kesehatan

Anak Sering Batuk Pilek, Waspada Infeksi Telinga Tengah

Yuni Ayu Amida Senin, 04 Mar 2019 - 07.02 WIB
Ilustrasi anak batuk pilek/ Foto: iStock Ilustrasi anak batuk pilek/ Foto: iStock
Jakarta - Tahukah Bunda, 466 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran? Ya, 34 juta atau tujuh persen di antaranya adalah anak-anak. Itu sebabnya, kita harus mengenali gangguan pendengaran pada anak sedini mungkin.

Salah satu gangguan telinga pada anak adalah OMA (Otitis Media Akut) atau lebih dikenal infeksi telinga tengah. Menurut dr.Hably Warganegara, Sp.THT-KL, dari RS Pondok Indah (RSPI), OMA disebabkan oleh d PBBbakteri atau virus yang masuk ke telinga. Gejala awalnya telinga terasa penuh, nyeri, dan biasanya diawali batuk pilek.

Penyebab atau faktor risiko OMA di antaranya, batuk pilek yang berulang, makanan yang tidak dijaga, sistem kekebalan tubuh yang rendah, serta pembesaran kelenjar adenoid. Risiko ini lebih sering dialami bayi dan anak.



"Saluran tuba eustachius itu ada di belakang hidung, jadi kalau sering pilek, berpotensi saluran tubanya tertutup. Biasanya, bayi dan anak lebih sering karena saluran tuba eustachius-nya lebih pendek, lebar, dan lurus," jelas Hably, saat ditemui dalam sebuah acara di kawasan Menteng, Jakarta, baru-baru ini.

Hably menambahkan, OMA bisa menyebabkan gendang telinga berlubang. Dikhawatirkan kalau dibiarkan lebih dari dua minggu atau satu bulan, lubangnya bisa permanen dan harus operasi. Jika keluar cairan, harus kontrol ke dokter THT sampai gendang telinga dinyatakan menutup.

Ilustrasi infeksi telinga tengahIlustrasi infeksi telinga tengah/ Foto: iStock
Lebih lanjut, Hably menuturkan kalau penanganan OMA lambat, akan berisiko menjadi OMSK (Otitis Media Supuratif Kronis) atau biasa dikenal congekan. Gejalanya seperti keluar cairan dari telinga lebih dari dua bulan, cairan berwarna kuning dan berbau, serta mengalami gangguan pendengaran.

"OMA itu gejala awal, kelanjutan dari OMA itu congek, dan congek itu udah kronis," terang Hably.

Jika sudah terjadi, maka yang bisa dilakukan adalah kontrol ke dokter spesialis THT, pemberian antibiotik tetes telinga, serta operasi. Itu sebabnya, terapi dini OMA penting karena bila sudah congekan akan berisiko tuli.



Nah, mencegah lebih baik daripada mengobati ya, Bunda. Hably menyarankan untuk melakukan pencegahan terjadinya OMA, antara lain dengan pemberian ASI ekslusif dua tahun, jangan menyusui sambil berbaring, hindari bayi dan anak dari asap rokok, serta biasakan mencuci hidung saat pilek.

Perlu diingat juga, Bun, anak-anak yang sedang batuk pilek tidak disarankan berenang. Hindari juga memukul atau menampar daerah telinga. Kalau anak Bunda mengalami batuk pilek cukup lama, gendang telinga pecah, atau darah keluar dari telinga karena kecelakaan, segeralah bawa ke spesialis THT.

[Gambas:Video 20detik]

(yun/muf)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi