di AS.

Para ahli tidak yakin mengapa kematian akibat kehamilan ektopik terus meningkat. Kehamilan ektopik lebih umum terjadi pada perempuan yang lebih tua, tetapi peningkatan kematian yang lebih mencolok justru ditemukan di kalangan perempuan yang lebih muda, Bunda.

Apa itu kehamilan ektopik?

Melansir dari laman Cleveland Clinic, kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim. Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di lokasi yang tidak dapat mendukung pertumbuhannya.

Kehamilan ektopik paling sering terjadi di tuba fallopi atau struktur yang menghubungkan ovarium dan rahim. Kehamilan ektopik dapat mengancam jiwa, terutama jika tuba falopi pecah (ruptur), sehingga dapat menyebabkan pendarahan hebat, infeksi, dan terkadang kematian.

Gejala kehamilan ektopik

Gejala awal kehamilan ektopik bisa sangat mirip dengan gejala kehamilan pada umumnya. Namun, perempuan dengan kondisi ini mungkin mengalami gejala tambahan, seperti perdarahan di vagina, rasa sakit di perut bagian bawah, panggul, dan punggung bagian bawah, serta pusing atau lemas.

Jika tuba falopi pecah, rasa sakit dan perdarahan bisa cukup parah hingga menyebabkan gejala tambahan, seperti pingsan, nyeri bahu, tekanan darah rendah, hingga masalah pada usus.

Penyebab kehamilan ektopik

Ada beberapa penyebab kehamilan ektopik, yakni:

  • Perempuan memiliki jaringan parut, perlengketan, atau peradangan akibat operasi panggul sebelumnya
  • Saluran tuba falopi mengalami kerusakan, misalnya akibat infeksi menular seksual (IMS)
  • Perempuan terlahir dengan tuba fallopi yang berbentuk tidak teratur
  • Seorang perempuan memiliki pertumbuhan yang menyumbat saluran tuba falopi

Sementara itu, faktor risiko dari kehamilan ektopik dapat meliputi:

  • Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
  • Riwayat penyakit radang panggul, yaitu infeksi yang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut di tuba falopi, rahim, ovarium, dan leher rahim
  • Operasi pada tuba fallopi (termasuk ligasi tuba) atau pada organ lain di area panggul
  • Riwayat infertilitas
  • Pengobatan infertilitas dengan program bayi tabung
  • Mengalami endometriosis
  • Infeksi menular seksual (IMS)
  • Alat kontrasepsi IUD terpasang pada saat pembuahan
  • Riwayat merokok tembakau

Apa kehamilan ektopik bisa dicegah?

Bunda tidak dapat mencegah kehamilan ektopik. Namun, kita dapat mencoba mengurangi risiko dengan menjalani gaya hidup yang sehat, termasuk tidak merokok, mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat, dan mencegah infeksi menular seksual.

Bunda juga bisa berkonsultasi dengan dokter tentang faktor risiko apa pun yang mungkin dimiliki sebelum mencoba untuk hamil.

Demikian data terbaru tentang angka kehamilan ektopik yang meningkat di AS. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Janin Lebih Aktif Saat Malam, Ternyata..

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Cara Mengenali Orang IQ Tinggi Dilihat dari Cara Balas Chat

Mom's Life Azhar Hanifah

Kisah Nyata di Balik Lagu Viral TikTok 'Stop The Wedding', Terinspirasi dari Kehidupan Sang Penyanyi

Mom's Life Amira Salsabila

Kasus Kematian akibat Kehamilan Ektopik Meningkat Hampir Dua Kali Lipat, Apa Penyebabnya?

Kehamilan Annisa Karnesyia

28 Tahun Beroperasi, Mal Ini Akhirnya Resmi Tutup

Mom's Life Amira Salsabila

Brisia Jodie Unggah Video Reaction Kehamilan, Respons Keluarga Bikin Haru

Kehamilan Amrikh Palupi

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Ramai Sepekan: Tasya Farasya Renovasi Rumah Sampai Bumil Ikut JRF 2026

Kisah Nyata di Balik Lagu Viral TikTok 'Stop The Wedding', Terinspirasi dari Kehidupan Sang Penyanyi

Takut Ketahuan Jadi Pengangguran, Anak Muda di Negara Ini Pura-pura Pergi Kerja Tiap Hari

Kasus Kematian akibat Kehamilan Ektopik Meningkat Hampir Dua Kali Lipat, Apa Penyebabnya?

Gen Z Disebut Generasi Paling Kesepian, Kini Andalkan ChatGPT untuk Teman Curhat

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK