HaiBunda

MENYUSUI

Perhatikan 4 Hal Ini agar Proses Donor ASI Tetap Aman

Amelia Sewaka   |   HaiBunda

Kamis, 16 Aug 2018 14:00 WIB
Perhatikan 4 Hal Ini agar Proses Donor ASI Tetap Aman/ Foto: dok.HaiBunda
Jakarta - Ketika ibu nggak bisa memberi si kecil ASI, beberapa orang tua memilih memberi bayi mereka ASI donor. Namun ingat, pemberian ASI donor pun nggak bisa sembarangan.

Supaya ASI donor yang diberi ke bayi aman, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan agar kita bisa memastikan donor ASI tetap aman dilakukan dan si kecil tetap bisa menerima asupan nutrisi dengan nyaman. Apa saja langkahnya, yuk simak bersama, Bun.


1. Informed Choice
Foto: thinkstock

Ini adalah komponen utama di mana ada berbagai informasi dan poin yang disepakati pihak pendonor dan penerima donor ASI demi menjamin keamanan proses donor ASI.


2. Skrining Donor

Seseorang yang nggak bisa jadi donor ASI yakni yang memiliki masalah kesehatan umum yang buruk, gangguan psikiatri berat, positif terkena HIV atau HTLTV, berisiko terkena HIV, wabah herpes atau lesi sifilis disertai luka terbuka, lecet atau berdarah pada kulit.

"Termasuk orang yang sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi, menjalani terapi radiasi atau scan tiroid dengan menggunakan iodine radioaktif. Dalam pengobatan yang kontraindikasi untuk menyusui dan sedang demam cacar air atau zooster nggak bisa jadi donor ASI," papar dr Bintari Puspasari, SpOG, IBCLC dalam seminar dan workshop 'Kupas Tuntas Relaktasi' di Auditorium RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Ibu yang menggunakan narkoba atau alkohol juga nggak boleh jadi donor ASI. Khusus donor ASI untuk bayi prematur, si ibu donor nggak boleh mengonsumsi alkohol, merokok, meminum suplemen herbal atau megavitamin. Jika jadi donor ASI, ibu pun tak boleh terpaksa.

Calon donor ASI harus mengikuti serangkaian tes rutin termasuk HIV I dan II, Human T-lymphotropic Virus (HTLV), Hepatitis B, Hepatitis C, sifilis dan rubella. Adapun tes cytomegalovirus dan TB dapat dimasukkan sebagai tambahan. Semua ini dilakukan tiap 3-6 bulan.


3. Penanganan ASI Perah yang Aman

Foto: thinkstock

Untuk menghindari kontaminasi yang bisa terjadi jika ada lesi atau luka terbuka di kulit, cuci tangan sebelum memerah dan menyimpan ASI. Pastikan juga tempat ASI perah bersih.

4. Pasteurisasi

Untuk pasteurisasi ada 2 metode, Bun. Pertama, metode Holder yang sering dikerjakan di RS atau bank ASI. Keuntungannya sebagian virus dan bakteri mati. Sedangkan kerugiannya, zat nutrisi dalam ASI rusak atau berkurang dan dapat mengaktifkan spora jamur.

Kedua, flash heating. Metode ini bisa dikerjakan di rumah. Keuntungannya sebagian besar zat nutrisi di ASI masih baik. Tapi kerugiannya, efektivitas membunuh kuman nggak sebaik metode holder. (rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Potret Biby Alraen, Selebgram yang Kini Jadi Manajer Mantan Istri Suaminya

Mom's Life Annisa Karnesyia

Cara Mengenali Orang yang Sangat Logis dari Cara Mereka Berbicara

Mom's Life Amira Salsabila

Dear Bunda, Ajak Aku Ngobrol Sejak di Kandungan Yuk

Kehamilan Tim HaiBunda

Bayi Tengkurap Umur Berapa? Ini Tahapan Ideal & Cara Melatihnya

Parenting Kinan

Sudah USG di Awal Kehamilan, Perlukah Periksa Lagi di Trimester Pertama? Ini Penjelasannya

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Cara Memasak Nasi di Panci agar Tetap Pulen saat Mati Listrik

Penyekap Perempuan di Bandung Dijerat Pasal Berlapis, Kasus Dikawal 9 Jaksa

Dear Bunda, Ajak Aku Ngobrol Sejak di Kandungan Yuk

5 Potret Biby Alraen, Selebgram yang Kini Jadi Manajer Mantan Istri Suaminya

Bayi Tengkurap Umur Berapa? Ini Tahapan Ideal & Cara Melatihnya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK