kesehatan

Kegiatan Fisik untuk Anak yang Mengalami Penyakit Jantung Bawaan

Amelia Sewaka Minggu, 18 Feb 2018 - 15.03 WIB
Kegiatan Fisik untuk Anak yang Mengalami Penyakit Jantung Bawaan/ Foto: Getty Images Kegiatan Fisik untuk Anak yang Mengalami Penyakit Jantung Bawaan/ Foto: Getty Images
Jakarta - Jika si kecil lahir dengan penyakit jantung bawaan, saat besar nanti tetap bisa berolah fisik lho. Ya, kalau sudah dioperasi, kelak anak-anak tetap bisa berkegiatan fisik seperti olahraga kok.

Kata Dr dr Rubiana Sukardi, SpA(K) atau dr Rubi sebagian besar anak dapat berpartisipasi dan tidak memerlukan restriksi atau pembatasan kegiatan. "Mereka tetap bisa kok melakukan kegiatan yang sehat seperti berenang, bersepeda, tenis dan lainnya," kata dr Rubi dalam acara 'The Day I Became a Heart Parent' di Warunk Upnormal, Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Tapi pada anak dengan penyakit jantung bawaan tertentu tidak dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik yang memerlukan kompetisi, Bun. Intinya kegiatan fisik anak disesuaikan dengan kondisinya.

Nah, dr Rubi pun membagi empat kategori untuk perawatan fisis anak dengan penyakit jantung bawaan pasca operasi nih, Bun. Yuk, disimak bersama.

1. Kategori I

Pada kategori ini dr Rubi mengatakan anak tidak ada restriksi pada kegiatan fisiknya. "Kompetisi atletik interskolastik dan olahraga kontak diperbolehkan pada kategori ini," ungkap dokter yang berpraktik di RSCM ini.

Namun ada syaratnya nih, yakni aortic stenosis atau gangguan pada pembukaan katup aorta jantung yang tidak terbuka secara penuh atau menyempit, yang menurunkan aliran darah dari jantung dalam tingkat ringan, ASD (Atrial Septal Defect) atau kerusakan antara kedua ruang atas jantung tanpa hipertensi pulmonal, koartasia aorta atau penyempitan pada aorta dan tekanan darah normal, PDA (Patent Ductus Arteriosus) tanpa hipertensi pulmonal.

"Tetralogy og Fallot, sudah operasi dan tekanan bilik kanan kurang dari 50 mmHg serta ventricular septal defect tanpa PH," lanjut dr Rubi.

Teknis banget ya, Bun? Tapi ini artinya kita perlu banget tanya ke dokter kondisi si kecil bagaimana untuk memastikan anak mendapatan kegiatan fisik yang aman.

2. Kategori II

Pada kategori ini, latihan sedang diperbolehkan. Latihan sedang itu merupakan kelas pendidikan jasmani reguler seperti tenis dan baseball.

Tapi ini ada syaratnya juga. Apa tuh Dok? "Jika transposition of the great arteriesnya atau transposisi arteri besar dan triscuspid atresia atau atresia trikuspidnya sudah dioperasi," papar dokter lulusan Universitas Udayana dan Universitas Indonesia ini.



3. Kategori III

Nah, pada kategori ini, permainan tim atau latihan yang cukup ringan masih dibolehkan seperti golf, renang, sepeda, dan joging. Tapi ada ketentuannya juga lho.

Kata dr Rubi, aktivitas fisik dibolehkan dengan ketentuan aortic stenosis atau gangguan pada pembukaan katup aorta jantung yang tidak terbuka secara penuh atau menyempit, yang menurunkan aliran darah dari jantung dalam tingkat ringan sedang, Atrial Septal Defect (ASD) atau kebocoran bilik jantung serta hipertensi pulmonalnya dalam tingkat ringan hingga sedang.

"Coarctation aorta dengan hipertensi, Patent Ductus Arteriousus (PDA) dengan hipertensi pulmonal dengan tingkat ringan hingga sedang dan pulmonary stenosis sedang," sambung dr Rubi.

4. Kategori IV

Sedangkan pada kategori terakhir ini terdapat pembatasan moderat, di mana anak nggak boleh berpartisipasi dalam kelas edukasi fisik.

Ini jika ditemukan adanya aortic stenosis yang berat, Atrial Septal Defect (ASD) dan hipertensi pulmonal tingkat sedang hingga berat, patent ductus arteriosus (PDA) dan hipertensi pulmonal juga sedang hingga berat.

"Pulmonary stenosis berat dan ventricular septal defect, hipertensi ukuran sedang hingga berat," lanjut dr Rubi.

(aml/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi