MENYUSUI
Penyebab Sebagian Ibu Sulit Produksi ASI setelah Melahirkan
Dwi Indah Nurcahyani | HaiBunda
Selasa, 26 May 2026 09:10 WIBAir susu ibu (ASI) seharusnya bisa langsung mengalir pasca persalinan pada setiap ibu. Namun, ada juga sebagian ibu yang mengalami kendala terkait hal tersebut. Simak penyebab ada ibu yang tubuhnya tak produksi ASI setelah melahirkan yuk.
Bayi memang seharusnya dapat langsung menikmati aliran ASI ibunya usai persalinan. Sayangnya, kondisi impian para ibu menyusui itu tak selalu bisa berjalan lancar mengingat ada saja ibu yang mengalami kendala seperti tidak bisa memproduksi ASI usai persalinan.
Faktor penyebab tubuh ibu sulit hasilkan ASI setelah melahirkan
Mengutip dari laman Punchng, para ahli kesehatan ibu yang berpengalaman mengatakan bahwa keterlambatan produksi ASI yang terjadi ketika ibu tidak mampu menghasilkan ASI yang cukup dalam waktu 72 jam setelah melahirkan umum terjadi. Terutama pada ibu yang baru pertama kali melahirkan, perempuan yang obesitas, menderita diabetes, hipertensi, dan memiliki gangguan hormonal atau kondisi tiroid, yang semuanya berisiko mengalami kondisi tersebut.
Dalam temuannya, para ahli juga mencatat kalau ibu hamil yang menjalani operasi caesar, mengalami perdarahan hebat, retensi plasenta, nutrisi yang buruk, dan paparan stres fisik atau emosional dapat mengalami keterlambatan produksi ASI setelah melahirkan.
Para ahli kandungan dan kebidanan menyatakan bahwa antara 20 dan 30 persen perempuan mengalami kondisi tersebut. Dari temuan tersebut, ditemukan bahwa kurangnya pelekatan bayi pada payudara sebagai penyebab lainnya.
Kondisi tersebut, sambung para ahli merupakan kondisi yang serius karena dapat membuat bayi baru lahir mengalami dehidrasi dan gula darah rendah, yang menyebabkan penurunan berat badan dan memicu kejang serta penyakit kuning jika tidak ditangani dengan benar.
Tips agar ASI lancar segera setelah melahirkan
Para ginekolog mendesak ibu hamil untuk mengikuti kelas antenatal, memberi tahu dokter tentang kondisi medis yang mendasarinya, dan memastikan perawatan yang tepat sebelum persalinan. Mereka juga mendorong para ibu untuk makan dan minum dengan baik setelah melahirkan, dan memastikan bayi menempel dengan benar pada payudara.
Pejuang ASI atau para ibu menyusui juga dianjurkan untuk memberikan ASI sedini mungkin, melakukan kontak kulit ke kulit segera setelah melahirkan di mana dapat membantu merangsang produksi ASI, serta meletakkan bayi dalam posisi yang tepat.
Menurut Johns Hopkins Medicine, dalam dua hingga lima hari pertama setelah melahirkan, kolostrum, yaitu ASI awal yang kental dan kaya nutrisi, diharapkan akan keluar, dan sekitar tiga hingga lima hari kemudian, ASI akan keluar.
Mereka juga mencatat bahwa pasokan ASI bergantung pada prinsip banyaknya permintaan. Mereka juga menambahkan bahwa cara terbaik untuk memiliki pasokan ASI yang baik adalah dengan menyusui bayi secara sering dan sesuai permintaan.
Ibu yang berisiko sulit produksi ASI setelah melahirkan
Dr Olanrewaju Jimoh, seorang Konsultan Obstetri dan Ginekologi dithe Federal Medical Centre, Abeokuta, Ogun State, menjelaskan bahwa keterlambatan laktasi lebih umum terjadi pada:
- Ibu yang baru pertama kali melahirkan
- Perempuan yang menjalani operasi caesar
- Durasi persalinan yang lama
- Kelahiran prematur
- Retensi plasenta
- Perdarahan hebat setelah melahirkan.
Ia mengatakan, “Biasanya, produksi ASI yang melimpah diharapkan sudah dimulai pada hari ketiga setelah melahirkan. Atau jika tidak terjadi, kondisi tersebut dikenal sebagai keterlambatan produksi ASI atau keterlambatan laktasi.
“Untuk ibu yang baru pertama kali melahirkan, risiko mengalami keterlambatan laktasi sekitar 20 hingga 25 persen. Sementara itu, pada populasi ibu secara umum, mungkin risikonya sekitar 10 hingga 15 persen. Dan risiko pada ibu yang baru pertama kali melahirkan umumnya berisiko lebih tinggi.”
Lebih lanjut, Jimmi mengatakan bahwa hormon oksitosin bertanggung jawab atas produksi ASI dan kurangnya stimulasi hormon tersebut dapat menyebabkan keterlambatan produksi ASI.
Dengan adanya risiko persalinan yang berkepanjangan, perdarahan pasca persalinan, retensi plasenta, dehidrasi, obesitas, merokok, gangguan tiroid, dan diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan keterlambatan laktasi. Selain itu, ia mencatat bahwa kehilangan darah yang parah dapat memengaruhi kelenjar pituitari di otak, yang bertanggung jawab untuk memproduksi hormon yang memicu produksi ASI.
“Perdarahan pasca persalinan, baik melalui operasi caesar maupun persalinan normal, menempatkan ibu pada risiko keterlambatan laktasi. Ada sesuatu yang disebut sindrom Sheehan. Perdarahan hebat dapat menyebabkan gangguan pada kelenjar pituitari di otak, dan itu akan memengaruhi produksi hormon yang menyebabkan keluarnya ASI,” katanya.
Pakar lainnya yakni ahli kesuburan mengatakan kalau laktasi atau keluarnya ASI akan dimulai setelah plasenta dikeluarkan. "Jadi, dengan plasenta yang terlambat atau tertahan, hal itu juga dapat menyebabkan keterlambatan dimulainya laktasi.”
Ia mencatat bahwa dehidrasi, nutrisi yang buruk, dan obat-obatan tertentu dapat memperburuk kondisi tersebut. Selain itu, stres setelah melahirkan, terutama di kalangan ibu baru yang seringkali kurang mendapat dukungan keluarga yang memadai juga turut memperbesar risiko tersebut.
“Di lingkungan kita, ibu yang baru melahirkanlah yang menyusui dan masih harus memasak untuk tamu, mencuci pakaian, dan melakukan hal-hal lain. Ibu baru harus diizinkan untuk beristirahat, tidur nyenyak, dan terhidrasi dengan baik,” katanya.
Selain masalah tersebut, teknik menyusui yang buruk juga menjadi salah satu penyebab lainnya. Permasalahan perlekatan yang tidak baik, puting dan areola masuk ke dalam mulut dengan tidak baik turut memperburuk proses menyusui yang nantinya tidak bisa berjalan efektif yang turut berimbas pada pengeluaran ASI yang memburuk.
“Jika itu tidak dilakukan dengan benar, mungkin dari ibu yang kurang berpengalaman, maka pengeluaran ASI akan sangat buruk, dan itu akan dianggap sebagai keterlambatan onset laktasi,” katanya.
Risiko bila bayi tak kunjung mendapat ASI
Oh iya, Bunda. berbicara tentang konsekuensi bayi baru lahir, Jimoh mengatakan bahwa bayi akan mulai kehilangan berat badan karena ASI tidak keluar. Bayi dapat kehilangan hingga 10 persen dari berat lahirnya. Kadar gula dalam darah bayi akan mulai menurun dan menyebabkan hipoglikemia.
"Jika hipoglikemia tidak dikoreksi, bayi dapat mulai kejang atau mengalami serangan epilepsi. Bayi menjadi sangat lesu dan sangat lemah, popok akan sangat kering serta penyakit kuning dapat muncul karenanya. Dengan begitu, banyak masalah lain yang dapat ditimbulkan oleh penyakit kuning di kemudian hari,” katanya.
Dokter kandungan tersebut, sambungnya, mengatakan bahwa para ibu perlu segera mencari pertolongan pada kondisi-kondisi tertentu yang dianggap sinyal emergency. Terutama jika pada hari ketiga setelah melahirkan, bayi mereka menghasilkan kurang dari tiga popok basah dalam sehari, atau kurang dari enam pada hari kelima, atau jika bayi telah kehilangan lebih dari 10 persen dari berat lahirnya, atau jika anak menunjukkan tanda-tanda kelemahan, penyakit kuning, atau kejang.
Jimoh juga meminta para dokter untuk memberikan konseling kepada para ibu yang dijadwalkan menjalani operasi caesar tentang kemungkinan keterlambatan produksi ASI. Kepada para ibu yang menjalani caesar perlu dijelaskan bahwa mereka yang siap jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menyerah pada kecemasan dan stres yang selanjutnya menunda dimulainya laktasi.
“Jika seseorang tidak mendapat informasi yang cukup, orang tersebut akan cemas, stres, dan produksi ASI akan memburuk. Sementara, jika orang tersebut telah diberi konseling dengan benar sebelumnya, maka orang tersebut akan terbiasa dan mencari solusi daripada khawatir dan menyebabkan stres lebih lanjut,” katanya.
Demikian penjelasan mengenai penyebab ada ibu yang tubuhnya tak produksi ASI setelah melahirkan. Tetap semangat, Bunda. Setiap tetes ASI adalah bentuk kasih sayang terbaik untuk Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Payudara Ketiga Muncul Usai Melahirkan?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Ternyata Genetik Bisa Memengaruhi Produksi ASI Bunda
Ternyata ada Jam Tertentu Tubuh Hasilkan Lebih Banyak ASI Lho, Waktu Pas untuk Pumping Nih
Penyebab Produksi ASI Menurun dan Cara Mengatasinya
Bun, Ini 7 Rekomendasi Makanan untuk Ibu Menyusui
TERPOPULER
Rayakan Wedding Anniversary, Intip Potret Mesra Melody Prima dan Suami
Deretan Artis Putuskan Egg Freezing, Terbaru Sabrina Chairunnisa
7 Cara Mendidik Anak agar Tak Tergantikan AI di Masa Depan Menurut Pakar
Penyebab Sebagian Ibu Sulit Produksi ASI setelah Melahirkan
6 Ciri Kepribadian yang Dimiliki Orang yang Dianggap Keren Menurut Penelitian
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Browcara untuk Alis Natural Tapi Tetap Terbentuk Sempurna
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Merek Pakaian Dalam Ibu Hamil Terbaik untuk Kenyamanan Maksimal
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Panci Granit Terbaik dengan Desain Elegan dan Modern
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panggangan Arang hingga Portable
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Baju Kondangan Ibu Hamil yang Simple, Modern & Kekinian
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Rayakan Wedding Anniversary, Intip Potret Mesra Melody Prima dan Suami
7 Cara Mendidik Anak agar Tak Tergantikan AI di Masa Depan Menurut Pakar
Penyebab Sebagian Ibu Sulit Produksi ASI setelah Melahirkan
Deretan Artis Putuskan Egg Freezing, Terbaru Sabrina Chairunnisa
10 Drama China Terbaru 2026, Terbaik Diprediksi Raih Rating Tinggi
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Warren Buffet Ungkap 8 Prinsip Hidup yang Bikin Cepat Kaya
-
Beautynesia
8 Rekomendasi Film Rom-Com yang Karakternya Penulis, Seru Ditonton Bareng Bestie!
-
Female Daily
Gingersnaps Hadirkan Inspirasi Styling Anak Lewat Koleksi ‘Field of Daydreams’!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Audi Marissa Ultah ke-31, Rayakan Bareng Sahabat Hingga Pemotretan Sendiri
-
Mommies Daily
Gaji Nggak Naik? Ini 7 Cara Tetap Bahagia di Tempat Kerja Tanpa Harus Resign