kesehatan

Bunda, Waspadai Maraknya Informasi Sesat Tentang Pengobatan Kanker

Asri Ediyati Kamis, 17 Jan 2019 - 18.34 WIB
Bunda, Waspadai Maraknya Informasi Sesat Tentang Pengobatan Kanker/ Foto: thinkstock Bunda, Waspadai Maraknya Informasi Sesat Tentang Pengobatan Kanker/ Foto: thinkstock
Jakarta - Kanker merupakan penyebab kematian kedua terbesar di dunia. lebih dari 9,6 juta orang di dunia terkena kanker tiap tahunnya. Mirisnya, 70 persen kematian akibat kanker terjadi pada negara berkembang, salah satunya Indonesia. Menurut Dr. dr Chospiadi Irawan Sp.PD KHOM, kanker yang paling sering terjadi yakni kanker payudara, paru-paru, dan colorectum.

"Sebanyak 60-70 persen pasien kanker payudara berada di stadium 3 sampai 4 karena tidak diobati lebih awal. Jika sedari awal bisa sembuh, dan 10 tahun kemudian bakal bebas penyakit," kata dr Chospiadi di jumpa pers menyambut Hari Kanker Sedunia, RSCM Kirana, Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2019).

Di kesempatan yang sama, Prof. Dr. dr. Soehartati A. Gondhowiardjo, Sp.Onk.Rad menambahkan jumah kasus kanker di Indonesia semakin tinggi jika tidak ditangani dengan baik. Prof Hartati mengatakan, salah satu penyebab kenaikan angka pengidap kanker karena banyaknya informasi sesat tentang pengobatan kanker.

Bunda, Waspadai Maraknya Informasi Sesat Tentang Pengobatan KankerBunda, Waspadai Maraknya Informasi Sesat Tentang Pengobatan Kanker/ Foto: Istock
"Masih ada misleading information, alhasi pasien kanker datang terlambat. Ada istilah jaket kanker, queen of cancer, masih banyak lagi. Kalau dilihat dari data BPJS, biayanya (pengobatan kanker) nomor dua setelah sakit jantung," tutur Prof Hartati.

Padahal, menurut Prof Hartati, 43 persen kanker bisa dicegah dengan pola hidup sehat. Untuk itu, harapannya masyarakat awam bisa meningkatkan kesadaran tentang kanker. Bisa dimulai dari deteksi dini, screening hingga membaca standard guidelines yang diterbitkan oleh Kemenkes RI.

"Kami para tenaga medis dan pemerintah sudah menerbitkan practical cancer guidelines. Ada 14 rumah sakit rujukan nasional untuk penanganan kanker. Lalu setiap bulan ada peringatan bulan kanker. Kami mengadakan seminar untuk orang awam supaya menjadi agen perubahan," kata Prof Hartati.

Terkait dengan hari peringatan kanker, Union for International Cancer Control (UICC) telah mencanangkan tanggal 4 Februari tiap tahunnya sebagai Hari Kanker Sedunia, Bun.

Untuk tiga tahun ke depan 2019 - 2021 akan bertema 'I am and I will'. Hal tersebut merupakan wujud komitmen individu, siapa pun kita. Bahwa setiap diri kita punya kekuatan untuk mengurangi dampak kanker pada dirinya, atau orang yang disayangi, juga pada dunia.

(aci/rap)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi