sign up SIGN UP search


menyusui

Dengan Cara Ini Ibu Bisa Menyusui Lagi Setelah Sempat Berhenti

Melly Febrida Kamis, 28 Dec 2017 13:02 WIB
Dengan cara ini, ibu yang sudah berhenti menyusui bisa memberikan lagi ASI-nya. caption
Jakarta - Beberapa ibu menyusui ada yang terpaksa berhenti memberikan air susu ibu (ASI). Nah, kalau sudah berhenti menyusui lagi, apa bisa menyusui lagi?

Jawabannya: bisa. Proses menyusui kembali ini disebut sebagai relaktasi, Bun.

Ada berbagai alasan ibu menyusui yang memutuskan berhenti memberikan ASI sebelum mereka benar-benar siap menyapih bayinya. Misalnya nih terkait dengan produksi susu, masalah latch on bayi, juga terkait depresi pasca melahirkan. Nah, hal-hal itu bisa mengganggu proses pemberian ASI.


Relaktasi sebenarnya merupakan praktik menyusui kembali bayi langsung ke payudara setelah tidak menyusui dalam kurun waktu tertentu. Menurut dr William Sears, dokter anak dan penulis lebih dari 30 buku parenting, menyusui setelah berhenti disebut induced lactation. Walaupun sulit sehingga butuh perjuangan, namun ASI kembali datang sangat mungkin terjadi.

Dalam induced lactation, terang dr Sears, kita bisa menggunakan cara 'menipu; pikiran dan tubuh untuk memproduksi ASI. Langkah pertama, dr Sears menyarankan membayangkan ASI dan si kecil untuk merangsang hormon.

Semakin kita membayangkan si kecil, semakin mudah bagi tubuh untuk menyesuaikan diri. Selanjutnya, kita memerlukan breast pump (sebaiknya pompa ganda kelas rumah sakit yang bisa disewa), dan mulailah memompa ASI setidaknya tiga kali dalam sehari. Dalam beberapa minggu biasanya ASI sudah mulai keluar.

Kalau Bunda pernah menyusui, tapi kemudian berhenti dan bayi jadi terbiasa dengan botol, pasti memunculkan tantangan tersendiri. Harapannya nih, Bun, dengan induced lactation kita bisa menyusui si kecil secara langsung. Makanya untuk mengembalikan si kecil menyusu ke payudara kita butuh kesabaran. Mungkin si kecil akan menolak pada awalnya, tapi jangan patah hati dan patah semangat ya, Bun.



MotherLove.com menyatakan dalam beberapa penelitian mengungkap peran bantuan profesional yang terlatih agar sukses melakukan relaktasi. Peluang keberhasilan relaktasi juga meningkat kalau bayi masih kecil.

Menurut para ahli, proses memulai menyusui setelah berhenti itu ada dua proses. Yakni membangun kembali persediaan susu dan mengajak bayi kembali ke payudara. Karena itulah sistem pendukung yang solid merupakan aspek yang paling penting.

Para ahli juga merekomendasikan untuk sering menyusui dengan pelekatan (latch on) yang baik, memastikan payudara benar-benar dikosongkan, mempersering kontak kulit (skin to skin), memompa ASI dengan rutin demi menjaga pasokan ASI. Nah, kalau merasa perlu mengonsumsi suplemen, kita harus berkonsultasi dulu dengan dokter ya.

Oya Bun, kalau kita sudah bisa kembali menyusui si kecil, jangan lupa memeriksa popok yang dipakai bayi ya. Kita perlu tahu seberapa sering bayi buang air kecil dan bagaimana warnanya untuk melihat tanda kecukupan ASI.

Perhatikan juga buang air besar si bayi ya. Kalau feses berwarna kuning, ini bisa menjadi tanda si kecil sudah mendapatkan cukup ASI.

Bagi Bunda yang berminat menjalani relaktasi, perlu dipahami ya, Bun, bahwa proses ini harus dilakukan secara bertahap. Selain itu, mungkin relaktasi nggak langsung berhasil. Maksudnya ASI nggak langsung banyak dan bayi nggak serta-merta mau menyusu di payudara. Namun jika Bunda dan suami sudah sama-sama berkomitmen, proses relaktasi bisa berjalan dengan lancar.

"Prinsipnya, ketika seorang bayi sudah lama tidak menyusu, tentu akan marah jika disusui tapi nggak ada ASI-nya. Nah, dalam proses relaktasi, hal ini diakali dengan menggunakan selang NGT (Nasogastric Tube) yang diisi ASI perah. Jadi bayi tetap menyusu dari payudara tapi dialirkan ASI perah melalui selang NGT yang disempilkan," ungkap salah satu konselor 'Rumah Menyusui' RS Budi Kemuliaan Jakarta, dr Hikmah Kurniasari, MKM, seperti dikutip dari detikHealth.



dr Hikmah juga mengatakan jarak bayi tak diberikan ASI hingga ibu memutuskan melakukan relaktasi juga menjadi salah satu faktor penting, Bun. Kalau jaraknya sekitar 1 pekan sampai dengan 1 bulan, proses keberhasilannya bisa menjadi lebih cepat. Sebaliknya, jika jaraknya sudah mencapai 3 bulan, mungkin proses keberhasilannya akan menjadi lebih lama. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi