Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

5 Gejala Kehamilan Ektopik yang Perlu Diwaspadai

ZAHARA ARRAHMA   |   HaiBunda

Sabtu, 30 Aug 2025 13:30 WIB

Ilustrasi vertigo sakit kepala atau pusing
5 Gejala Kehamilan Ektopik yang Perlu Diwaspadai/Foto: Getty Images/kyonntra
Daftar Isi
Jakarta -

Kehamilan tentu menjadi kabar yang penuh kebahagiaan, ya, Bunda. Namun, perjalanan ini tidak selalu berjalan mulus. Ada beberapa masalah kehamilan yang perlu diperhatikan karena bisa berisiko bagi ibu maupun janin, salah satunya adalah kehamilan ektopik.

Gejala kehamilan ektopik sering kali menyerupai tanda kehamilan normal. Tak jarang, ibu hamil baru menyadarinya setelah muncul keluhan yang cukup mengganggu. Padahal, semakin cepat terdeteksi, semakin besar pula peluang untuk mencegah komplikasi berbahaya.

Agar Bunda lebih memahami kondisinya, HaiBunda telah merangkum sejumlah gejala kehamilan ektopik beserta cara penanganannya. Simak selengkapnya di bawah ini, ya!

Apa yang dimaksud kehamilan ektopik?

Kehamilan ektopik adalah kondisi ketika embrio tidak berkembang di dalam rahim, melainkan menempel di bagian lain, seperti saluran tuba fallopi. Menurut penjelasan dr. Gorga I. V. W. Udjung, Sp.OG, dari RSIA Bunda Jakarta kepada HaiBunda, embrio bisa saja menempel di pangkal, tengah, hingga ujung saluran tuba. 

Salah satu faktor yang meningkatkan risiko kehamilan ektopik adalah infeksi berulang pada organ intim perempuan. Infeksi tersebut biasanya ditandai dengan keputihan yang terus-menerus. Hal ini menjadi sinyal adanya gangguan yang tidak boleh diabaikan, Bunda.

Nah, jika infeksi terjadi berulang kali, kuman dapat bergerak naik menuju saluran tuba fallopi. Di saluran ini terdapat rambut halus (ciliata) yang berperan penting membantu embrio bergerak masuk ke rahim.

Saat fungsi ciliata terganggu akibat adanya kuman, embrio bisa berhenti dan menempel di saluran tuba. Di sinilah kemudian kehamilan ektopik berkembang, bukan di rahim Bunda sebagaimana mestinya.

Perbedaan kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu

Lantas, bagaimana dengan istilah kehamilan ektopik terganggu yang mungkin sering Bunda dengar? Kondisi ini sebenarnya masih berhubungan dengan kehamilan ektopik, tetapi memiliki tingkat risiko yang lebih serius.

Kehamilan ektopik terjadi ketika hasil pembuahan melekat di luar rahim, misalnya di ovarium, saluran tuba, atau bahkan rongga perut. Karena tumbuh di lokasi yang tidak seharusnya, embrio tidak mampu berkembang normal dan pada akhirnya kerap berakhir dengan kematian janin.

Adapun kehamilan ektopik terganggu merupakan komplikasi serius dari kondisi tersebut dan digolongkan sebagai keadaan gawat darurat. Situasi ini dapat menimbulkan perdarahan dalam jumlah banyak dan mengancam keselamatan Bunda sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

Penyebab kehamilan ektopik

Dilansir Mayo Clinic, kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi tidak bisa bergerak dengan normal menuju rahim. Hal ini kerap disebabkan oleh adanya gangguan pada saluran tuba, misalnya peradangan, bentuk tuba yang tidak normal, atau kerusakan akibat infeksi maupun operasi sebelumnya.

Selain itu, ketidakseimbangan hormon juga dapat menghambat proses perjalanan sel telur sehingga menempel di tempat yang tidak semestinya. Begitu pula jika terjadi kelainan pada perkembangan sel telur yang telah dibuahi, embrio bisa gagal mencapai rahim dan akhirnya melekat di luar, seperti di ovarium, rongga perut, atau paling sering di saluran tuba.

Faktor risiko kehamilan ektopik

Melansir The Ectopic Pregnancy Trust, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang perempuan mengalami kehamilan ektopik. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Riwayat kehamilan ektopik

Perempuan yang pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali. Hal ini karena kondisi yang menyebabkan ektopik pada kehamilan pertama bisa tetap ada dan memengaruhi kehamilan berikutnya. 

2. Perawatan kesuburan IVF

Prosedur bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) juga dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Risiko ini muncul karena embrio yang ditransfer ke rahim bisa saja bergerak ke saluran tuba, terutama saat tahap implantasi.

Kondisi tersebut bisa berujung pada kehamilan ektopik. Semakin banyak embrio yang dipindahkan ke rahim, semakin tinggi pula kemungkinan embrio masuk ke tuba fallopi alih-alih menempel di dinding rahim, Bunda.

3. Usia Bunda yang lebih tua

Faktor usia juga berperan besar, Bunda. Semakin bertambah usia seorang perempuan, khususnya di atas 35 tahun, risiko kehamilan ektopik ikut meningkat. Hal ini diduga berkaitan dengan penurunan kualitas sel telur serta perubahan fungsi organ reproduksi seiring bertambahnya usia.

4. Penyakit radang panggul (PID)

Penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID) merupakan infeksi pada organ reproduksi wanita, termasuk saluran tuba. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh penyakit menular seksual, salah satunya Chlamydia trachomatis.

Jika infeksi tidak tertangani dengan baik, dapat menimbulkan kerusakan permanen pada tuba fallopi, sehingga perjalanan sel telur terganggu. Faktor ini menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kehamilan ektopik.

5. Operasi pada saluran tuba

Riwayat operasi di area saluran tuba, misalnya sterilisasi, percobaan ligasi, maupun pembalikan ligasi, dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Prosedur-prosedur ini memengaruhi struktur dan fungsi tuba sehingga sel telur yang dibuahi berpotensi terjebak di dalamnya sebelum mencapai rahim.

6. Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi jaringan mirip lapisan rahim tumbuh di luar rahim, misalnya pada ovarium, usus, atau saluran tuba. Meski masih belum sepenuhnya diketahui alasan medisnya, beberapa studi menyebutkan endometriosis berhubungan dengan meningkatnya risiko kehamilan ektopik. Hal ini terjadi karena jaringan abnormal dapat mengganggu fungsi normal tuba, termasuk pergerakan sel telur.

7. Riwayat operasi perut

Tidak hanya operasi pada saluran tuba, prosedur pembedahan di area perut seperti operasi caesar maupun usus buntu juga bisa meningkatkan risiko. Luka operasi dapat menimbulkan jaringan parut (adhesi) di sekitar saluran tuba, yang pada akhirnya menghambat perjalanan sel telur menuju rahim.

8. Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)

Alat kontrasepsi dalam rahim atau IUD memang efektif mencegah kehamilan di dalam rahim. Namun, jika kehamilan tetap terjadi saat menggunakan IUD, kemungkinan besar embrio akan menempel di luar rahim, termasuk di saluran tuba.

9. Kontrasepsi darurat

Meski jarang dibicarakan, kontrasepsi darurat atau morning after pill juga disebut bisa berkaitan dengan kehamilan ektopik. Secara teori, jika kontrasepsi darurat berhasil mencegah ovulasi, risiko kehamilan akan turun. Namun, jika tidak berhasil menghentikan ovulasi dan pembuahan tetap terjadi, ada kemungkinan lebih besar sel telur menempel di saluran tuba. 

10. Merokok

Penelitian dari University of Edinburgh menemukan bahwa wanita perokok memiliki kadar protein PROKR1 lebih tinggi di saluran tuba. Protein ini sebenarnya berperan penting membantu kehamilan menempel di rahim. Namun, jika hadir dalam jumlah tinggi di saluran tuba, justru dapat menghambat perjalanan sel telur yang telah dibuahi menuju rahim.

5 Gejala kehamilan ektopik yang perlu diwaspadai

Gejala kehamilan ektopik umumnya muncul sejak awal kehamilan, yaitu pada usia 4 hingga 12 minggu. Pada tahap awal, tanda-tandanya bisa tampak mirip dengan kehamilan normal, sehingga sering tidak langsung disadari, Bun.

Mengutip dari Web MD, hanya sekitar separuh perempuan dengan kehamilan ektopik yang mengalami tiga tanda utama sekaligus, yakni terlambat haid, perdarahan vagina, dan nyeri perut. Selain itu, beberapa gejala lain yang bisa muncul antara lain:

  1. Mual dan muntah yang mirip dengan tanda awal kehamilan biasa.
  2. Kram perut tajam yang muncul tiba-tiba.
  3. Nyeri pada salah satu sisi tubuh, biasanya di perut bagian bawah.
  4. Pusing, lemas, atau sensasi hampir pingsan akibat perdarahan internal.
  5. Nyeri pada bahu, leher, atau bagian rektum yang menandakan adanya perdarahan dalam rongga perut.

Jika gejala ringan ini tidak segera terdiagnosis, kehamilan ektopik bisa semakin parah hingga menyebabkan pecahnya saluran tuba. Akibatnya, perdarahan vagina deras disertai pusing hebat dan jatuh pingsan bisa terjadi.

Oleh sebab itu, jika Bunda mengalami salah satu dari gejala di atas, terutama tanda darurat, segera minta pertolongan medis. Penanganan cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius dan menyelamatkan nyawa.

Diagnosis kehamilan ektopik

Untuk mengetahui apakah kehamilan berkembang di luar rahim, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan. Biasanya dimulai dengan tes kehamilan, tes darah, dan pemeriksaan panggul. Setelah itu, langkah lanjutan yang paling penting adalah USG, karena metode ini bisa memberikan gambaran jelas mengenai kondisi rahim dan saluran tuba.

Mendiagnosis USG kehamilan ektopik

Diagnosis menggunakan USG menjadi salah satu langkah utama untuk memastikan kondisi kehamilan, termasuk jika ada kecurigaan kehamilan ektopik. Pemeriksaan ini bersifat noninvasif, yakni tidak menimbulkan rasa sakit karena hanya menggunakan gelombang suara untuk menampilkan gambar bagian dalam rahim, ya, Bunda.

Prosedur ini dilakukan oleh sonografer melalui dua cara, yaitu transvaginal (dengan alat kecil yang dimasukkan melalui vagina) atau transabdominal (dengan alat digerakkan di atas perut). Selama proses ini, dokter akan memeriksa apakah terlihat kantung kehamilan, di mana letaknya, serta apakah sudah terdapat detak jantung janin. Pemeriksaan ini biasanya hanya memakan waktu sekitar 15-20 menit.

Selain itu, USG abdominal juga bisa membantu mendeteksi adanya perdarahan dalam rongga perut Bunda. Dengan demikian, dokter dapat lebih cepat mendiagnosis agar penanganan yang tepat bisa segera diberikan untuk menjaga kesehatan Bunda sekaligus calon bayi.

Komplikasi kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan cepat karena bisa menimbulkan komplikasi serius. Salah satu risiko terbesar adalah pecahnya saluran tuba tempat janin menempel. Ketika tuba fallopi pecah, darah dapat mengalir deras ke dalam rongga perut dan menyebabkan perdarahan internal yang mengancam nyawa.

Perdarahan ini biasanya disertai dengan gejala seperti nyeri perut hebat yang datang tiba-tiba, pusing hingga hampir pingsan, dan kulit menjadi pucat. Jika tidak segera mendapat pertolongan medis, kondisi ini bisa berujung pada syok dan berbahaya bagi keselamatan ibu.

Selain risiko perdarahan, komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah kerusakan permanen pada tuba fallopi. Hal ini dapat memengaruhi kesuburan Bunda di kemudian hari, bahkan meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik kembali pada kehamilan berikutnya.

Cara mencegah kehamilan ektopik berulang

Memang tidak ada cara yang benar-benar bisa mencegah kehamilan ektopik. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menurunkan risikonya, terutama jika sebelumnya Bunda pernah mengalami kondisi ini.

Upaya pencegahan biasanya berhubungan dengan menjaga kesehatan reproduksi serta gaya hidup sehari-hari. Web MD dan Verywell Health menyebutkan beberapa cara yang bisa Bunda terapkan, antara lain:

1. Gunakan kondom saat berhubungan intim

Kondom tidak hanya mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, tetapi juga melindungi dari infeksi menular seksual (IMS). Infeksi jenis ini dapat memicu penyakit radang panggul yang menjadi salah satu faktor risiko kehamilan ektopik.

2. Hindari penggunaan vaginal douche

Membersihkan vagina dengan cara ini ternyata tidak dianjurkan, ya, Bunda. Vaginal douche dapat meningkatkan risiko infeksi dan pada akhirnya membuat peluang kehamilan ektopik lebih besar.

3. Berhenti merokok

Merokok diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko kehamilan ektopik. Oleh karena itu, bila Bunda masih memiliki kebiasaan ini, sebaiknya berhenti terlebih dahulu sebelum merencanakan kehamilan.

Langkah kecil ini tidak hanya menurunkan risiko kehamilan ektopik, tetapi juga membantu menjaga kesehatan paru-paru dan memberikan lingkungan yang lebih sehat untuk tumbuh kembang Si Kecil nantinya.

Apakah kehamilan ektopik bisa gugur sendiri?

Seperti yang diketahui, kehamilan ektopik dapat menimbulkan komplikasi serius yang membutuhkan penanganan medis segera. Kondisi ini tidak bisa bertahan ataupun berkembang menjadi kehamilan normal, sehingga intervensi medis seperti operasi atau pemberian obat diperlukan untuk mengangkatnya dan mencegah risiko lebih lanjut.

Melansir laman Shun Child, ada kasus di mana kehamilan ektopik dapat 'teratasi' dengan sendirinya tanpa tindakan medis. Kondisi ini disebut spontaneous resolution, tetapi sangat jarang terjadi dan tidak bisa dijadikan pilihan penanganan, Bunda.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada juga pernah melaporkan seorang perempuan dengan kehamilan ektopik yang pulih tanpa rasa sakit dan tanpa intervensi medis. Meski demikian, hal ini merupakan kejadian yang tidak biasa dan bukan hasil umum yang dialami kebanyakan ibu hamil, ya, Bunda.

Berapa lama kehamilan ektopik bertahan?

Dilansir Well Wisp, berbeda dengan kehamilan normal, kehamilan ektopik, terutama yang terjadi di saluran tuba, tidak dapat bertahan lama. Embrio biasanya hanya berkembang hingga usia 6-8 minggu sejak pembuahan sebelum menimbulkan komplikasi serius. Salah satu risiko yang paling berbahaya adalah pecahnya saluran tuba yang dapat menyebabkan perdarahan internal.

Kondisi ini jelas tidak bisa dilanjutkan sebagai kehamilan normal dan sangat membahayakan kesehatan Bunda. Oleh karena itu, campur tangan dokter segera sangat diperlukan, baik melalui pemberian obat maupun tindakan operasi, guna mencegah risiko fatal yang mungkin terjadi.

Prosedur operasi laporotomi untuk menangani kehamilan ektopik

Melansir laman Cleveland Clinic, satu operasi penanganan untuk mengangkat kehamilan ektopik adalah dengan operasi laporotomi. Prosedur ini merupakan pembedahan besar pada area perut dengan membuat sayatan cukup lebar untuk memeriksa sekaligus menangani organ yang bermasalah.

Pada kasus kehamilan ektopik, laporotomi biasanya dilakukan bila laparoskopi tidak memungkinkan. Misalnya saat tuba fallopi sudah pecah atau terjadi perdarahan hebat yang mengancam keselamatan Bunda.

Sebelum tindakan, dokter akan menjelaskan prosedur, risiko, serta alternatif yang ada, lalu meminta persetujuan pasien atau keluarga. Pasien juga akan menjalani pemeriksaan kondisi fisik, riwayat kesehatan, serta tes penunjang seperti darah dan rontgen guna memastikan keamanan tindakan dengan anestesi umum. Persiapan lain dapat mencakup pembersihan usus, larangan makan, serta sterilisasi area perut.

Saat operasi, sayatan sepanjang 7-30 cm dibuat untuk membuka rongga perut. Proses ini biasanya memakan waktu beberapa jam dan setelahnya pasien mungkin dipasangi selang khusus untuk mengalirkan cairan yang akan tetap terpasang selama beberapa hari hingga kondisi stabil.

Cara mengatasi saat muncul gejala kehamilan ektopik

Jika Bunda merasakan gejala kehamilan ektopik, seperti nyeri perut hebat, perdarahan vagina tidak normal, pusing, atau bahkan pingsan, segera periksakan diri ke rumah sakit atau layanan gawat darurat. Jangan menunda karena kondisi ini berisiko menyebabkan pecahnya tuba fallopi dan perdarahan internal.

Setelah terdiagnosis, penanganan akan disesuaikan dengan kondisi pasien. Pada kasus awal yang masih stabil, dokter dapat memberikan obat methotrexate untuk menghentikan pertumbuhan embrio.

"Methotrexate bekerja dengan cara menghentikan perkembangan sel yang membelah cepat, termasuk sel pada kehamilan ektopik. Selama menjalani terapi ini, pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan darah secara rutin guna memantau efektivitasnya," jelas profesor dan praktisi kesehatan holistik, Debra Rose Wilson, Ph.D., dalam laman American Academy of Family Physicians.

Ia melanjutkan, "Jika obat memberikan hasil yang diharapkan, biasanya akan timbul gejala mirip keguguran, seperti kram perut, perdarahan, hingga keluarnya jaringan bersama darah."

Namun, bila sudah terjadi perdarahan atau tuba fallopi pecah, Bunda memerlukan tindakan operasi, seperti laparoskopi atau laparotomi, untuk mengangkat kehamilan ektopik dan mencegah risiko yang lebih fatal.

Demikian rangkuman seputar gejala dan penanganan kehamilan ektopik yang perlu Bunda ketahui, agar diagnosis dan pengobatan bisa dilakukan lebih cepat. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda