kehamilan

Ibu Ini Sempat Koma Akibat Salah Pasang IUD

Asri Ediyati Senin, 16 Apr 2018 - 18.04 WIB
Ibu Ini Sempat Koma Akibat Salah Pasang IUD/ Foto: Facebook/ Shannon Hubbard Ibu Ini Sempat Koma Akibat Salah Pasang IUD/ Foto: Facebook/ Shannon Hubbard
Sydney, Australia - Ada banyak tipe alat kontrasepsi yang bisa kita pilih, namun sebagian wanita, terutama di kota besar, beralih ke alat kontrasepsi IUD (Intrauterine Device) yang kita kenal dengan KB spiral. Memang banyak keuntungan yang didapatkan termasuk nggak menenggak pil KB tiap hari, tapi jangan salah, jika salah dalam pemasangan bisa berakibat fatal.

Sepertu yang dialami ibu muda yang satu ini, Shannon Hubbard. Nyawanya hampir terancam setelah IUD dipasang secara keliru di rahimnya. Awalnya, delapan minggu setelah melahirkan bayi ketiganya, Shannon memutuskan untuk mendapatkan IUD.

"Saya ingin memiliki jeda setelah anak ketiga saya lahir, tetapi saya dan suami juga masih ingin menambah anak di kemudian hari. Jadi ketika dokter menyarankan untuk pakai IUD karena bisa mencegah kehamilan hingga lima tahun, saya setuju," kata Shannon dikutip dari Daily Mail.

Sebelum pemasangan, Shannon menjalani PAP smear. Saat itu Shannon diberitahu bahwa ada beberapa bercak yang diperkirakan terjadi ketika dia pulih setelah prosedur. Tapi, begitu sampai rumah, Shannon langsung sadar ada yang salah dengannya.

"Dalam waktu setengah jam, saya mengalami pembekuan darah besar. Saya menelepon dokter saya dan disuruh pergi ke UGD jika keadaannya memburuk," tutur Shannon.

Benar saja, Shannon kemudian dilarikan ke rumah sakit, saat pendarahannya sampai pada titik yang hampir membunuhnya. Ketika mereka membawanya dari ruang gawat darurat, Shannon mengatakan dia berdarah sampai-sampai dia membasahi pembalut, celananya, dan menutupi kursi rodanya. Pada tahap ini, gumpalan darahnya sangat besar, sekitar satu hingga delapan centimeter.

Dokter mendesaknya untuk operasi dalam upaya menghentikan kehilangan darah, tetapi itu tidak berhasil. Setelah operasi, Shannon bilang dia terbangun karena merasakan darah yang memenuhi tempat tidur. Saking seriusnya pendarahan, kamarnya dipenuhi sekitar 20 staf yang berbeda.

Ibu Ini Sempat Koma Akibat Salah Pasang IUD/ Ibu Ini Sempat Koma Akibat Salah Pasang IUD/ Foto: Facebook/ Shannon Hubbard





"Saat saya tahu saya hampir mati adalah ketika saya benar-benar dingin, gemetar tak terkendali, pusing dan kehilangan kesadaran. Lalu, saat bangun, saya berada di ICU, jadi saya tidak bisa bicara," kata Shannon dikutip dari Babble.

Pada akhirnya, Shannon membutuhkan 17 unit darah serta tiga operasi darurat untuk menyelamatkan hidupnya. Sebelum operasi ketiga, darah masih mengalir keluar.

"Saya tidak yakin berapa banyak darah yang hilang tetapi hemoglobin saya turun ke 43 (normalnya 140). Saya punya 17 unit kantong darah yang masing-masing 240ml. Begitu saya stabil, dokter mengatakan bahwa cobaan ini bisa sepenuhnya dihindari jika dokter tidak membuat satu kesalahan serius," kata Shannon.

Dokternya Shannon diduga salah memasang posisi IUD karena Shannon sendiri diketahui memiliki leher rahim yang terbalik atau miring. Menurut Mayo Clinic, sekitar 20 persen wanita memiliki rahim yang miring, juga sering disebut sebagai retroverted, tipped, atau retroflexed. Ini dapat terjadi sebagai hasil kehamilan, usia atau dari kondisi sebelumnya termasuk endometriosis.

Meskipun kondisi ini seharusnya nggak memengaruhi efektivitas IUD, tapi ternyata posisi IUD-lah yang salah dipasang oleh dokter sehingga terjadi pendarahan.

"Saya merasa sedikit marah pada dokter, ketika saya berbicara dengannya, dia benar-benar tidak menyesal. Katanya 'wah, bukankah kamu beruntung kita memiliki sistem perawatan kesehatan yang hebat?' Ya, tentu saja kita beruntung tinggal di Australia dan itu bisa dicegah tetapi itu bukan itu intinya," tutur Shannon.

Menurut Shannon, rahimnya rusak sampai pada titik bahwa bahkan jika dia mampu hamil lagi, maka kehamilannya akan berisiko tinggi. Ia merasa sakit hati ketika tahu kondisi rahimnya tak lagi prima karena posisi IUD yang salah.

"Sejujurnya saya masih sangat tegar dan saat ini saya menjadi panik. Satu menit saya pikir saya sangat bersyukur berada di sini dan saya menangis memikirkan anak-anak saya tumbuh tanpa saya. Kemudian menit berikutnya saya merasa marah dan frustrasi karena ini terjadi dan betapa itu mengubah hidup saya," kata Shannon.

Shannon berharap, para ibu perlu meningkatkan kesadaran terhadap risiko sehingga nggak ada ibu lain yang mengalami hal ini. Jangan lupa untuk diskusikan dengan dokter jika ingin memasangan alat kontrasepsi dan posisi rahim juga perlu dimonitoring dan pastikan dokter masukkan alat dengan benar.

(aci/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi