sign up SIGN UP search


menyusui

5 Kesalahan Menyusui yang Sering Dilakukan Bunda Pemilik Puting Datar

Asri Ediyati Sabtu, 22 Aug 2020 09:12 WIB
Ilustrasi menyusui caption
Jakarta -

Secara alami, puting payudara memiliki variasi bentuk dan ukuran. Perlu Bunda ketahui bahwa pada umumnya, variasi bentuk ini tidak mengganggu kemampuan Bunda untuk menyusui.

Seperti dikatakan dr.Fransisca Handy. SpA dalam bukunya A-Z Perawatan Bayi, puting hanya membantu melekatkan bayi dengan baik pada payudara. Namun, beberapa puting payudara yang datar atau tenggelam akan membuat bayi sulit mengisap saat menyusu.

"Sebagian besar puting datar atau tenggelam tetap memiliki kelenturan jika ditaik oleh tangan ibu atau mulut bayi. Bayi tidak akan mengalami kesulitan selama puting payudara bersifat lentur," tulisnya.


Nah, kelenturan puting meningkat seiring dengan usia kehamilan dan juga setelah persalinan.

Nah, jika Bunda pemilik puting datar atau tenggelam ingin berhasil menyusui tanpa drama, hindari lima kesalahan menyusui berikut ini:

1. Abai dengan perlekatan bayi

Jika Bunda memiliki puting datar atau tenggelam, perlekatan bayi justru menjadi fokus utamanya. Mengutip dari What to Expect, lakukan perlekatan yang dalam. Bantu bayi melakukan perlekatan dengan mendorongnya dengan lembut untuk membuka mulut dengan lebar.

Jangan sampai mengabaikan perlekatan bayi ya, Bunda. Jika tidak, bayi tidak akan kenyang dan puting Bunda justru lecet.

2. Tidak mencoba posisi yang berbeda

Bunda yang memiliki puting datar atau tenggelam perlu mencoba berbagai posisi menyusui yang berbeda. Bereksperimen lah dengan berbagai posisi, seperti football clutch atau cross-cradle hold. Posisi tersebut seringkali dapat mempermudah perlekatan.

3. Tak memompa sebelum menyusui

Mungkin agak sedikit berbeda dengan ibu yang memiliki puting normal. Jika Bunda yang memiliki putig datar atau tenggelam, disarankan untuk memompa selama beberapa detik sebelum menyusui. Hal ini dapat memanjangkan puting.

Jangan mencoba terlalu lama untuk benar-benar mengeluarkan ASI, kecuali jika payudara Bunda sangat membengkak. Pembengkakan inilah yang menyebabkan puting makin rata atau terbalik. Dalam hal ini, Bunda memompa untuk meredakan pembengkakan secukupnya sehingga puting menonjol dan bayi dapat menyusu.

4. Tidak sering melakukan skin-to-skin

Fransisca menyarankan Bunda dan bayi perlu sesering mungkin melakukan kontak kulit dengan kulit alias skin-to-skin. Hal ini untuk memberi kesempatan pada bayi menemukan sendiri cara yang paling nyaman baginya untuk menyusui.

5. Menyerah dan tidak konsultasi dengan konselor atau dokter

Terkadang ada yang menyerah dan menggunakan botol susu atau dot. Fransisca tidak menyarankan ini karena hanya akan menghalangi bayi untuk mampu menyusu.

Sebaiknya, Bunda konsultasikan dengan konselor laktasi atau dokter, mereka bisa membantu Bunda dengan menggunakan alat khusus untuk membuat puting menonjol atau memberikan saran yang mudah untuk Bunda ikuti.

Simak juga cerita Eriska Rein soal drama menyusui dan ASI yang pernah dialaminya:

[Gambas:Video Haibunda]



(aci/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi