menyusui

Cerita Bunda tentang Donor ASI

Melly Febrida Minggu, 24 Dec 2017 12:04 WIB
Cerita Bunda tentang Donor ASI
Cardiff, Wales - Bunda tentunya punya cerita yang berbeda tentang menyusui. Ada yang berlimpah air susu ibu (ASI)-nya sampai bingung mau diapakan, tapi ada juga malah nggak bisa menyusui meski ingin sekali memberikannya. Inilah yang dialami dua ibu menyusui, Kay Elliot dan Harriet Tutton.

Kay sedang berjuang ekstra keras menyusui putra ketiganya yang bernama Ollie. Sebab puting susunya sakit sekali setiap digunakan untuk menyusui. Mungkin karena nggak nyaman, ASI yang keluar tidak sebanyak yang diharapkan, sehingga ASI yang diasup Ollie kurang mencukupi dan berdampak pada penurunan berat badannya.

"Saya sebelumnya telah menyusui kedua putra pertama saya dan hubungan yang kami sangat fantastis," kata perempuan 32 tahun dari Cardiff itu, seperti dilansir BBC.


Menurut Kay, ia mengalami bekas luka permanen akibat menyusui Ollie. Kay sebelumnya mendapat informasi bahwa beberapa wanita tidak bisa menyusui bayinya. Tapi dirinya yakin, dia bukanlah perempuan yang mengalami kondisi itu. "Karena sebelumnya saya pernah melakukannya," imbuhnya.

Sedangkan Harriet sama sekali nggak punya masalah menyusui. ASInya berlimpah banget, sampai dirinya harus beli dua freezer untuk menyimpan ASI perahnya yang melimpah. Akhirnya Harriet pun mendonorkan ASInya untuk baby Ollie.

Sebenarnya ASI yang didonorkan Harriet tidak melewati skrining kesehatan. Namun Kay tidak mempermasalahkannya. "Saya tahu Harriet, saya pernah ke rumah Harriet, saya tahu dia sangat teliti dalam hal kebersihan," lanjut Kay.

Sekarang Ollie sudah berusia dua tahun dan ASI Kay sudah lebih lancar. Kay memerah ASInya dan memberikan pada putranya dengan menggunakan cangkir. "Menyusui adalah sesuatu yang sangat saya sukai... Mendapatkan ASI donor hanyalah hal lainnya," ucap Kay.

Harriet dan Kay sendiri bertemu di kelompok pendukung menyusui. Bayi Harriet, Luna, tidak bisa latch on ke payudaranya sehingga Harriet harus menggunakan pompa dan memberi ASIP perah dari botol.

"Saya sejak awal sudah mengatakan, selama tiga bulan pertama saya memompa setiap dua jam sekali, kemudian bertambah dan saya harus membeli freezer baru untuk semua susu," terang Harriet.

Karena sudah kehabisan ruang untuk ASI perahnya, Harriet akhirnya meminta saran di media sosial. Ia menanyakan apa yang harus dilakukan dengan susu bekunya. "Saya memakai sebuah kelompok Facebook sehingga saya tidak tahu harus berbuat apa dan seseorang menyarankan agar saya menyumbangkannya, jadi saya kemudian mulai mencari tahu," paparnya.

Harriet tidak menyumbangkan ASInya lewat bank ASI. Alasannya karena di Wales, tempat dia tinggal, tidak ada bank ASI. Ia juga tak melakukan serangkaian skrining sebelum mendonorkan ASI karena menurutnya segala tes yang dilakukan saat hamil sudah jelas, di mana dirinya sehat.

"Ada permintaan yang begitu besar di sekitar saya sehingga seluruh proses itu tidak diperlukan," imbuhnya.

Harriet kemudian mulai menyumbangkan ASI yang disimpan di freezer-nya ke ibu-ibu lain. Ia menyumbangkan secara informal kepada 15 dan 20 bayi, termasuk baby Ollie.

Putri Harriet, Luna, sekarang hampir berusia dua tahun, namun Harriet masih menyumbangkan ASInya kepada bayi lain.

Terkait ASI donor informal yang tidak melewati skrining, Anna Burbidge dari organisasi pendukung menyusui La Leche League berbagi pandangan. Ia memang tidak berada dalam posisi mendukung atau menolak tentang berbagi ASI secara informal. Namun menurutnya, skrining tetap perlu dilakukan.

"Jika seorang ibu merasa perlu susu tambahan, maka bank ASI berlisensi atau bank ASI yang diawasi secara medis adalah alternatif terbaik karena menyediakan susu donor yang dipasteurisasi," katanya.

dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA dari RS Bunda Jakarta beberapa waktu lalu menuturkan kalau mau aman, ASI yang hendak didonorkan harus diskrining. Sebab donor ASI prinsipnya seperti donor darah, karena ASI sifatnya seperti darah hanya saja minus sel darah merah.

dr Tiwi, begitu sapaannya, memang tegas banget soal skrining untuk ASI donor ini, Bun. Soalnya dirinya pernah menghadapi kasus yang berkaitan dengan donor ASI.

"Ada ibu yang anak pertamanya diberi ASI eksklusif. Terus anak keduanya diberi ASI tapi separuh-separuh dengan susu formula, lalu saya bantu ibu itu dengan full ASI dan berhasil. Namun kemudian pada anak kedua terjadi jamuran dan rupanya si bapak mengalami HIV, anak keduanya tertular, sedangkan si ibu tidak tahu kalau suaminya HIV," urainya.

Jadi kalau ibu tersebut mendonorkan ASInya tanpa skrining, tentu bayi yang lain berisiko tertular virus HIV juga kan, Bun. Untuk itu, demi keamanan, sebaiknya kita skrining dulu ASI donor ya.
(Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi