kehamilan

Terlahir dengan Hipopituarisme, Akhirnya Wanita Ini Bisa Hamil

Melly Febrida Minggu, 18 Feb 2018 - 08.01 WIB
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Lauren, perempuan berusia 29 tahun ini, memiliki keunikan di tubuhnya sejak lahir, Bun. Jadi dia lahir dengan hipopituitarisme, yang berarti kelenjar pituitarinya tidak terbentuk dengan baik. Akibatnya sekresi beberapa hormon berada dalam jumlah rendah.

Karena kondisi yang dialaminya ini, Lauren harus mengonsumsi obat-obatan yang berfungsi sebagai pengganti hormon yang tidak bisa diproduksi dengan baik oleh kelenjar pituitari. Jadi dia minum pil tiroid dan menyuntikkan hormon pertumbuhan setiap hari.

"Saya sudah mengendalikannya selama 29 tahun, jadi ini bukan masalah sekarang," katanya, seperti dikutip dari weefacts.

Hipopituitarisme itu kondisi ketika kelenjar pituitari (hipofisis) nggak mampu memproduksi satu atau lebih hormon, Bun. Hipopituitarisme juga terjadi kalau kelenjar pituitari nggak bisa melepaskan cukup hormon sehingga penderitanya mengalami kekurangan hormon.

Kelenjar pituitari itu kelenjar kecil seukuran kacang yang ada di dasar otak manusia, tepatnya di belakang hidung, di antara kedua mata. Ukurannya memang kecil Bun, tapi kelenjar ini memproduksi hormon yang mempengaruhi hampir sebagian tubuh manusia.



Kelenjar pituitari juga bertugas mengirimkan sinyal ke kelenjar-kelenjar lain penghasil hormon. Hormon yang diproduksi kelenjar pituitari perannya besar untuk menjalankan fungsi tubuh, seperti untuk pertumbuhan, tekanan darah, metabolisme, dan juga reproduksi. Kalau salah satu hormon nggak bekerja dengan baik, fungsi tubuh bisa terganggu.

Nah, pada Lauren, hipopituitarisme membuatnya mendapatkan masa pubertas yang sangat terlambat ketimbang teman-teman seusianya. "Saat SMP saya merasa seperti mengalami yang terburuk. Saya diejek karena dada rata atau karena masih memiliki gigi susu," kenangnya.

Sebenarnya, ahli endokrinologi mendiagnosis Lauren tak bisa hamil. Jika ingin hamil maka Lauren harus mendapatkan donor telur dan menghabiskan puluhan ribu dolar untuk program bayi tabung. Tentu saja penjelasan dokter tersebut membuatnya kaget.

"Tapi dia malah merujuk saya ke klinik kesuburan. Saya menghabiskan satu tahun penuh di daftar tunggu," sambung Lauren.

Akhirnya seorang ahli kesuburan bisa membantunya untuk mendapatkan kehamilan, Bun. Pada akhirnya seseorang harus menerima dengan baik kondisi tubuh yang diberikan Tuhan, dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Ketika kita sudah mengenal diri kita dengan baik, termasuk berdamai dengan kondisi yang nggak diinginkan, menurut Lauren, di situlah kenyamanan didapat.



"Saya pikir orang selalu bilang meluangkan waktu untuk mencintai diri sendiri. Kedengarannya sangat klise, tapi itulah hal terbaik yang bisa Anda lakukan. Begitu Anda tahu apa yang Anda inginkan, siapa yang peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain?" ucap perempuan yang akan melahirkan pada Juni mendatang.

Dikutip Mayo Clinic, hipopituarisme memiliki beberapa gejala yakni:

Kelelahan
Penurunan berat badan
Berkurangnya dorongan seks
Sensitivitas terhadap dingin
Menurun nafsu makan
Wajah bengkak
Anemia
Ketidaksuburan
Hot flashes, tidak teratur atau tidak ada menstruasi, kehilangan rambut kemaluan, dan ketidakmampuan memproduksi ASI pada perempuan
Berkurangnya rambut wajah atau tubuh pada laki-laki
Perawakannya pendek pada anak-anak.

Penyebab hipopituarisme sanngat beragam, Bun. Bisa karena cedera kepala, tumor otak, pengobatan radiasi, akibat pukulan, infeksi otak, juga tuberkulosis.

Kehilangan darah yang parah saat melahirkan juga dapat menyebabkan kerusakan pada bagian depan kelenjar pituitari. Selain itu mutasi genetik pun bisa mengakibatkan produksi hormon pituitari terganggu. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi