kehamilan

Ini Alasan Setelah Lahiran Ibu Disarankan Tak Main Medsos

Radian Nyi Sukmasari 10 Jul 2018
Ilustrasi ibu baru melahirkan dan pemakaian medsos/ Foto: Thinkstock Ilustrasi ibu baru melahirkan dan pemakaian medsos/ Foto: Thinkstock
Selandia Baru - Gadget dan media sosial sepertinya sulit dilepaskan dari kehidupan kita ya, Bun. Misalnya aja setelah melahirkan nggak sedikit lho ibu yang segera eksis di media sosial. Memang sih, tujuan utamanya ingin mengabarkan ke orang-orang si kecil sudah lahir. Namun, disarankan banget ibu nggak melakukan itu.

Kenapa? Studi yang dilakukan peneliti di Selandia Baru melihat peran media sosial (medsos) seperti Facebook, Instagram, dan Twitter di golden hour setelah ibu melahirkan. Studi ini berangkat dari pengalaman para bidan di Selandia Baru yang menemukan cukup banyak ibu justru sibuk dengan follower-nya di medsos ketimbang bayinya yang baru lahir.

"Studi ini dilakukan untuk melihat sejauh mana internet dan ponsel terutama medsos memengaruhi bonding ibu dan bayinya yang baru lahir," kata peneliti utama Jayne Krisjanous yang merupakan bidan sekaligus akademisi di Victoria University.

Memang, studi ini masih tahap awal, Bun, tapi kata Jayne temuannya cukup menarik. Dengan medsos, setiap orang bisa terhubung dan punya ketertarikan serta ekspektasi soal momen melahirkan. Nah, keluarga muda mewujudkan ekspektasi itu dengan sesegera mungkin mengunggah sesuatu di medsos meskipun keluarga yang lain memilih untuk meminta privasi.

"Sekali foto bayi kita diunggah, umumnya akan banyak komentar dan biasanya orang tua dengan segera membalas komentar itu. Nah, kondisi ini yang dikhawatirkan mengganggu bonding ibu dan bayinya termasuk skin to skin contact yang dilakukan," kata Jayne dikutip dari Essential Baby.

Bonding ibu atau orang tua dengan bayinya yang baru lahir kata Jayne penting banget mengingat bayi baru lahir butuh adaptasi dengan lingkungan barunya yang jelas berbeda dengan lingkungan rahim ibu. Untuk itu, guna menghindari terdistraksinya ibu dengan bayinya yang baru lahir disarankan petugas medis terutama bidan mengingatkan para orang tua bahwa masa-masa awal lahirnya si kecil nggak akan terulang kembali.



Setelah bayi lahir, kontak kulit ke kulit pertama kali bisa dilakukan melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Proses IMD diawali dengan merayapnya bayi ke dada ibu setelah ia mencium bau puting payudara. Proses merayap ini disebut juga dengan breast crawl. Proses ini memiliki manfaat yang secara langsung atau tidak langsung membantu bayi bergerak dan memfasilitasi kehidupan di luar rahim.

"Dari segi biokimia, kontak kulit ke kulit secara dini juga dapat meningkatkan hormon oksitosin dan membantu kelancaran proses laktasi. Proses ini tentu dapat tercapai lebih mudah bila dilakukan perawatan gabung ibu dan bayi," kata dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA, seperti dikutip dari buku 'Breastfeeding Sick Babies' yang disusun oleh Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa dr Tiwi ini mengungkapkan bahwa kontak kulit ke kulit idealnya dimulai sesaat setelah bayi lahir dengan meletakannya di dada ibu. Saat itu, bayi dalam keadaan telanjang dan hanya diberi selimut di punggung. Hmm, memangnya bayi nggak akan kedinginan?

"Melalui teknik ini, ibu bisa mempertahankan suhu tubuh bayi layaknya inkubator. Sebab, dada ibu memiliki daya serap panas yang bisa menghangatkan tubuh bayi saat merayap. Selain pada fisik, kontak kulit ke kulit juga berpengaruh ke psikologis bayi. Kontak kulit ke kulit terbukti menimbulkan efek menenangkan pada bayi. Selama 90 menit pertama setelah lahir, bayi yang diletakkan di dada ibu nyaris tidak mengangis sama sekali," kata dr Tiwi.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi