sign up SIGN UP search


menyusui

Kenali Gejala dan Pencegahan Abses Payudara pada Ibu Menyusui

Annisa Afani Rabu, 21 Oct 2020 15:34 WIB
Young mother breastfeeding her baby boy in the bedroom. Belgrade, Serbia caption
Jakarta -

Bagi sebagian ibu, menyusui tidak selalu nyaman dilakukan, terutama dalam beberapa minggu pertama menyusui si kecil. Jika ibu menyusui mengalami gejala mirip flu, seperti payudara merah, sakit atau nyeri, kelelahan atau demam, mungkin Bunda mengalami abses payudara.

Abses payudara merupakan benjolan dengan kumpulan nanah yang terbentuk di bawah kulit payudara dan disebabkan oleh infeksi bakteri, Bunda. Ibu menyusui yang mengalami abses akan mengalami beberapa gejala, di antaranya:

  • Flu
  • Payudara kemerahan
  • Merasa lelah
  • Suhu tubuh meningkat hingga demam
  • Produksi susu rendah
  • Area payudara menjadi panas atau hangat
  • Keluarnya cairan dari puting
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah

Meski gejala tersebut mirip seperti mastitis, kedua infeksi ini berbeda ya, Bunda. "Mastitis adalah infeksi di jaringan payudara, tetapi abses adalah kumpulan nanah yang tertutup dinding di payudara," kata Amelia Henning, perawat bersertifikat dan spesialis laktasi di Rumah Sakit Umum Massachusetts, dikutip dari Parents.


Penyebab abses

Mengutip Medical News Today, abses payudara pada ibu menyusui biasanya terjadi karena infeksi dari bakteri Staphylococcus aureus dan Streptokokus, Bunda.

Bakteri tersebut biasanya masuk ke payudara melalui retakan kecil atau kerusakan pada kulit puting. Yang kadang dapat terus berkembang selama masa menyusui.

Selain itu, infeksi juga dapat disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari bakteri yang biasanya tidak berbahaya di dalam saluran susu. Bila pertumbuhan bakteri yang terjadi berlebihan, maka dapat membuat saluran tersumbat.

Perlu diketahui, bahwa saat bakteri memasuki tubuh, sistem kekebalan alami mencoba melawannya dengan mengirimkan sel darah putih ke area yang terkena, Bunda. Nah, saat sel darah putih menyerang bakteri, beberapa jaringan di tempat infeksi tersebut akan mati, sehingga menciptakan kantong kecil yang berlubang.

Kantong ini akan mulai berisi nanah, di dalamnya terkandung jaringan mati, sel darah putih, serta bakteri hingga membentuk abses. Saat infeksi berlanjut, abses bisa membesar dan lebih menyakitkan karena lebih banyak nanah yang diproduksi.

Henning mengatakan bahwa abses payudara bisa didahului oleh mastitis, namun juga bisa disebabkan oleh saluran susu tersumbat yang tidak diobati. Gagal mengosongkan payudara selama sesi menyusui dapat menyebabkan saluran tersumbat, yang pada gilirannya menyebabkan infeksi.

Selain karena adanya penyumbatan, infeksi abses yang muncul tersebut juga dapat terjadi akibat bakteri yang masuk melalui celah di puting susu, serta adanya benda asing masuk ke area tersebut seperti karena tindik puting atau implan payudara.

Pengobatan abses payudara

Abses payudara harusĀ diatasi dengan perawatan dan pengobatan dari dokter. Dokter mungkin perlu mengeluarkan nanah dalam benjolan dengan melakukan penyayatan kecil atau suntikan untuk menyedot dan mengeringkannya.

Mengutip Your.MD, abses kecil bisa dikeringkan dengan menggunakan jarum suntik. Ultrasonografi digunakan untuk memandu jarum ke tempat nanah tersebut. Sementara untuk abses payudara yang lebih besar bisa dibuat sayatan kecil pada abses, sehingga nanah dapat dikeluarkan.

Selama melakukan prosedur pengeringan atau penyedotan nanah, anestesi lokal dilakukan untuk mematikan rasa area kulit di sekitar jaringan payudara yang terinfeksi. Anestesi umum biasanya tidak diperlukan, kecuali abses sangat dalam.

Jika abses yang dikeringkan meninggalkan rongga yang besar, dokter atau perawat kesehatan perlu untuk mengemasnya, untuk membantu penyembuhan lebih cepat.
Selain itu, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik selama 4-7 hari, obat penghilang nyeri dijual bebas seperti asetaminofen atau ibuprofen, atau mungkin menyarankan menggunakan kompres hangat untuk menenangkan peradangan.

"Abses perlu dikeringkan, dan wanita biasanya diberi antibiotik," ungkap Henning.

Pencegahan abses payudara

Sebelum mengalami abses payudara, ada baiknya untuk menghindarinya, Bunda. Ada beberapa cara yang dapat ibu menyusui lakukan untuk mencegah abses. Namun cara terbaik mencegahnya adalah mengosongkan payudara, dengan menyusui bayi atau memompa ASI.

"Sering menyusui dapat mencegah mastitis dan penyumbatan saluran yang dapat menyebabkan abses. Jika memiliki bayi yang baru lahir, Anda harus menyusui setiap 1-3 jam atau 8 kali hingga lebih dalam 24 jam," tutur Henning.

Selain itu, menurut National Health Service (NHS) Inggris, ibu menyusui juga perlu menghindari beberapa hal berikut:

  • Membiarkan payudara berisi penuh untuk waktu yang lama.
  • Ada jeda waktu yang lama di antara sesi menyusui.
  • Memberi tekanan pada payudara, baik dengan jari, atau bra dan pakaian ketat.

Henning mengatakan bahwa wanita yang pernah mengalami mastitis atau abses payudara sebelumnya, akan memiliki risiko lebih besar untuk mengembangkan abses. Selain itu, merokok, kondisi yang membuat kekebalan tubuh terganggu seperti diabetes, dan penyakit autoimun juga lebih berisiko mengalami abses.

Nah, jika Bunda mengalami gejala abses lebih dari 24 jam sebaiknya segera kunjungi dokter dan meminta antibiotik. Bunda harus segera mendapat perawatan apabila mengalami beberapa kondisi berikut ini:

  • Kemungkinan adanya infeksi di kedua payudara.
  • Adanya nanah atau darah dalam ASI.
  • Munculnya garis-garis merah di dekat atau area payudara yang terkena.
  • Gejala yang datang dengan sangat tiba-tiba.
  • Gejala semakin parah.

Bunda, simak juga 9 cara menghindari mastitis dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi