MENYUSUI
Uranium Terdeteksi di ASI para Busui Negara Ini, Ketahui Bahayanya untuk Bayi
Dwi Indah Nurcahyani | HaiBunda
Selasa, 25 Nov 2025 08:30 WIBUranium menjadi salah satu bahan yang berbahaya karena bisa memancarkan energi sendiri atau radioaktif. Parahnya, kandungan uranium terdeteksi di ASI para busui di negara ini. Yuk, cari tahu bahayanya untuk bayi, Bunda.
Uranium merupakan salah satu bahan utama pembuatan bom nuklir dan banyak digunakan di industri yang berhubungan dengan nuklir. Bahan ini merupakan unsur kimia yang dapat memancarkan energi sendiri, termasuk di udara. Karenanya, unsur kimia ini sangat berbahaya untuk didekati terutama oleh manusia mengingat paparan energinya dapat dengan mudah merusak sel pada tubuh manusia.
Selain itu, radiasi dari uranium juga dapat memicu berbagai risiko kesehatan yang membahayakan seperti berbagai penyakit kanker. Meskipun radiasi nuklir secara medis digunakan untuk mengobati dan mendiagnosa penyakit, namun paparan radiasi nuklir yang serius bagi kesehatan tetap perlu dihindari. Selain mengganggu tumbuh kembang pada seseorang, radiasinya bisa memicu kanker, hingga kematian.
Kasus uranium ditemukan dalam ASI
Kasus mengenaskan terkait paparan uranium ditemukan dalam ASI muncul di India. Sebagian besar para ibu menyusui ditemukan bahwa ASI mereka terindikasi paparan uranium khususnya di wilayah Bihar, India dengan 70 persen bayi terpapar risiko tersebut.
Menurut penelitian, paparan uranium jangka panjang berpotensi memengaruhi perkembangan ginjal, pertumbuhan neurologis, kemampuan kognitif, dan kesehatan mental anak, termasuk penurunan IQ atau keterlambatan perkembangan seperti dikutip dari laman Asianews.
Penelitian tersebut dilakukan oleh berbagai peneliti dari beragam institusi. Dalam penelitiannya, mereka memeriksa sampel ASI dari 40 ibu menyusui di berbagai distrik di Bihar. Hasilnya sangatlah mengejutkan di mana setiap sampel mengandung uranium dengan kadar tertinggi tercatat di distrik Katihar dan kontaminasi rata-rata tertinggi di Khagaria.
Dengan adanya kasus tersebut, Bihar memang menghadapi masalah kesehatan tersembunyi yang menarik perhatian para ilmuwan dan pakar kesehatan.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa ASI para ibu di beberapa distrik di negara bagian tersebut mengandung (U-238) dalam kadar yang signifikan dan ini merupakan unsur radioaktif alami. Namun, temuan ini tidak menganjurkan para ibu untuk berhenti menyusui. Temuan ini terus didalami dalam rangka menyoroti potensi risiko pada bayi, terutama jika paparan berlanjut dalam jangka waktu lama.
Dipaparkan Dr. Ashok Sharma, salah satu penulis dari AIIMS Delhi bahwa penelitian kami menemukan uranium di semua 40 sampel ASI. Meskipun 70 persen bayi menunjukkan potensi risiko kesehatan non-karsinogenik, kadar uranium secara keseluruhan masih di bawah batas yang diizinkan. Karena itu, dampak kesehatan yang sebenarnya terhadap ibu dan bayi diperkirakan minimal, katanya.
Bahaya ASI tercemar uranium
Sebenarnya, secara alami kandungan uranium terdapat dalam batuan seperti granit dan dapat meresap ke dalam air tanah seiring waktu. Aktivitas manusia seperti pertambangan, pembakaran batu bara, operasi industri nuklir, dan penggunaan pupuk fosfat dapat meningkatkan keberadaannya di lingkungan. Namun bagi bayi yang masih sangat sensitif, keberadaan uranium sangat rentan untuk mereka karena tubuh mereka belum efisien dalam membuang logam berat ini.
Menurut penelitian, paparan uranium dalam jangka panjang bisa berpotensi memengaruhi perkembangan ginjal, pertumbuhan neurologis, kemampuan kognitif, dan kesehatan mental anak-anak, termasuk penurunan IQ atau keterlambatan perkembangan.
"Meskipun beberapa bayi memiliki nilai hazard quotient (HQ) di atas 1, yang menunjukkan kemungkinan risiko kesehatan, kadar uranium sebenarnya dalam ASI berkisar antara 0 hingga 5,25 mikrogram per liter. Sebagian besar uranium berasal dari urine ibu dan tidak terkonsentrasi dalam ASI,"ungkap Dr Sharma.
Menyusui tetap penting dilakukan
Terlepas dari hasil temuan yang ada, para ahli kesehatan menekankan bahwa menyusui tetap menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi. "Kecuali ada alasan klinis tertentu, ibu harus tetap menyusui. Manfaat ASI jauh lebih besar daripada potensi risiko yang ditimbulkan oleh uranium pada kadar yang kami amati,"tambah Dr. Sharma.
Studi yang menyoroti kandungan uranium dan bahayanya tersebut juga menyerukan penelitian lebih lanjut. "Kami merencanakan investigasi serupa di negara bagian lain untuk memahami keberadaan logam berat dan potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia," ujar Dr. Sharma.
Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi arsenik, timbal, dan merkuri dalam ASI. Diharapkan, penelitian selanjutnya akan meneliti pestisida dan kontaminan lingkungan lainnya.
Bagaimana kontaminasi uranium terjadi di India?
Kasus kontaminasi uranium dalam air tanah telah dilaporkan di 151 distrik di 18 negara bagian di India, dengan sekitar 1,7 persen air tanah Bihar terdampak. Secara global, negara-negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Finlandia, Swedia, Swiss, Inggris, Bangladesh, Tiongkok, Korea, Mongolia, Pakistan, dan wilayah di Delta Mekong bagian hilir telah melaporkan peningkatan kadar uranium dalam sumber air.
Meskipun prevalensinya cukup tinggi, gejala klinis dari paparan uranium yang terlihat belum diamati secara konsisten. Meskipun demikian, para peneliti sepakat bahwa pemantauan lebih lanjut sangat penting.
Sebagai panduan kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, menetapkan batas sementara konsentrasi uranium dalam air minum yang dianggap aman yakni sebanyak 30 mikrogram per liter untuk uranium dalam air minum. Sementara di beberapa negara, termasuk Jerman, memiliki standar yang lebih ketat, yaitu 10 mikrogram per liter.
Meskipun sudah diberikan standar batas aman, paparan uranium tetap perlu diwaspadai ke depannya mengingat bahaya risiko kesehatan yang ada pun mengintai. Tetap semangat mengASIhi ya, Bunda. Semoga informasinya membantu.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Selain dari Warna Areola, Ini 7 Ciri Payudara yang Normal dan Sehat
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Cara agar ASI Mengandung Lebih Banyak Lemak agar Berat Badan Si Kecil Bertambah
Pecahkan Rekor Dunia, Bunda Ini Jadi Donatur ASI Terbanyak Hampir 1.600 Liter
Viral Bayi Usia Satu Hari Diberi Air Putih, Ini Kata Dokter
Bayi Baru Lahir Bisa Bertahan 3 Hari Tanpa Minum ASI, Mitos atau Fakta?
TERPOPULER
Nussa Rara Sempat Jadi Kartun Favorit Anak Lalu Menghilang, Pendiri Animasi Ungkap Masalah di Balik Layar
Tanda Anak Mengalami Child Grooming dan Alasan Mereka Tidak Melawan
Resep Dubai Chewy Cookies yang Viral dan Di-recook Yoona SNSD
Ciri-ciri Orang Iri Sama Kita, Ini 7 Kalimat yang Sering Diucapkan Mereka
11 Ide Kado Bayi Baru Lahir Anti Mubazir & Bermanfaat
REKOMENDASI PRODUK
3 Tips Jaga Pencernaan Anak saat Bepergian
Tim HaiBundaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Muted Lip Tint, Pas untuk Makeup Look Lembut
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomedasi Susu Program Hamil untuk Dukung Keberhasilan Promil
Dwi Indah NurcahyaniREKOMENDASI PRODUK
Review Eomma Head to Toe Happiness, Sampo & Sabun Mandi untuk Perawatan Bayi
Firli NabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lipstik Warna Muted, Ada Pilihan Bunda?
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Komik Superman Ini Laku Terjual Rp240 Miliar, Keistimewaannya Bikin Heboh
7 Kebiasaan Orang Kurang Menarik yang Terbentuk Sejak Kecil
Kenali Executive Function untuk Mengembangkan Kecerdasan Anak Versi Harvard University
Reimburs Uang Belanja ke Ayah Be Like...
Resep Dubai Chewy Cookies yang Viral dan Di-recook Yoona SNSD
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Video: Ayah Lesti Kejora Bersyukur Bakal Punya Cucu Perempuan Lagi
-
Beautynesia
7 Kecerdasan yang Diam-Diam Dimiliki Seorang Capricorn, Termasuk Kamu?
-
Female Daily
Hidden Gem Alert! Ini 5 Brand Makeup Korea Underrated yang Dipakai K-Pop Idol
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Kusuka Gelar Intimate Concert di M Bloc, Hadirkan Nadin Amizah
-
Mommies Daily
Buta Warna pada Anak: Ciri, Penyebab, dan Peran Orang Tua sejak Dini